Jumlah Pemudik Alami Penurunan pada Lebaran 2025, Bukti Ekonomi Lesu?

Kendaraan pemudik saat mengantri di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Senin (15/4/2024).(blok-a.com/Kuryanto)

Jakarta, blok-a.com Momen Lebaran 2025 mencatat penurunan jumlah pemudik dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil survey dari Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik tahun ini diperkirakan sebanyak 146,48 juta orang. Angka tersebut berarti turun 24 persen dibandingkan proyeksi jumlah pemudik tahun lalu.

Fenomena ini menjadi perhatian karena tak seperti biasanya, di mana setiap tahun jumlah pemudik umumnya selalu naik. Misalnya, pada tahun 2022 jumlah pemudik hanya 85,5 juta orang, meningkat jadi 123,80 orang pada 2023. Lalu pada tahun 2024, jumlahnya naik drastis mencapai 193,6 pemudik.

Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab berkurangnya pemudik tahun ini. Menurut Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), salah satunya akibat daya beli rendah.

Eko Listiyanto, wakil direktur lembaga riset tersebut menerangkan, seperti dikutip dari Kumparan, Minggu (30/3). “Faktor pemicunya tentu karena daya beli yang melemah. Masyarakat banyak yang pendapatannya turun, bahkan juga ter-PHK.  Sehingga ada yang sebagian kemudian tidak memutuskan untuk mudik karena mungkin keterbatasan dari anggaran,” jelasnya.

Menurut Eko, anggaran pemudik umumnya bukan hanya untuk transportasi. Tapi, juga termasuk untuk memenuhi tradisi belanja Lebaran, seperti hampers, tunjangan hari raya, hingga makanan. Dengan pengeluaran rata-rata relatif tinggi, sementara pemasukan turun, akhirnya kemampuan untuk memenuhi tradisi mudik juga turut berkurang.

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) melakukan riset modelling pada tahun 2024. Di mana Produk Domestik Bruto bertambah mencapai Rp 168,55 triliun pada tahun tersebut, karena adanya momen Ramadan dan Idulfitri. Sedangkan di tahun 2025 ini mengalami penurunan hingga 16,5 persen menjadi Rp 140,74 triliun.

Turunnya daya beli masyarakat juga terindikasi dari berkurangnya jumlah tabungan. Artinya, banyak masyarakat kelas menengah yang menggunakan dana tabungannya untuk berbagai keperluan, alih-alih mengandalkan penghasilan.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira menerangkan,  “Merosotnya porsi tabungan perorangan, mengindikasikan masyarakat cenderung bertahan hidup dengan menguras simpanan, karena upah riil terlalu kecil, tunjangan berkurang, dan ancaman PHK masih berlanjut.”

Faktor Pendukung Berkurangnya Jumlah Pemudik Lebaran 2025

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menganalisis lima faktor penyebab jumlah pemudik turun di 2025. Berikut daftarnya, dikutip dari CNN, (31/03):

  1. Jarak Libur yang Berdekatan: Libur Natal dan Tahun Baru yang berdekatan dengan Idul Fitri membuat sebagian masyarakat yang telah berlibur pada akhir tahun memilih untuk tidak mudik saat Lebaran.

  2. Persiapan Tahun Ajaran Baru: Mendekati tahun ajaran baru, banyak keluarga cenderung mengalokasikan dana untuk biaya pendidikan anak, sehingga mengurangi anggaran untuk mudik.

  3. Maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK): Situasi ekonomi yang menyebabkan PHK membuat sejumlah orang berhati-hati mengalokasikan uang, dan memilih untuk tidak mudik demi menghemat pengeluaran.

  4. Penurunan Daya Beli Masyarakat: Kondisi ekonomi yang menurun menyebabkan daya beli masyarakat berkurang, sehingga mempengaruhi keputusan untuk melakukan perjalanan mudik.

  5. Faktor Cuaca: Kondisi cuaca yang kurang mendukung juga dapat memengaruhi niat masyarakat untuk pulang kampung.

Penurunan jumlah pemudik ini juga diperkirakan berdampak pada perputaran uang selama libur Lebaran. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi perputaran uang akan turun dari Rp157,3 triliun pada Lebaran 2024 menjadi sekitar Rp137,9 triliun pada Lebaran 2025. (gni)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com