Blok-a.com – Isu Perang Dunia 3 baru-baru ini menguat sejak Iran membalas serangan Israel pada Sabtu (13/4/2024). Tensi dunia makin naik akibat Israel membalas Iran pada Jumat (19/4/2024).
Pakar Intelijen sekaligus CEO Sibylline Justin Crump menjelaskan tanda-tanda terjadinya Perang Dunia 3 akibat konflik yang melibatkan beberapa negara. Seperti yang kita ketahui, konflik yang terjadi di Ukraina, Timur Tengah, hingga berbagai kawasan di Afrika dan Asia.
Perang antara Rusia dan Ukraina yang terjadi lalu, meningkatkan ketegangan di wilayah Arab seperti konflik Israel dan Palestina.
Tiga hal berikut akan menjelaskan alasan Perang Dunia 3 Semakin dekat:
1. NATO di Ukraina
Amerika Serikat, Jerman, dan negara-negara lain yang tergabung dalam anggota aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) rajin memasok senjata ke Ukraina.
Selain itu, mereka juga mengirimkan anti-tank serta jet tempur F-16 yang membuat Rusia geram.
Rusia menganggap NATO memicu perang dunia ketiga, melalui Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvevedev menjelaskan,
“Barat benar-benar gila(mereka) tak bisa memikirkan hal lain. Kenyataannya, jalan itu buntu. Perang Dunia Ketiga lebih dekat,” jelasnya.
Diketahui bahwa jet tempur F-16 ini setara dengan ancaman nuklir karena jet ini memiliki kemampuan membawa senjata atom.
2. Konflik China-Taiwan
Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa 16 kapal perang China memasuki perairan pulau itu pada 14-15 Juli tahun lalu.
Isu invasi China ke Taiwan makin menguat karena China kerap menggelar simulasi perang dekat perairan Taiwan.
3. Konflik di Semenanjung Korea
Pada tahun 2020, situs pertahanan National Interest menyatakan bahwa Korea Utara akan memicu perang dunia ketiga.
Hal itu dapat terjadi karena jika Korea Utara mengalami kekosongan kekuasaan, maka hal tersebut bisa memicu AS dan China terlibat konflik militer langsung.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana memaparkan mengenai potensi Perang Dunia III dan bagaimana peran Indonesia. Ia berharap Indonesia harus tetap netral serta terus mengupayakan perdamaian khususnya dalam konflik Iran-Israel.
Selain itu, diharapkan Indonesia tetap menggunakan salah satu pasal dalam Piagam PBB, yaitu pasal 2(3) yang berisi bahwa semua anggota PBB harus menyelesaikan perselisihan internasional dengan cara damai sehingga perdamaian, keamanan, serta keadilan internasional tidak terancam.
“Jadi jangan berpihak pada satu kekuatan. Indonesia juga harus melakukan shuttle diplomacy (diplomasi ulang-alik). Menteri Luar Negeri RI harus pergi ke Amerika Serikat, Inggris, Yordania, serta Iran untuk mencari cara atau hal-hal apa saja yang dapat dilakukan Indonesia untuk menciptakan perdamaian,” jelasnya.
Menurutnya, Perang Dunia III sudah ada di depan mata. Hal ini lantaran konflik Iran-Israel yang akhir-akhir ini saling serang hingga menimbulkan ketegangan dunia. Kedepannya, konflik Iran-Israel akan berdampak pada krisis ekonomi, krisis pangan, hingga krisis rantai pasokan.
Bukan tidak mungkin jika Israel akan mendapat kecaman hingga pemboikotan di berbagai negara.
Analisa lain datang dari Direktur Crisis Research Institute Universitas Oxford Mark Almond yang menjelaskan bahwa konflik Iran-Israel yang semakin memanas akan menimbulkan Perang Dunia III.
Menurut Mark, perang urat syaraf telah terjadi di antara Iran dan negara barat. Menurut informasi, hal itu terlihat ketika Iran menjuluki AS “setan besar” dan Inggris “setan kecil”. Iran memberikan julukan tersebut antara dua negara besar tersebut adalah dalang di balik kejahatan Israel di Gaza.
Melansir CNN Indonesia, Iran-Israel kini sudah saling menyerang, akibatnya para pakar melihat eskalasi konflik yang lebih luas. Bahkan, Lembaga Think Tank Foundation for Peace Professionals atau Peace Pro menilai Perang Dunia III akan terjadi setelah Iran melakukan serangan balasan ke Israel lalu.
Banyak yang menilai bahwa PBB telah gagal untuk melakukan intervensi sehingga PBB dianggap telah kehilangan kendali atas sistem perdamaian global.
Respons Pemimpin Dunia Atas Konflik Iran-Israel
Mendapat perhatian publik, konflik Iran-Israel membuat para pemimpin dunia mengeluarkan berbagai pendapat.
Pendapat dari pemimpin dunia ini seolah terbelah, karena ada beberapa pemimpin negara yang mendesak agar Iran menahan diri. Serta ada pula yang menyebut bahwa Iran telah melakukan hal yang tepat bagi Israel karena dianggap telah melanggar hukum internasional.
Pertama, Perwakilan Tinggi Uni Eropa Josep Borrel menyatakan kutukan keras atas serangan Iran kepada israel.
“Ini adalah eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga dapat disebut sebagai ancaman besar terhadap keamanan regional,” jelasnya di akun X.
Kedua, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina menyarankan agar semua pihak tenang serta fokus untuk memadamkan konflik tersebut.
“Cina menyerukan kepada pihak-pihak terkait agar tetap tenang dan menahan diri untuk menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut,” jelas perwakilan Cina tersebut.
Ketiga, Presiden Amerika Serikat Joe Biden tetap menegaskan dukungannya kepada Israel.
“Kami berkomitmen bahwa keamanan Israel atas ancaman dari Iran dan proksinya sangat kuat,” ungkap Biden.
Keempat, Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan bahwa tindakan Iran sudah bisa ditebak, ia juga menjelaskan sinyal Perang Dunia III akibat konflik ini.
“Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel serta genosida telah menyulut dunia. Andai saja Israel memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk menghentikan kegilaan penguasa seperti mereka,” jelas Gustavo Petro.
Kelima, Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan keprihatinannya serta mengimbau agar semua yang terlibat mengendalikan diri secara maksimal. Sampai saat ini, Mesir terus berupaya menghubungi semua pihak untuk mencari solusi yang dapat mengatasi konflik ini.
Keenam, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut serangan Iran sebagai konsekuensi dari Israel yang melanggar hukum internasional dengan menyerang konsulat Iran pada 1 April 2024.
“Perang antara Iran dan Israel yang dimulai setelah pemerintah Zionis Israel menyerang kedutaan Iran yang melanggar hukum internasional adalah konsekuensi dari tindakan seseorang. Ketika Anda melanggar hukum, Anda mengundang reaksi,” tutur Anwar.
Dampak Jika Perang Dunia III Pecah
1. Menurunnya Produktivitas Masyarakat
Perang dapat mengakibatkan rusaknya perindustrian serta penurunan produktivitas masyarakat karena sumber daya manusia yang meninggal akibat perang.
2. Melemahnya Daya Beli Masyarakat
Kondisi perang membuat banyak masyarakat yang tidak bekerja dan tidak dapat memperoleh uang.
Akibatnya, masyarakat tidak bisa membeli barang kebutuhan sehari-hari, kegiatan ekonomi tidak berputar, dan stok barang menumpuk.
3. Mengalami Resesi dan Depresi Ekonomi
Jika perang tak kunjung usai, maka suatu negara akan mengalami resesi. Resesi merupakan kondisi di mana roda perekonomian negara semakin melemah.
Selain resesi, depresi ekonomi juga akan muncul. Depresi ekonomi merupakan suatu kondisi saat aktivitas ekonomi turun drastis dan berkepanjangan. Contoh depresi ekonomi adalah pengangguran, kriminalitas, hingga krisis pangan. (mg4/lio)
Penulis: Amelia Puspa Ningrum (Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura)









