Potret Seniman Jalanan Kayutangan Heritage di Tengah Gemerlap Pengunjung

Nasib Seniman Jalanan Kayutangan di Tengah Gemerlap Heritage
Seniman Jalanan di Kayutangan Heritage, Ghenk Zhu (Blok-a/Zul)

Malang, blok-a.com – Di tengah geliat wisata Kayutangan Heritage yang terus tumbuh di Kota Malang, ada sisi lain yang jarang tersorot ialah seniman-seniman jalanan yang tetap setia mempertahankan idealismenya di tengah lalu-lalang wisatawan dan hiruk pikuk kota.

Di antara deretan toko tua dan lampu-lampu kuning yang menyala saat malam tiba, ada satu sudut kecil yang selalu terisi oleh lembaran kanvas, kuas, dan warna tempat seorang pelukis bernama  Ghenk Zhu menggantungkan harapan.

Sudah bertahun-tahun ia hidup bersama lukisan-lukisannya. Di Koridor Kayutangan Heritage, ia baru menetap sekitar tiga tahun terakhir, namun dunia melukis telah menjadi bagian dari hidupnya sejak dua dekade silam.

Ketekunannya bukan semata soal mencari penghidupan, tetapi lebih pada usaha menjaga nyala seni tetap hidup di tengah realita yang tak selalu ramah. Ia tahu betul, menjual karya seni di jalanan bukan hal yang mudah.

“Sebenarnya saya sudah melukis sejak 20 tahunan lalu, tapi baru di Kayutangan ini sekitar tiga tahun. Di sini tempatnya ramai, tapi pembeli lukisan ya belum tentu ada,” ungkap Ghenk Zhu saat ditemui di lapak jualan di Koridor Kayutangan Heritage

Lukisan-lukisan yang ia buat dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 2,5 juta tergantung pada ukuran, tingkat kerumitan, detail, dan teksturnya. Meski demikian, ia mengaku seni tidak bisa diukur dengan nominal.

“Harga itu tergantung detail, ukuran, juga prosesnya. Ada lukisan yang saya selesaikan cepat kalau mood bagus, tapi bisa lama kalau suasana hati nggak mendukung,” jelasnya

Sayangnya, meskipun kawasan Kayutangan Heritage ramai pengunjung, hal itu tidak serta-merta berdampak positif pada penjualan lukisan.

“Pengunjungnya banyak, tapi yang tertarik beli lukisan itu jarang. Sekarang agak sepi penjualan,” ungkapnya.

Ghenk Zhu seniman Kota Malang yang beralamatkan di Sawojajar ini juga menyoroti tantangan finansial yang dihadapi para seniman jalanan. Menurutnya, berjualan di trotoar tidak hanya memengaruhi citra karya seni yang ia buat, tetapi juga membatasi harga jualnya.

“Orang kadang nawar nggak pantas, nggak ngerti kalau bahan-bahan melukis itu mahal dan prosesnya panjang. Di pameran mungkin bisa dihargai tinggi, tapi kalau di jalan ya susah,” jelasnya.

Namun, bagi Ghenk Zhu, masalah utamanya bukan semata-mata karena ia berjualan di jalan. Lebih dari itu, ini adalah bagian dari risiko sebagai seorang pelukis. Ia menyadari bahwa tidak semua pelukis memiliki nasib yang sama.

Ada yang sukses, bahkan di Kota Malang sendiri ada pelukis-pelukis yang karyanya dihargai hingga ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Tapi kondisi itu tidak selalu dirasakan oleh pelukis jalanan sepertinya.

“Bukan resiko jualan di jalan sebetulnya, ya gimana ya, ya resiko sebagai pelukis. Mungkin iya, kalau pelukis yang sukses juga banyak. Tapi untuk saya sendiri yang di jalan, yang saya rasakan saat ini ya beda. Pelukis sukses banyak di Malang, bahkan harganya ratusan sampai miliaran pun ada,” katanya.

Ia pun menyoroti betapa sulitnya menjadi seniman di negeri sendiri, terutama jika tidak punya akses ke galeri, jaringan, atau dukungan dari pihak terkait. Menurutnya, keberadaan seniman jalanan seperti dirinya seharusnya tidak hanya dilihat sebelah mata.

Mereka juga butuh ruang, wadah, dan sistem yang bisa membuat karya mereka lebih dihargai. Ia berharap pemerintah kota bisa hadir ikut memberi solusi.

“Yang kita harapkan kayak gitu dari dinas-dinas terkait, seperti Dinas Perdagangan dan Pariwisata. Kita di jalan aja Satpol PP-nya nggak bisa kompromi, kadang kita diangkut juga. Kayak gitu maksud keinginan saya, dan pastinya juga mewakili suara seniman yang ada di jalan, pasti 100 persen sama,” ujarnya. (zul/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com