Berawal dari Keluhan Warga, Inovasi Slurry Seal PUPR Magetan Raih Juara I INODA Award 2026

Kepala Dinas PUPR Magetan, Muhtar Wakid, S.ST., MT. (foto: istimewa)
Kepala Dinas PUPR Magetan, Muhtar Wakid, S.ST., MT. (foto: istimewa)

Magetan, blok-a.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan terus mendorong inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan infrastruktur jalan. Salah satunya melalui inovasi alat slurry seal yang dikembangkan oleh Bidang Bina Marga dengan memanfaatkan mesin bekas.

Inovasi tersebut berhasil meraih Juara Terbaik I INODA Award 2026. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas upaya PUPR Magetan menghadirkan teknologi tepat guna yang dinilai mampu mendukung pemeliharaan jalan secara lebih efektif dan efisien.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Magetan, Muhtar Wakid, S.ST., M.T., mengatakan inovasi tersebut merupakan hasil dari kreativitas dan pengembangan yang dilakukan oleh Bidang Bina Marga. Khususnya dalam mencari solusi terhadap persoalan yang ditemui dalam pekerjaan pemeliharaan jalan di lapangan.

“Ini merupakan inovasi dari teman-teman di Bidang Bina Marga. Berawal dari kondisi di lapangan dan masukan masyarakat, kemudian dikembangkan menjadi sebuah alat slurry seal yang diharapkan bisa memberikan hasil pemeliharaan jalan yang lebih baik,” ujar Muhtar, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, masukan masyarakat menjadi salah satu bahan evaluasi penting bagi PUPR. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih adanya pasir dan debu yang tertinggal setelah proses pemeliharaan jalan dengan metode konvensional.

“Masukan dari masyarakat tentu menjadi perhatian kami. Jangan sampai pekerjaan pemeliharaan jalan justru menimbulkan persoalan baru, seperti debu atau pasir yang mengganggu pengguna jalan. Karena itu, teman-teman di Bidang Bina Marga mencoba mencari alternatif dan mengembangkan inovasi ini,” jelasnya.

Dalam pengembangannya, Bidang Bina Marga memanfaatkan mesin bekas milik Bidang Sumber Daya Air yang kemudian dimodifikasi menjadi mixing plant slurry seal dengan penggerak mesin diesel.

Muhtar menilai pemanfaatan mesin bekas tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki pemerintah daerah.

“Yang menarik dari inovasi ini adalah bagaimana peralatan yang sebelumnya sudah tidak digunakan secara optimal bisa dimanfaatkan kembali dan dikembangkan sesuai kebutuhan. Jadi tidak selalu harus membeli peralatan baru dengan biaya besar,” terangnya.

Metode slurry seal sendiri diperuntukkan bagi pemeliharaan permukaan jalan, terutama untuk menjaga kondisi jalan agar tetap layak digunakan sekaligus memperpanjang umur layanan permukaan jalan.

Namun, Muhtar menegaskan teknologi tersebut bukan ditujukan untuk menangani seluruh jenis kerusakan jalan.

“Slurry seal ini lebih kepada pemeliharaan permukaan. Kalau kondisi jalannya sudah mengalami kerusakan berat atau terdapat lubang, tentu harus dilakukan penanganan terlebih dahulu, misalnya melalui patching. Setelah kondisinya siap, barulah pemeliharaan permukaan bisa dilakukan,” katanya.

Ke depan, PUPR Magetan berharap inovasi yang dikembangkan Bidang Bina Marga tersebut dapat terus disempurnakan dan tidak berhenti hanya pada pencapaian penghargaan.

“Harapan kami, inovasi ini benar-benar bisa diterapkan dan memberikan manfaat. Setelah melalui pengujian dan penyempurnaan, kalau hasilnya efektif, tentu bisa dikembangkan dan direplikasi untuk mendukung pekerjaan pemeliharaan jalan di wilayah Magetan,” ungkap Muhtar.

Selain aspek teknis, inovasi tersebut juga menawarkan efisiensi dari sisi pembiayaan. Pengembangan alat dengan memanfaatkan mesin diesel bekas membutuhkan anggaran sekitar Rp35 juta, sementara apabila seluruh komponennya menggunakan peralatan baru, biaya yang dibutuhkan diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp75 juta.

Menurut Muhtar, efisiensi tersebut menjadi salah satu nilai tambah dari inovasi yang dikembangkan Bidang Bina Marga.

“Efisiensi tentu menjadi salah satu pertimbangan. Dengan memanfaatkan mesin yang masih bisa digunakan dan dikembangkan, kita bisa menekan biaya sekaligus menghasilkan alat yang disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan,” tuturnya.

Diraihnya Juara Terbaik I INODA Award 2026 menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari kebutuhan di lapangan dapat berkembang menjadi solusi yang memiliki nilai manfaat lebih luas.

Muhtar menegaskan penghargaan tersebut bukan merupakan tujuan akhir. PUPR Magetan akan terus mendorong jajaran, khususnya Bidang Bina Marga, untuk mengembangkan inovasi yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik.

“Penghargaan ini tentu menjadi kebanggaan bagi PUPR Magetan, khususnya Bidang Bina Marga. Tetapi yang paling penting bukan sekadar mendapatkan penghargaan. Inovasi ini harus terus dikembangkan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, baik dari sisi kualitas pekerjaan, kenyamanan pengguna jalan maupun efisiensi anggaran,” pungkasnya. (nan/adv)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Jurnalis Blok-a.com yang berfokus pada liputan investigatif mengenai tata kelola pemerintahan, transparansi anggaran, pertambangan, kebijakan publik, dan pelayanan masyarakat serta aktif dalam mengawal isu-isu strategis di wilayah Madiun Raya.