Budaya Inovasi Ciptakan Kemandirian Bangsa »

Sinergi Pembangunan Riset yang Kontributif dan Berdaya Saing » Prasetya UB
Universitas Brawijaya | Building Up Noble Future

Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Aulani’am

Budaya inovasi membangun karakter bangsa yang mandiri. Ungkapan itu terus diucapkan Prof.Dr. Aulanni’am, drh.DES selaku Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya sekaligus bertindak sebagi pemateri webinar dalam rangka Peringatan Hari Teknologi Nasional 2020.

Webinar diikuti sekitar 520 peserta dengan mengusung tema “Peran Pemerintah dan Industri dalam Meningkatkan Produk Inovasi Anak Bangsa melalui Translational Research”, Selasa (10/11/2020).

Pada kesempatan ini, Profesor Bidang Biokimia  ini membawakan materi mengenai riset dan inovasi yang dimiliki UB.

“Riset menjadi motor utama menghasilkan invensi dan inovasi yang pada akhirnya berdampak terhadap peningkatan daya saing bangsa. Untuk menggandeng para peneliti agar produk bisa dinikmati oleh masyarakat, riset harus bermutu, industri siap menampung karya-karya anak bangsa, dan bersama-sama kita mendukung peluncuran produk-produk anak bangsa,”kata Aulanni’am memulai materinya.

Secara umum untuk menghasilkan produk inovasi yang tepat dan bermanfaat, peneliti harus bersinergi dengan pihak lain dalam hal ini dapat dikatakan ABG (Academics, Business, and Government) dan ABGC (Academics, Business, Government, and Community).

Lebih lanjut Aul menjelaskan, rencana strategis UB di tahun 2020-2024 menggunakan inovasi sebagai nilai dasar strategi pengembangan riset.

“Kali ini renstra UB menempatkan inovasi menjadi salah satu target dan isu utama. Oleh karenanya, pengembangan inovasi harus dilakukan secara komprehensif dan berorientasi pada pemecahan masalah masyarakat,” imbuhnya.

UB membuka kesempatan dan pintu lebar bagi dosen, mahasiswa, dan staff untuk menghasilkan inovasi didukung dengan kebijakan lembaga, manajemen organisasi dan sistem yang berlaku di UB.

Dan di dalam pencapaiannya ada tahapan yang harus dilalui peneliti yang disingkat dengan satu kata “GIRAFFE (Governance, Inovation, Reputation, Alumni, Faculty, Fund, Efficiency). Ketujuh kata tersebut berhasil membangun UB menjadi universitas bereputasi di kancah nasional maupun internasional.

Selain itu, UB dapat meluncurkan, merealisasikan dan mengharmonisasikan industri  karena adanya organisasi dan manajemen inovasi yang dikelola dengan baik.

Manajemen inovasi UB diawali dengan tahap scientific discovery, selanjutnya dibuatlah invensi dan inovasi, dan tahap terakhir ialah technology application (pengaplikasian teknologi).

Pengembangan inovasi di UB tidak lepas dari dukungan lembaga besar UB. Dalam hal ini peneliti dibantu oleh LPPM, Sentra Haki, Research Group, Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha, dan unit bisnis untuk mengembangkan produknya. Sentra Haki UB membantu peneliti mendapatkan invensi/patent yang dilindungi negara.

Saat ini UB memiliki empat produk inovasi. Pertama, UB Feed atau pakan ternak. Produk ini telah dipasarkan luas melalui marketplace dan mampu meningkatkan hasil dari ternak ayam baik pedaging maupun petelor.

Produk kedua adalah Purple Sweet Corn, yaitu produk persilangan berbagai varietas jagung yang bertujuan untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan hasil panen.

Produk ini telah dikontrak oleh Kementrian Pertanian sebagai sumber benih jangung hibrida. Selanjutnya produk yang berhasil diproduksi dan dipasarkan secara massal adalah Vacuum Frying dan Alkes Biosains Rapid Test GAD65.

Diakhir materinya, Aulanni’am berbagi pengalaman menciptakan inovasi produk berbasis biomarker.

Aulanni’am berkata, ia sudah menghasilkan inovasi produk berbasis biomarker. Berkolaborasi dengan LPDP dan PT Biofarma ia membuat produk baru untuk deteksi dini Autoimmune Thyroid Disease melalui rapid test berbasisThyroid Peroxidase (TPO) dan Thyroid Stimulating Hormone Receptor (TSHR) untuk peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil.

Biomarker ia pilih karena bisa digunakan untuk mengontrol atau mengetahui awal terjadinya panyakit atau kontrol kontaminan produk yang telah diolah. Sementara itu, alasan memilih rapid test ialah karena risetnya lebih mudah dilakukan, mudah mendapatkan sampel, dan dapat dimodifikasi.

Ia menambahkan, biomarker dapat dikatakan ideal apabila memenuhi beberapa indikator antara lain terlihat berkorelasi dengan perkembangan progress penyakit atau produk pangan, dapat diukur secara kuantitatif dalam sampel klinis, serta bernilai ekonomis tinggi, cepat, dan akurat.

“Yang terpenting inovasi dan invensi yang kita lakukan dikenal orang. Sehingga masyarakat bisa membaca produk ini bagus atau tidak, hal itu mempermudah kita untuk berhamonisasi dengan industri,” tandasnya. (VIK/Humas UB)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com