Ayah Asal Kota Malang ini Sebut Putrinya Terlihat Cantik dan Bersinar Sebelum Tutup Umur di Tragedi Kanjuruhan

Tragedi Kelam Kanjuruhan SMK 4 Malang Astrid Kukuh Pemkot Malang Sutiaji
Keluarga Korban Tragedi Kelam Kanjuruhan asal Kota Malang, Astrid Nafisa (16) memegang potret Astrid di rumah duka, Selasa (11/10/2022) (blok-A/Putu Ayu Pratama S)

Kota Malang, blok-A.com – Tragedi Kelam Kanjuruhan hingga kini masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban Astrid Nafisa (16). Hingga kini orang tua korban masih syok. Mereka tidak menyangka anak pertamanya menjadi salah satu korban Tragedi Kelam Kanjuruhan, Selasa (11/10/2022).

Astrid siswi SMKN 4 kota Malang menjadi satu dari 131 korban Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 silam. Ayah korban, Kukuh Arif Subagio (51) masih merasa syok hingga sekarang namun ia mengaku sudah mengikhlaskan putri sulungnya.

Saat ditemui blok-A.com di rumah dukanya, Kukuh masih tampak berduka, air matanya tak henti hentinya menetes saat menceritakan bagaimana anak sulungnya hendak pergi menonton sepakbola terakhir kalinya.

Kukuh menceritakan, Astrid kala itu berangkat berlima bersama saudara saudarnya. Namun, dari kelima orang itu kini hanya dua yang selamat, tiga sisanya meninggal dunia.

“Anak saya berangkat berlima, yang tiga mampir kesini semua. Ngumpulnya di sini mereka juga saya beritahu disini ya di ruang tamu ini, mereka pulang juga di tempat ini tapi pulang tinggal namanya saja mbak,” tutur Kukuh dengan terbatah-batah.

Air matanya belum kering hingga hari ke-10 kepergian anaknya, ia masih tak menyangka anak perempuan satu satunya kini telah tiada.

Astrid dikenal sosok paling ceria di rumah. Setelah kepergiannya, kini Kukuh merasa rumahnya sepi. Adik dari Astrid pun mengaku kesepian setelah ditinggalkan kakak tersayangnya.

“Dia anaknya ceria sangat ceria, usil kalau sama adiknya. Rumah rame mbak biasanya sekarang sepi adiknya juga ngerasa sepi sekarang. Kalau mau kemana mana dia tuh heboh sendiri gini gitu mondar mandir,” jelasnya.

Namun berbeda, saat hendak menonton pertandingan kemarin. Kukuh meceritakan sebelum Astrid berangkat, ia memergoki Astrid sedang salat di kamarnya. Tidak seperti biasanya, kata Kukuh.

“Pas mau berangkat kan magrib, anak anak tak suruh sholat dulu mbak. Yang dua ngelak gak mau sholat, tapi saya lihat Astrid di dalam kamarnya, dia sholat itu lama banget gak kayak biasanya ada seperempat jam lebih,” terangnya.

Hingga sang Ayah menunggunya di depan pintu kamarnya. Lalu saat pintu terbuka sang Ayah kaget, ia melihat putrinya nampak berbeda tak seperti biasanya. Astrid tampak cantik, wajahnya bersinar. Ia pun mengatakan sempat menggoda anak perempuannya itu.

“Terlihat cantik, sampai saya goda kok ayu nduk, tapi dia diem aja. Gak kayak biasanya yang setiap saya doga dia selalu ceriwis,” katanya.

Setelah Astrid berpamitan kepada mamanya, Kukuh pun tak dipamiti. Ia mengatakan hanya di pandang dari kejauhan.

“Saya gak dipamiti mbak, dia hanya menghadap ke saya itu pun gak ngomng apa apa diem,” tuturnya, isak tangis pun kembali terlihat di wajah Kukuh saat mengatakan hal tersebut.

Setelah berjalannya waktu, Kukuh yang sedang berjualan di depan Rumah Sakit Panti Nirmala mendapati seorang suporter aremania yang sedang berboncengan masuk ke dalam Rumah Sakit Panti Nirmala, hingga beberapa grombolan mengikuti di belakangnya.

Ia pun masih tenang. Namun beberapa saat kemudian beberapa suporter pun kembali mendatangi rumah sakit. Ia pun dengan cepat membereskan gerobak jualannya dan pergi untuk pulang memastikan Astrid sudah di rumah.

Sesampainya di rumah ia pun lega, karena mendapati motor anaknya di rumah, karena cerita awal Astrid berangkat berlima. Namun, sayangnya Astrid terpisah dan motornya dibawa oleh sepupunya yang pulang duluan.

Saat sesampainya di rumah, ia memastikan anaknya sudah di kamar.Hasilnya saat dicek di kamar ia pun tak menemui anaknya, kamarnya kosong. Ia pun membangunkan istrinya, dan menanyakan dimana keberadaannya anaknya. Sayangnya istrinya pun tak menjawab, hanya mengatakan Astrid belum pulang hingga pukul 00.00 malam dini hari.

Kepanikan mulai timbul, pasalnya saat ia hendak pulang ke rumahnya, Kukuh mengetahui informasi jika di Kanjuruhan terjadi kericuhan.

Ia pun bergegas pergi untuk mencari anaknya bersama saudara, sekitar pukul 2 pagi. Sebelumnya, Kukuh mencoba menghubungi Astrid namun handphone hanya memanggil hingga beberapa kali.

Hingga akhirnya ia pun kembali mencari Astrid hingga ke beberapa rumah sakit. Hingga akhirnya, korban pun di temukan di Rumah Sakit Teja Husada.

“Sebelum sampai rumah sakit Teja Husada saya papasan sama ambulans, saya langsung feeling itu Astrid saya pun langsung gini (lemas) di motor itu hampir mau jatuh,” terangnya.

Sesampainya di rumah sakit, ia pun menuju tempat jenazah di kumpulkan. Ia pun membuka satu persatu kantung jenazah.

“Saya dikasih tau ini jenazah perempuan, pas saya buka itu langsung anak saya Astrid, saya gak sadar langsung mbak,” ungkapnya.

Setelah Kukuh tersadar, ia pun kembali mencari keberadaan kedua keponakannya. Namun naas, satu diantaranya di temukan di rumah sakit yang sama dan meninggal. Satu yang lainnya di temukan di rumah sakit Wafa.

“Berangkat berlima, yang tiga tidak ada. Yang Astrid dan Haykal di rumah sakit Teja Husada, Haykal ketemu di Wafa,” terangnya.

Dari informasi yang ada, Haykal berdomisili di Tulungagung sedangkan Irsyad berdomiaili di Jombang. Keduanya pun dimakamkan di rumah dukanya masing masing.

Kukuh pun menceritkan keadaan anaknya saat ditemukan di rumah sakit, ia mengatakan anaknya ditemukan dengan keadaan yang bersih. Namun setelah dimandikan ia pun baru mengetahui jenazah anaknya berlumuran darah.

“Matanya menghitam, itu pasti bekas air mata. Pas keluar darah dari hidung telinga itu gak berhenti mbak itu pasti gagar otak berat, kakinya kayaknya tergelincir karena begkak yang sebelah kiri,” ungkapnya.

Ia mengaku anaknya memiliki jiwa tanggung jawab yang besar, dengan mengemban amanah dari Om dan Pak dhe nya, Astrid berhasil berangkat bertiga dan pulang bertiga meskipun ketiganya pulang tinggal nama.

“Saya bangga, anak saya berangkat bersama pulang juga bersama. Akhirnya ia pun juga pulang bersama mbak tapi tinggal nama,” tuturnya.

Keadaan Keluarga Astrid saat Ini dan Bantuan Psikologis Pemkot Malang

Kediaman Astrid kini berbeda. Tak ada tawa dan senyum seperti sebelum tanggal 1 Oktober 2022. Di ruang tamu yang penuh dengan piala itu, Kukuh hanya terdiam dan masih tersisa air mata di matanya saat mengenang Astrid.

Kenangan itu pun kadang membuat Kukuh masih susah tidur dan makan. Kukuh masih ingat betul terakhir kali dia melihat wajah putrinya yang cantik dan bersinar sebelum Tragedi Kelam Kanjuruhan terjadi.

“Ya beginilah mbak sekarang. Saya mencoba ikhlas,” ujarnya.

Bantuan pun sudah banyak berdatangan kepada dirinya dan keluarga. Mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah dan manajemen Arema FC.

Kondisi seperti yang dialami Kukuh ini juga dialami sejumlah keluarga korban dan korban luka Tragedi Kelam Kanjuruhan asal Kota Malang.



Untuk itu, Wali Kota Malang, Sutiaji langsung turun lapangan untuk menemui keluarga korban. Sutiaji memberi penguatan keluarga korban Kanjuruhan dan pastikan bantuan dari pusat tersalurkan untuk keluarga korban tragedi Kanjuruhan, Selasa (11/10/2022).

Seperti yang diketaui, korban jiwa tragedi Kanjuruhan yang berasal dari Kota Malang hingga saat ini terdata sebanyak 33 korban jiwa, dan belasan diantaranya masih menjalani perawatan di berbagai rumah sakit Kota Malang.

Pemkot Malang pun menyediakan posko pusat, terdapat beberapa crisis center di antaranya di kantor Dinas Kesehatan. Di sana, Pemkot Malang menyediakan pendampingan khusus trauma healing untuk korban Kanjuruhan yang membutuhkan penanganan psikolog.

Hal tersebut pun disampaikan langsung oleh Sutiaji pada saat mengunjungi rumah duka.

“Kehadiran kami mengajak dari teman-teman Dinas Kesehatan, OPD serta dari teman-teman (relawan) Trauma Healing yang perlu ada pendampingan psikologi,” tutur Sutiaji saat ditemui di salah satu rumah duka.

Tim trauma healing yang dibentuk Dinas Kesehatan tersebut berpusat di posko Pusat Pemkot. Tidak hanya itu, Pemkot melalui Dinkes serta Tim Trauma Healing pun akan melakukan home visit untuk korban yang membutuhkan penanganan khusus.

Sutiaji menyampaikan akan terus melakukan pemantauan secara berkala terkait psikolog keluarga korban Kanjuruhan, tidak hanya untuk keluarga dari 33 korban jiwa. Namun juga untuk keluarga serta korban yang sedang mengalami perawatan.

“Kemarin itu bukan hanya korban saja, tetapi ini menyasar terus dan yang sudah ada sekitar 16-17 orang, termasuk kunjungan ke yang sakit,” ungkapnya.

Sutiaji Menggali Informasi Kondisi Korban Pasca Tragedi Kelam Kanjuruhan

Pada kunjungannya hari ini , Sutiaji sempat menggali informasi. Ia menemukan korban yang memerlukan penanganan psikolog, hal tersebut akan disampaikan pada crisis center untuk penanganan lebih lanjut.

“Kami akan data, selain berbelasungkawa, memberikan penguatan kepada keluarga korban, juga barangkali ada yang belum sampai ke krisis center kami bisa mendatangi langsung ke korban,” paparnya.

Dari kunjungannya, Sutiaji mengatakan beberapa keluarga menceritakan bagaimana awal mula korban berangkat hingga akhirnya pulang tinggal nama. Suatiji pun menuturkan terkait trauma healing. Menurutnya penanganan psikolog sangat dibutuhkan terlebih untuk keluarga dan korban yang sedang menjalani perawatan.

“Keluarga kehilangan, selalu ingat, berangkatnya dalam kondisi sehat pulang kok sudah tinggal nama. Siapa pun pasti memikirkan itu, kita kuatkan jika sewaktu-waktu ada keluhan. Karena sakit psikolog itu lebih susah ditangani dari sakit medis,” tambahnya.

Terkait bantuan, Sutiaji mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dari Pemkot untuk ahli waris. Maksut dari kunjungannya juga untuk memastikan bantuan dari pusat tersalurkan dengan tepat.

“Kemarin kan sudah dari kami (Pemkot), bukan masalah nominalnya. Ini adalah bentuk dari kami sambil menginventarisir bantuan-bantuan dari presiden, gubernur, kemensos, bank jatim itu nyampek atau belum,” imbuhnya.

Pemkot Malang hingga saat ini masih mengusahakan yang terbaik untuk keluarga korban. Meskipun hal tersebut tidak mampu mengembalikan nyawa korban, kata Sutiaji, hal tersebut merupakan bentuk empati dari pemerintah untuk korban Tragedi Kelam Kanjuruhan.

“Insyaallah ada lagi, kami terus berusaha untuk meringankan beban, walaupun ini mohon maaf tidak dapat menukar nyawa saudara kita. Tapi ini bentuk empati dari pemerintah,” pungkasnya. (ptu/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?