Soal Kasus Bunuh Diri di Malang, Psikolog Ingatkan Pentingnya Dukungan Sosial yang Tepat

Ilustrasi pencegahan bunuh diri.(Freepik)
Ilustrasi pencegahan bunuh diri.(Freepik)

Kota Malang, blok-a.com – Kasus dugaan bunuh diri yang kembali terjadi di Kota Malang menyisakan duka dan sekaligus menimbulkan pertanyaan mendalam terkait penyebab seseorang memilih mengakhiri hidupnya.

Menanggapi hal ini, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Fuji Astutik, menyampaikan bahwa penyebab bunuh diri tidak bisa disederhanakan hanya karena satu faktor seperti patah hati atau depresi.

Menurutnya, tindakan tersebut biasanya merupakan hasil dari akumulasi berbagai persoalan hidup yang tidak terselesaikan, diperparah dengan minimnya dukungan dari lingkungan sekitar.

“Penyebabnya biasanya multifaktor, tidak bisa serta-merta disimpulkan, oh karena dia patah hati, karena depresi. Bisa jadi akumulasi persoalan hidup yang tidak bisa diselesaikan, kurangnya support system, atau bahkan tidak ada sama sekali, baik dari orang tua, keluarga, maupun pertemanan,” jelas Fuji saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (12/4/2025).

Ia menambahkan bahwa dukungan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami tekanan mental juga harus sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak tepat, dukungan tersebut bisa jadi tidak memberikan dampak yang diharapkan.

“Karena terkadang ada orang yang mendukung tapi tidak sesuai dengan kebutuhannya. Jadi bukan soal ada atau tidak ada, tapi seberapa tepat dukungan itu diberikan,” lanjutnya.

Terkait dengan kasus yang melibatkan mahasiswa, Fuji menilai bahwa masa transisi yang dialami mahasiswa merupakan fase yang rentan secara psikologis. Dalam fase ini, individu dituntut dari berbagai sisi, mulai dari akademik, sosial, hingga ekonomi.

“Mahasiswa itu sedang berada di masa kritis, masa transisi menuju dunia nyata. Mereka mulai dituntut dari berbagai sisi pendidikan, sosial, ekonomi. Dan ekspektasi yang dibangun sendiri pun kadang menjadi beban,” ujarnya.

Meski demikian, Fuji menegaskan bahwa kerentanan terhadap gangguan mental tidak terbatas pada kelompok tertentu.

Masalah kesehatan mental bisa dialami siapa saja, tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, maupun status sosial.

“Pendidikan seharusnya membuat seseorang memiliki banyak opsi dalam menyelesaikan masalah. Tapi persoalan bunuh diri bukan soal bisa mikir atau enggak, ini soal mental. Orang bisa saja pintar, tapi kalau mentalnya tidak kuat, tidak punya keterampilan menyelesaikan masalah, tidak ada yang mendukung, ya sama saja,” katanya.

Sebagai bentuk pencegahan, Fuji menyarankan agar lingkungan terdekat, terutama teman, dapat menjadi pendengar yang baik dan tidak bersikap menghakimi.

Ia juga menekankan pentingnya mendorong individu yang mengalami tekanan mental untuk mencari bantuan profesional.

“Sekarang pertemanan itu bisa di dunia maya, bukan cuma dunia nyata. Kalau tidak mampu mendengarkan curhat, ya sarankan ke tempat profesional seperti puskesmas, layanan konseling, atau rumah sakit yang punya psikiater,” ungkapnya.

“Temani semampunya. Kadang yang dibutuhkan cuma didengar, bukan dihakimi atau dibandingkan,” tutupnya. (yog/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com