Jember, Blok-a.com – Menyadari keberlanjutan event skala internasional sangat bergantung pada komitmen tata kelola keuangan dan regulasi yang kokoh. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil inisiatif untuk menyusun formula kolaborasi anggaran lintas sektor guna menyokong eksistensi Jember Fashion Carnaval (JFC). Agar tidak sekadar menjadi agenda rutin daerah, tetapi menjelma sebagai motor penggerak ekonomi wisata internasional yang mandiri.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang telah memasukkan JFC ke dalam agenda bergengsi Kharisma Event Nusantara (KEN). Namun, Wakil Gubernur Jatim, Emil Listianto Dardak menilai bahwa JFC memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar event nasional. Pemprov Jatim melihat peluang emas untuk membawa JFC naik kelas ke liga event dunia melalui skema penganggaran bersama yang terintegrasi.
Untuk mendukung operasionalitas fasilitas penunjang utama, seperti pembiayaan stimulasi rintisan penerbangan langsung Jember–Bali, Pemprov Jatim mendorong penerapan skema kolaborasi anggaran tiga pilar. Skema ini membagi porsi tanggung jawab keuangan secara proporsional antara Pemerintah Pusat (Kementerian terkait), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Jember. Hal tersebut agar beban pembiayaan tidak menumpuk pada satu pihak, sekaligus menjamin adanya rasa kepemilikan bersama terhadap aset pariwisata ini.
“Untuk menjaga keberlanjutan rute penerbangan tersebut, Pemprov Jatim mendorong skema kolaborasi anggaran antara pemerintah pusat, provinsi, hingga pemerintah kabupaten. Selain itu, jika terdapat peluang untuk membawa JFC ke liga event dunia, Pemprov Jatim siap memfasilitasi integrasi jejaring internasional,” urai Emil Dardak.
Kebijakan penganggaran yang visioner ini dinilai oleh manajemen JFC sebagai solusi konkret atas tantangan klasik penyelenggaraan festival di daerah.
Presiden JFC, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa sinkronisasi kebijakan anggaran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mematangkan dua sektor krusial di tingkat tapak, yaitu penyediaan sarana prasarana fisik serta peningkatan standar pelayanan keramahtamahan internasional (hospitality standard).
Menurut Budi Setiawan, kreativitas anak-anak muda Jember dalam menghasilkan karya busana spektakuler berada di tingkat yang sangat aman dan terus mengalami peningkatan kualitas. Namun, kesiapan ide kreatif dari para pengrajin dan penampil lokal tersebut wajib diimbangi dengan kehadiran ekosistem pendukung yang dibangun secara regulatif oleh pemerintah.
Melalui kepastian hukum dan stabilitas anggaran dari sinergi tiga pilar ini, JFC diharapkan dapat dikelola secara lebih profesional, terukur, dan memiliki dampak ekonomi berantai yang luas bagi masyarakat Jawa Timur. (rio)










Balas