Sidang Kasus Penggelapan BBM, Saksi Sebut Terdakwa Ambil Uang di PT BL dan BOL

bbm meratus
Suasana sidang yang menghadirkan Dirut PT Meratus Line, Slamet Raharjo di PN Surabaya, Rabu (18/1/2023). (doc. Meratus Line)

Surabaya, blok-a.com Sidang lanjutan perkara penggelapan jutaan kilo liter BBM di kapal-kapal perusahaan pelayaran PT Meratus Line, yang melibatkan 17 terdakwa dilanjutkan hari ini, di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (19/1/2023) siang.

Ketujuhbelas terdakwa itu mayoritas pegawai perusahaan pemasok yakni PT Bahana Line (BL) dan PT Bahana Ocean Line (BOL), serta pegawai internal pengguna, yakni PT Meratus Line.

Dua perusahaan tersebut saling terafiliasi, dan merupakan pemasok BBM jenis solar untuk kapal-kapal milik PT Meratus Line.

Sebelumnya, dalam sidang lanjutan di PN Surabaya, Senin (16/1/2023) kemarin, Direktur Utama PT Meratus Line Slamet Rahardjo menguak modus terdakwa.

Dia menjelaskan, berawal dari pengakuan salah satu terdakwa Edi Setyawan bahwa uang penjualan BBM hasil penggelapan itu diambilnya di Kantor PT Bahana Line.

“Pengakuan Edi Setyawan, dia pernah ambil uang penjualan BBM hasil praktik penggelapan ini di kantor PT Bahana Line,” ujar Slamet, di hadapan Ketua Majelis Hakim Sutrisno itu.

Praktik penggelapan BBM solar jenis MFO dan HSD itu diduga berlangsung selama 7 tahun mulai 2015 hingga Januari 2022. Manajemen PT Meratus Line mencurigai praktik tersebut setelah menerima informasi dari whistle blower yang ditindaklanjuti dengan audit.

Perusahaan menghitung jumlah konsumsi solar kapal berdasar jarak tempuh.

“Hasilnya, ditemukan selisih 550 kilo liter solar hanya selama 1-23 Januari 2022. Jika total kerugian sejak Mei 2015 hingga Januari 2022 terhitung senilai Rp501 miliar,” jelasnya.

Edi Setyawan adalah karyawan outsourcing, di BAP saat diperiksa di kepolisian mengakui mendapat Rp600 juta dalam sebulan dari penjualan BBM hasil penggelapan itu dan beberapa kali pengambilan uang dilakukan di kantor pemasok BBM.

Slamet menambahkan, praktik penggelapan itu menyangkut BBM dalam jumlah sangat besar sehingga para pelaku membutuhkan pihak lain yang berperan sebagai penadah.

Pihak penadah tidak hanya memiliki dana yang besar namun juga infrastruktur dan kemampuan untuk menjual kembali BBM hasil penggelapan itu.

Bergulirnya kasus penggelapan pasokan BBM ini berawal dari laporan PT Meratus Line ke Polda Jatim pada Februari 2022 lalu.

Pihak kepolisian selanjutnya menetapkan 17 orang sebagai tersangka yang saat ini berstatus sebagai terdakwa.

Mereka adalah Sugeng Gunadi, Nanang Sugiyanto, Herlianto, Abdul Rofik, Supriyadi, Heri Cahyono, Edi Setyawan, Eko Islindayanto, Nur Habib Thohir, Edial Nanang Setyawan, dan Anggoro Putro.

Selain itu Erwinsyah Urbanus, David Ellis Sinaga, Dody Teguh Perkasa, Dwi Handoko Lelono, Mohammad Halik, dan Sukardi. Mereka diproses dalam berkas dakwaan terpisah.

Menanggapi kesaksian Slamet Rahardjo, Ketua Majelis Hakim Sutrisno justru meminta untuk tidak melanjutkan keterangan yang mengindikasikan keterlibatan pihak lain dalam praktik penggelapan BBM dalam jumlah yang sangat besar itu.

“Ini kan urusan antar oknum karyawan dan proses antar perusahaan kan tidak ada masalah,” kata Sutrisno.

Ironisnya, keterangan saksi-saksi dari PT Meratus Line termasuk Slamet Rahardjo tidak mendapatkan dukungan dari pihak jaksa penuntut umum (JPU), Ribut dan Uwais.

Padahal Slamet maupun saksi-saksi lain berusaha memberikan keterangan yang lebih komprehensif yang dapat mengungkap tindak kejahatan yang tidak mungkin dilakukan hanya oleh oknum-oknum karyawan.(kim/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?