BLOK-A – Jika berkunjung ke Museum Angkut, Anda bisa melihat beragam alat angkut tradisional asli Indonesia, seperti becak yang hingga saat ini masih menjadi favorit masyarakat.
Becak yang dari bahasa Hokkien “be chia” yang artinya “kereta kuda” adalah suatu moda transportasi beroda tiga yang biasa ditemukan di Indonesia dan sebagian Asia.
Di tahun 1937, dalam Star Weekly, becak dikenal dengan nama “roda tiga” dan kata betjak/betja/beetja baru digunakan pada 1940-an ketika mulai digunakan sebagai kendaraan umum.
Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seorang pengemudi. Becak masuk ke Indonesia pertama kali pada awal abad ke-20 untuk keperluan pedagang Tionghoa mengangkut barang.
Lea Jellanik dalam Seperti Roda Berputar, menulis becak didatangkan ke Batavia dari Singapura dan Hongkong pada 1930-an.
Dalam catatan berjudul “Pen to Kamera” terbitan 1937 disebutkan, becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar, bernama Seiko-san yang memiliki toko sepeda.
Karena penjualan seret, pemiliknya memutar otak agar tumpukan sepeda yang tak terjual bisa dikurangi. Dia membuat kendaraan roda tiga, dan terciptalah becak.
Awalnya, pemerintah kolonial Belanda merasa senang dengan transportasi baru ini. Namun kemudian pemerintah melarang keberadaan becak karena jumlahnya terus bertambah, membahayakan keselamatan penumpang, dan menimbulkan kemacetan.
Namun, jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942.
Pada pertengahan hingga akhir 1950-an, ada sekira 25-30 ribu becak di Jakarta. Jumlah becak membengkak dan pada tahun 1966 jumlah becak ada 160 ribu –jumlah tertinggi dalam sejarah.
Atas dasar Perda No. 11 Tahun 1988, becak dilarang untuk beroperasi di Jakarta karena alasan tidak manusiawi. Di dalamnya juga tercantum bahwa kendaraan resmi hanya terdiri dari kereta api, taksi, bus, dan angkutan roda tiga bermotor.
Di Indonesia, becak merupakan salah satu lapangan kerja yang mudah untuk dimasuki, sehingga kalau tidak dikendalikan jumlah becak akan berkembang dengan luar biasa.
Jumlah pengayuh becak biasanya berkurang pada musim panen ataupun pada saat nelayan turun ke laut. Pada musim angin, nelayan yang tidak melaut akan menjadi pengayuh becak sebagai alternatif.
Selain becak, pengunjung Museum Angkut juga bisa melihat alat angkut tradisional lainnya dari Indonesia, seperti dokar, delman, cikar, sepeda ontel, dan masih banyak lagi. Yuk, segera belibur!










Balas
Lihat komentar