Jember, Blok-a.com – Di tengah dinamika sosial tahun 2026, isu kesejahteraan keluarga dan kualitas pendidikan anak tetap menjadi topik terhangat. Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember mengambil langkah aktual dengan memperkuat sinergi antara TP PKK, Posyandu, dan Bunda PAUD.
Melalui pertemuan di Pendopo Wahyawibawagraha pada Selasa (12/5/2026), gerakan ini diposisikan sebagai “mesin utama” perubahan sosial yang mampu menembus hambatan birokrasi tradisional melalui pendekatan humanis para ibu-ibu kader.
Isu sentral yang diangkat dalam pertemuan ini adalah bagaimana pelayanan dasar tidak hanya menjadi sekadar angka dalam laporan, tetapi menjadi denyut kehidupan di masyarakat.
Ketua TP PKK Jember, Ghyta Eka Puspita, menyoroti isu terkini mengenai pentingnya kesehatan mental anak dan pendidikan prasekolah sebagai tameng menghadapi derasnya arus digitalisasi.
Ning Ghita, sapaan akrabnya, mengingatkan masa keemasan anak. Dirinya mendorong anak usia dini harus mendapatkan pendidikan pra sekolah.
“Isu yang sangat aktual saat ini adalah masa emas anak (Golden Age). Kita tidak ingin anak-anak Jember hanya sehat fisiknya, tapi juga matang mental dan pendidikannya. Itulah mengapa Bunda PAUD kami dorong untuk menyukseskan satu tahun wajib prasekolah,”ujarnya.
“Selain itu, isu lingkungan seperti pengelolaan sampah rumah tangga dan akses air bersih menjadi sangat krusial di tahun 2026 ini. Melalui Posyandu 6 SPM, kader-kader kita akan menjadi agen perubahan yang mengedukasi warga tentang gaya hidup sehat dan berkelanjutan. Kita ingin solusi datang dari kesadaran masyarakat sendiri, bukan hanya perintah dari atas,” tambah istri Bupati Fawait itu.
Pertemuan ini juga menyoroti bagaimana perempuan penggerak di Jember tetap bersemangat menjalankan tugas meski memiliki profesi lain.
Ghyta memberikan apresiasi aktual bagi para ibu rumah tangga, guru, maupun pedagang yang merangkap sebagai kader. Baginya, semangat cinta kepada keluarga adalah energi yang tak akan pernah habis untuk membangun Jember.
Acara yang berlangsung hangat ini juga menjadi ruang curhat bagi para kader mengenai kendala di lapangan. Mulai dari sulitnya mengedukasi orang tua tertentu hingga tantangan medan di desa terpencil. Diskusi ini memberikan perspektif aktual bagi Pemkab Jember untuk melakukan perbaikan sistem layanan secara terus menerus, sehingga program pelayanan dasar ini tetap relevan dan dicintai oleh warga. (rio/ova)










Balas
Lihat komentar