Caption : Nur Saguanto (20), salah satu korban selamat tragedi kanjuruhan memperlihatkan rontgen pergelangan kaki yang mulai membaik (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)
Caption : Nur Saguanto (20), salah satu korban selamat tragedi kanjuruhan memperlihatkan rontgen pergelangan kaki yang mulai membaik (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)

Awetnya Amarah dan Kecewa Aan Jelang Satu Tahun Tragedi Kanjuruhan

Kabupaten Malang, Blok-a.comHampir satu tahun berlalu, korban luka-luka pada Tragedi Kanjuruhan masih mengalami kesulitan mendapat lapangan pekerjaan.

Hal tersebut dialami oleh Nur Saguanto (20), warga Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Pasca tragedi yang sempat menyusahkan langkah kakinya itu, kini kondisinya berangsur membaik. Mata yang kala itu memerah dan pergelangan kaki yang sempat retak akibat tragedi kelam 1 Oktober, kini mulai pulih.

Aan sapaan akrabnya, memerlukan waktu yang cukup panjang untuk pulih dari kondisi terpuruknya itu.

Hampir 10 bulan lamanya, ia harus mondar-mandir melakukan terapi pada tulang dan melakukan pengobatan rutin pada matanya.

Meskipun demikian, rasa nyeri akibat retakan di kaki sebelah kirinya itu seringkali terasa saat badannya mulai kelelahan dengan udara dingin sekalipun.

“Awalnya retak bagian engkel kaki, tapi sekarang sudah baikan. Dulu bulan ke delapan, masih agak ngilu kalau waktu hawa dingin, sering kram juga,” ujarnya saat ditemui Blok-a.com di kediamannya, Jumat (29/9/2023).

Selain harus melakukan terapi, waktu yang tak singkat itu juga ia pergunakan untuk menghapus rasa trauma yang masih sering menghampiri. Seperti, jika melihat Stadion Kanjuruhan yang kebetulan tak berjarak jauh dari kediamannya trauma itu kerap datang.

Aan sering kali merasa marah, kecewa, hingga tak percaya ada ratusan nyawa yang harus melayang akibat tragedi kelam kala itu.

Bahkan, ia mengaku hingga hampir satu tahun Tragedi Kanjuruhan ini, tak pernah mengijakkan kaki di atas tanah stadion yang menjadi saksi bisu 135 orang meninggal.

“Terakhir saya menginjak kanjuruhan waktu itu ada salah satu menteri datang, saya di undang. Setelah itu, saya hanya melihat dari kejauhan saat melintas,” katanya.

Untuk menghilangkan rasa trauma, anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku sering melakukan riding keluar kota.

Support dan dukungan dari keluarga, juga teman-teman sebayanya juga menjadi penguatnya hingga sejauh ini.

“Selain saya suka bola, saya suka riding. Menghilangkan trauma biasanya pergi riding ke kota-kota lain, menjauhi malang. Disupport juga sama temen-teman alhamdulillah,” ungkapnya haru.

Selain mengusahakan menghilangkan trauma yang kerap datang, saat ini ia juga tengah sibuk mencari lapangan pekerjaan.

Namun sejauh ini, lagi-lagi ia ditolak dari pekerjaan yang ia incar.

Tak lama ini, kata Aan, ia sempat melamar di salah satu perusahaan rokok yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Akan tetapi, nasib mujur belum berpihak padanya. Ia menjadi satu-satunya kandidat yang tertolak setelah melakukan interview.

“Saya tiga kali melamar, satu kali sampai interview. Tapi ya itu tadi, sampai sekarang gak ada panggilan lagi,” ujarnya.

Ia pun kembali termenung, dan tertekan. ia merasa tidak memiliki kepercayaan yang utuh bagi perusahaan yang diincar.

Lagi-lagi ia menyalahkan diri sendiri akibat tragedi kelam 1 Oktober kala itu.

“Mungkin karena saya korban tragedi kanjuruhan, mangkanya saya gak diterima. Mungkin mereka menganggapnya saya gak mampu karena sempat cidera,” urainya lirih.

Kendati demikian, semangatnya tak pernah luntur untuk mengusahakan masa depannya. Untuk mengisi waktu luangnya, ia kini membantu sang ayahnya untuk pergi ke ladang.

“Sementara ini saya bantu bapak ke sawah, pelan-pelan latihan biar tulang juga kuat. Setidaknya ada aktivitas sembari menunggu panggilan kerja,” pungkasnya. (ptu/bob)