Sadikin Rusli Jadi Tersangka Baru Kasus Korupsi BTS 4G Kominfo

Kejagung menangkap dan menetapkan saksi atas nama Sadikin Rusli menjadi tersangka korupsi proyek pembangunan BTS 4G Kominfo. (Pusat Penerangan Hukum Kejagung RI)
Kejagung menangkap dan menetapkan saksi atas nama Sadikin Rusli menjadi tersangka korupsi proyek pembangunan BTS 4G Kominfo. (Pusat Penerangan Hukum Kejagung RI)

Jakarta, blok-a.com – Kejaksaan Agung Republik Indonesia mengumumkan penetapan seorang saksi, Sadikin Rusli (SR), sebagai tersangka baru dalam kasus tindak pidana korupsi terkait penyediaan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2020-2022.

SR ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi permufakatan jahat gratifikasi atau tindak pidana pencucian uang yang berkaitan dengan kasus korupsi proyek BTS 4G Kominfo.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Ketut Sumedana, Minggu (15/10/2023), mengungkapkan bahwa penetapan status SR dari saksi menjadi tersangka berdasarkan Surat Penetapan Tersangka Nomor: TAP-54/F.2/Fd.2/10/2023, yang dikeluarkan pada 15 Oktober 2023.

Ketut Sumedana menjelaskan bahwa penetapan tersangka ini terjadi setelah penyidik menangkap SR di kediamannya di Surabaya pada Sabtu (14/10/2023).

Selain penangkapan, penyidik juga melakukan penggeledahan di kediaman SR di Manyar Kertoarjo 8/85 RT 4/RW 11, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur, pada pukul 10.00 WIB.

SR kemudian diamankan dan diperiksa di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sebelum dibawa ke Jakarta guna pemeriksaan lebih lanjut di Gedung Bundar Jampidsus Kejaksaan Agung.

Dari hasil pemeriksaan, penyidik menemukan bukti dan fakta yang mengarah kepada dugaan permufakatan jahat, sehingga SR ditetapkan sebagai tersangka.

Setelah penetapan tersebut, dan setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, SR langsung ditahan di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejaksaan Agung selama 20 hari ke depan.

SR diduga melanggar hukum dengan melakukan permufakatan jahat untuk memberi atau menerima gratifikasi, yang melibatkan dana sejumlah Rp 40 miliar, yang diduga merupakan hasil tindak pidana oleh pihak lain.

“(Uang itu) yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dari Tersangka IH, melalui Tersangka WP,” jelas Ketut.

Sementara itu, pasal yang disangkakakan dalam kasus ini adalah Pasal 15 atau Pasal 12B atau Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Nama Sadikin Terseret

Sebelumnya, nama Sadikin Rusli muncul dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) melalui kesaksian saksi mahkota dan terdakwa, Windi Purnama, yang melibatkan eks Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate; Direktur Utama Bakti Kominfo, Anang Achmad Latif; dan eks Tenaga Ahli Human Development (Hudev) Universitas Indonesia (UI), Yohan Suryanto.

Dalam kesaksiannya, Windi mengungkapkan bahwa terdapat aliran dana terkait dengan proyek BTS 4G Kominfo yang terhubung dengan SR.

Windi juga menyebutkan bahwa ia mendapatkan nomor telepon SR dari Anang Achmad Latif. Selama sidang, Windi mengungkapkan pertanyaannya kepada Anang mengenai uang sebesar Rp 40 miliar yang diduga ditujukan kepada SR.

Meskipun nominal tersebut tidak langsung diungkapkan oleh Windi, ia menjelaskan bahwa pertanyaannya kepada Anang adalah mengenai penerimaan uang sebesar Rp 40 miliar itu dan untuk kepentingan siapa.

“Itu saya tanya ‘Untuk siapa, untuk BPK’ Yang Mulia,” kata Windi menirukan komunikasinya dengan Anang.

Pemeriksaan terhadap SR membuka babak baru dalam kasus yang sedang berlangsung dan menandakan perkembangan penting dalam penyelidikan terkait dengan dugaan korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah ini.(lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?