Tumpeng Tempe Raksasa Meriahkan Sedekah Bumi Desa Sedengan Mijen, Krian, Sidoarjo

Tempe raksasa dikerubungi warga dalam acara sedekah bumi desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian
Tempe raksasa dikerubungi warga dalam acara sedekah bumi desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian (foto: ist)

Sidoarjo, Blok-a.com – Jelang datangnya bulan suci Ramadhan, tradisi tahunan ruwat desa atau sedekah bumi digelar masyarakat desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Minggu (1/2/2026).

Kegiatan yang ditandai tumpeng tempe raksasa setinggi sekitar 14 meter tersebut, menjadi identitas ritual kearifan lokal desa Sedengan Mijen yang dikenal sebagai desa sentra penghasil tempe.

Namun tidak hanya tumpeng tempe raksasa yang disajikan pada kegiatan itu. Sebanyak 31 tumpeng hasil bumi dibawa masing-masing Rukun Tetangga (RT). Beragam hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan tersaji dan turut diperebutkan warga.

Camat Krian, Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi budaya lokal.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Sedengan Mijen. Kami menilai bahwa tradisi tersebut sangat positif. Karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata daerah,” terangnya.

Ia menambahkan bila tradisi budaya ini terus dilestarikan, kegiatan sedekah tumpeng tempe dapat masuk dalam agenda wisata daerah.

Sejumlah tumpeng raksasa hasil karya warga desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian (foto: ist)
Sejumlah tumpeng raksasa hasil karya warga desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian (foto: ist)

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sedengan Mijen, Hasanuddin, menegaskan bahwa sedekah tumpeng tempe bukan sekadar agenda tahunan, melainkan aktualisasi rasa syukur dan kebersamaan warga.

“Kami atas nama pemerintah desa dan masyarakat Sedengan Mijen bersyukur, karena seluruh rangkaian ruwat desa berjalan lancar. Kegiatan tersebut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus sarana mempererat kebersamaan,” tutur Hasanuddin.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara tersebut.

Rangkaian ruwat desa telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya. Mulai dari istighosah, barikan dan Khotmil Qur’an, pagelaran wayang kulit,pasar jajanan tradisional hingga puncak kegiatan doa bersama dan rebutan tumpeng di lapangan desa.

“Usai didoakan, seluruh warga yang sejak pagi memadati Lapangan desa Sedengan Mijen langsung berebut potongan tempe. Karena tempe yang dibagikan diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya,” ungkapnya.

Sebagai informasi, tradisi tumpeng tempe raksasa sendiri merupakan agenda tahunan masyarakat Sedengan Mijen, sabagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Sidoarjo. Pada kesempatan kali ini dibutuhkan kurang lebih tiga kuintal kedelai untuk membuat tempe raksasa tersebut, dengan disusun secara gotong royong oleh warga setempat. (fah/gni)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com