Bojonegoro, blok-a.com – Jalan poros Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, nampak ramai dengan arak-arakan kirab warga dengan membawa gunung Kembar Pametu Bumi (hasil tani), dengan diiringi gamelan.
Peserta kirab terlihat antusias dan gembira, menari dan bernyanyi di sepanjang jalan, Jumat (8/9/2023).
Kirab dua gunung Pametu Bumi adalah bagian dari rangkaian prosesi sedekah bumi warga Dusun Lemahbang, di mana semua hasil bumi seperti jagung, padi, tomat, terong dan segala macam hasil dari pertanian disusun menjadi gunungan dan dikirab menuju Situs Cagar Budaya Petilasan Syekh Siti Jenar di Dusun Lemahbang, Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.
Ketua panitia sekaligus Penanggung jawab kegiatan Mohammad Imam Junaidi, mengatakan sedekah bumi ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang menjadi sebab asal muasal sejarah nama Dusun Lemahbang.
Serta sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini juga menjadi media masyarakat bersedekah atas karunia Allah setahun ini.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan sedekah bumi ini menjadi agenda tahunan masyarakat Lemahbang, tiap Jumat Pahing di bulan ke-9 atau September.
Semua ini tidak terlepas dari dukungan penuh warga, baik dukungan tenaga, pikiran maupun pendanaan atas swadaya masyarakat warga Lemahbang sendiri maupun dari luar desa.
“Tahun ini adalah benar benar The Power of Emak emak, semua ini adalah inisiasi dari ibu ibu yang bersemangat mendesak kami untuk menyelenggarakan sedekah bumi,” ungkap Imam.
Imam berharap tahun depan bisa diselenggarakan lebih meriah lagi, bisa dinikmati oleh semua umur, dan semoga apa yang telah warga lakukan hari ini mampu membentuk jiwa generasi muda Lemahbang peduli dengan tradisi desanya.
Setelah mendengarkan ceramah singkat dari Kiai Nur Hasyim dan membaca tahlil warga melakukan ritual Rancak Gunungan dan Rancak Ambeng di mana warga berebut hasil panen yang diletakkan di gunungan atau ambeng berharap mendapatkan berkah dari makanan yang telah didoakan dari pemuka agama
Sri Wahyuni salah satu warga mengatakan bahwa sepanjang umurnya, baru kali pertama sedekah bumi dilaksanakan dengan kirab Gunungan kembar hasil bumi. Acara diakui berlangsung meriah, masyarakat menyambut dengan antusias. “Semoga tahun depan bisa lebih bagus lagi dari tahun ini,” ujarnya.
Munip Efendi selaku juru kunci petilasan Syekh Siti Jenar mengucapkan rasa terimakasihnya kepada semua warga yang hadir dan semua pihak atas terlaksananya kegiatan ini.
“Semoga Tuhan memberkati kita semua, dan menambah nikmat kita di tahun mendatang,” ujarnya.
Tradisi sedekah bumi di petilasan Syekh Siti Jenar inu juga menarik perhatian Kurnia Sari Mucharoma Iqma, mahasiswi STAI At-Tanwir Bojonegoro, meski bukan warga Lemahbang, namun tidak menyurutkan semangat warga Desa Bulu ini untuk mengikuti prosesi sedekah bumi.
“Saya selalu tertarik dengan kegiatan tradisi yang melibatkan warga, ini adalah kearifan lokal yang harus terus dilestarikan. Saya mengikutinya dari awal dan ingin melihat langsung prosesi Rencak Gunungan dan rebut Ambeng,” tuturnya.
Prosesi Kirab dan sedekah bumi diikuti oleh pemuka agama, tokoh masyarakat, pemuda, tenaga pendidik, orang tua wali siswa siswi lembaga SDN 02 Margomulyo.
Syekh Siti Jenar adalah sosok ulama pada zaman wali songo yang dianggap kontroversi.
Sampai saat ini banyak masyarakat yang percaya bahwa Syekh Siti Jenar tidak seperti yang digambarkan dalam film.
Tak heran petilasannya yang tersebar masih banyak diziarahi oleh pengikutnya. Salah satunya ada di Dusun Lemahbang, Desa Margomulyo Balen, Bojonegoro.
Lokasi petilasan tersebut berada di tengah persawahan yang ditandai dengan bangunan pendapa kecil berukuran 4×6 meter.
Di dalamnya terdapat lantai tanah yang diyakini masyarakat setempat pernah digunakan Syekh Siti Jenar bertapa atau ritual.(sil/kim)