KOTA BATU – Terkait adanya diklat pencak silat yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pagar Nusa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang di Kota Batu, Wakil Ketua Pagar Nusa Kota Batu M Musyrifin Puja Reksa Budaya mengaku pihaknya tak tahu menahu terkait kegiatan tersebut. Padahal setiap kali ada kegiatan Pagar Nusa di Kota Batu selalu berkomunikasi dengannya.
“Mereka tidak pernah bersilaturahmi kepada kami. Bahkan kepada pihak kampus pun mereka juga tidak,” kata Musyrifin, Rabu (10/3).
Seperti diketahui, kegiatan yang dilakukan UKM pencak silat Pagar Nusa UIN Malang yang digelar di Wana Wisata Coban Rais, Oro-oro Ombo pada Sabtu (6/3) lalu berujung maut. Dua peserta kegiatan diklat dinyatakan meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke Puskesmas dan Rumah sakit.
Menurut Musyrifin, panitia kegiatan tidak memberi tahu pelaksaaan diklat kepada PCNU Pagar Nusa Kota Malang maupun PCNU Pagar Nusa Kota Batu. Sehingga pihaknya tidak tahu menahu secara pasti pelaksaaan kegiatan diklat tersebut dilakukan di mana saja dan berapa orang.
“Kami mohon maaf tidak bisa memberikan tanggapan apapun karena tidak tahu menahu. Tiba-tiba dihubungi Polres ada kejadian seperti itu,” imbuh Musyrifin.
Meskipun begitu, pihaknya juga sempat melakukan pendampingan kepada korban sesaat setelah dihubungi pihak kepolisian. Bahkan juga bertemu keluarga korban di Rumah Sakit Karsa Husada.
“Setelah ditelfon polisi itu kami langsung mendatangi rumah sakit, kami dampingi. Bagaimana pun mereka juga pendekar kami. Kami bertemu keluarganya juga. Namun kalau terkait kegiatan diklat mohon maaf kami tidak tahu sama sekali. Panitia tidak pernah bersilaturahmi dengan kami untuk membicarakan kegiatan,” bebernya.
Untuk itu pihaknya pun akan melakukan evaluasi yang akan digelar dalam bentuk pertemuan pengurus Pagar Nusa se-Malang Raya. Nantinya dari hasil pertemuan akan disampaikan ke pengurus rayon, ranting dan PAC.
Nantinya dalam pertemuan yang akan digelar, menekankan salah satu poin perlunya penguatan koordinasi. Baik dalam event kecil maupun besar. Untuk mengantisipasi peristiwa serupa terulang.
“Mohon dikabari meski tak tertulis, jangan asal nyelonong. Ketika ada sesuatu musibah siapa yang tanggung jawab kalau tidak ada pemberitahuan,” imbuh dia.
Di sisi lain, Musyrifin menjelaskan, metode pelatihan tidak bisa disamaratakan. Hal ini disesuaikan pada setiap tahapan yang akan dilalui para peserta didik. Dan pelatih memiliki peran vital untuk menentukan metode latihan disesuaikan dengan kemampuan peserta didik.
“Maka metode latihan harus disesuaikan berdasarkan tingkatannya. Tata pelaksanaannya pasti berbeda. Usia peserta pun juga menentukan metode latihan. Tapi yang jelas untuk usia mahasiswa tidak normal kalau latihan fisik sampai 10 jam,” timpal dia.










Balas