KSOP Tanjung Wangi Peringatkan Kapal Dilarang Melintas Lokasi Tenggelamnya Tunu Pratama di Selat Bali

Caption : Kapal Pioner 88 sedang melakukan upaya pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. (blok-a.com/Istimewa).
Caption : Kapal Pioner 88 sedang melakukan upaya pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. (blok-a.com/Istimewa).

Banyuwangi, blok-a.com – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Wangi telah menerbitkan Notice to Marine atau peringatan terkait pelaksanaan kegiatan pekerjaan scraping bawah air di lokasi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali.

Pemberitahuan tersebut ditetapkan melalui Notice to Marine Nomor PG-KSOP.TG.WI. 2 Tahun 2026 tertanggal 29 Januari 2026. Dalam pemberitahuan itu, KSOP Tanjung Wangi menginformasikan kepada seluruh nakhoda dan perusahaan pelayaran bahwa kegiatan pekerjaan bawah air sedang berlangsung pada titik koordinat 08°09’33,11” Lintang Selatan dan 114°29’52,03” Bujur Timur.

Sehubungan dengan kegiatan tersebut, KSOP menetapkan area terbatas yang tidak boleh dilalui kapal selama pekerjaan berlangsung. Area pembatasan ditentukan berdasarkan sejumlah koordinat yang telah ditetapkan guna menjamin keselamatan pelayaran serta kelancaran pekerjaan di lapangan.

“Kami menginstruksikan seluruh kapal yang berlayar di sekitar lokasi untuk mengurangi kecepatan, meningkatkan kewaspadaan navigasi, menjaga komunikasi radio pada kanal pengamanan, serta mematuhi arahan petugas patroli dan unsur pengamanan setempat,” ujar Kepala KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Capt. Purgana.

Selama kegiatan berlangsung, area kerja dijaga oleh kapal patroli dan dilengkapi dengan tanda pengamanan sementara berupa bouy atau marker. Pemberitahuan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan hingga kegiatan pengangkatan dinyatakan selesai atau sampai diterbitkannya pemberitahuan resmi selanjutnya.

Proses pengangkatan bangkai kapal diperkirakan berlangsung dalam waktu sekitar satu bulan karena harus dilakukan secara bertahap, mengingat kondisi arus dan perairan di lokasi. Pertama-tama, beberapa part dari kapal seperti railing dan bagian kapal yang tercecer akan diambil, termasuk kendaraan muatan kapal yang ikut tenggelam di dasar laut.

“Hal tersebut dilakukan karena dikhawatirkan, bagian-bagian tersebut akan terseret mendekati kabel laut jika tidak segera diangkat,” pungkas Capt. Purgana.

 

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com