Malang, Blok-a.com – Kayutangan Heritage ruang publik yang tak hanya menawarkan nilai sejarah, tetapi juga pengalaman hiburan yang hidup setiap malam. Setelah mengalami revitalisasi menjadi jalur pedestrian dan wisata heritage, kini kawasan ini berkembang menjadi pusat keramaian yang ramai pengunjung. Bukan hanya masyarakat lokal Malang, tetapi dari berbagai daerah.
Salah satu elemen yang paling mencolok dari keberadaan spot wisata ini adalah hadirnya live music jalanan yang memenuhi hampir setiap sudut area tersebut, terutama setiap malam hari. Jika sebelumnya pengunjung datang untuk menikmati arsitektur kolonial, suasana vintage, dan kulineran. Kini banyak yang sengaja mampir hanya untuk merasakan suasana meriah oleh musik yang mengalun sepanjang koridor jalan.
Alunan musik dari para musisi menjadi magnet baru yang membuat tak sedikit orang rela berhenti sejenak, duduk di jalur pedestrian, hingga ikut bernyanyi bersama. Ini membuat malam hari di kawasan Kayutangan Heritage terasa lebih hidup, hangat, dan penuh interaksi.
Menurut Aris (23), asal Bangkalan Madura, peningkatan wisatawan dalam dua tahun terakhir membuat Kayutangan semakin ramai dan suasananya terasa berbeda. Ia menilai, live music yang semakin sering tampil turut mendukung suasana tersebut.
“Sekarang Malang kan ramai wisatawan dari mana-mana. Live music di sini makin asik dan makin rame,” ujarnya pada Kamis (27/11/2025).
Pemuda yang kini berdomisili di kawasan Suhat ini mengamati bahwa keramaian ini membuat Kayutangan tidak hanya menjadi tempat lewat, tetapi destinasi untuk menikmati suasana malam.
Pendapat serupa disampaikan Ninda (26), yang sudah cukup sering melintas di kawasan tersebut. Ia melihat perubahan signifikan terutama dalam satu tahun terakhir.
“Awal-awal dulu belum ada musiknya. Baru akhir tahun ini makin banyak, terus suasananya jadi ramai,” jelasnya.
Bagi warga Kabupaten Malang ini, keberadaan musisi-musisi ini membuat Kayutangan lebih hidup dan memberikan hiburan gratis bagi siapa pun yang lewat.
Penampilan Musisi yang Menarik
Baik Aris maupun Ninda sepakat bahwa alasan utama orang berhenti menonton adalah kualitas musisi yang tampil. Banyak musisi yang dinilai mempunyai suara bagus, pembawaan asik, dan mampu membangun suasana.
“Musisinya bagus-bagus dan pembawaannya asik. Dari yang remaja sampai yang tua bisa dinikmati,” kata Aris.
Ninda juga menilai kemampuan musisi dalam menarik penonton menjadi faktor penting.
“Mungkin karena suaranya bagus. Sebagai musisi harus menarik penonton, jadi orang berhenti,” ujarnya.
Aris memperkirakan bahwa momen ketika live music mulai ramai adalah sekitar dua tahun terakhir, salah satunya karena dampak viralnya konten Kayutangan di media sosial. Banyak influencer yang datang untuk merekam suasana malam di kawasan tersebut dan mempostingnya di berbagai platform.
“Ramainya dua tahun belakangan karena viral. Banyak influencer datang buat review,” ungkap Aris.
Fenomena viral ini membuat semakin banyak wisatawan penasaran dan datang untuk melihat langsung suasananya.
Selain itu, keberagaman genre dan usia musisi menjadi daya tarik tersendiri. Aris menyebut bahwa adanya musisi legend yang sudah lama tampil memberikan warna unik, terutama bagi pengunjung yang ingin bernostalgia. Namun, musisi remaja yang tampil juga tidak kalah menghibur.
“Yang unik itu ada musisi legend yang sudah lama main, jadi orang tua bisa nostalgia. Tapi musisi remaja sekarang juga nggak kalah asik,” katanya.
Ninda juga menilai variasi jenis musik membuat pertunjukan tidak monoton dan selalu menarik.
“Hampir semuanya unik. Ada yang rock, keroncongan, macem-macem,” tuturnya. (mg1/gni)
Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)










Balas
Lihat komentar