Blok-a.com – Hari Kartini, hari yang ditujukan untuk mengenang jasa Raden Ajeng (RA) Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia.
Salah satu bentuk paling umum kala merayakan hari Kartini ini yakni para perempuan yang memakai baju tradisional, khususnya kebaya. Lantas kenapa hari Kartini ini seringkali disangkut pautkan dengan kebaya? Berikut penjelasannya.
Alasan utamanya karena tokoh pahlawan perempuan Indonesia ini terkenal sering menggunakan kebaya semasa hidupnya. Terbukti dengan banyaknya foto beliau yang tergambarkan sedang menggunakan baju kebaya.
Bahkan, muncul model kebaya yang disebut sebagai kebaya Kartini, yang umumnya dipakai oleh gadis-gadis muda saat merayakan hari Kartini. Ciri umum kebaya Kartini umumnya berupa kerah berbentuk V serta memiliki lengan yang lebih longgar.
Mengutip dari buku digital Evolusi Kebaya (2022) yang disusun oleh Pusat Data dan Analisa Tempo, kita bisa mengetahui sejarah kebaya secara singkat.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa, Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya (1996) mengungkapkan asal kata kebaya dari bahasa Arab “kaba” yang berarti pakaian. Nama kebaya juga disebut memiliki kaitan dengan “abaya” yakni pakaian tunik panjang khas Timur Tengah.
Sementara itu, terdapat catatan portugis yang mengatakan jika kebaya sudah menjadi pakaian resmi dari kerajaan-kerajaan Jawa sedari abad ke-15. Kebaya ini biasanya digunakan sebagai pelengkap dari kemben.
Pada sekitar tahun 1500-an, saat Kerajaan majapahit, perempuan jawa pada umumnya masih menggunakan kemben sehingga sebagian dada mereka terbuka.
Namun, saat Islam memasuki tanah Jawa, yang diikuti dengan berdirinya Kerajaan Demak, maka perempuan Jawa diharuskan menutup dada dengan mengadopsi gaya busana Prancis dan India.
Kebaya model kutu baru merupakan busana yang pertama kali diperkenalkan untuk menyempurnakan penggunaan kemben sehingga tampilan perempuan terlihat lebih tertutup. Ciri khas kebaya ini adalah kain kemben di bagian tengah yang menyambungkan sisi kiri dan kanannya.
Mengutip Kompas.com (19/4/2021), kebaya mulanya merupakan busana para permaisuri dan selir raja dari Kerajaan Majapahit.
Sebelum masuknya agama Islam, perempuan Jawa pada abad ke-9 masih mengenakan padanan kain dan kemben yang hanya menutupi bagian dada mereka. Ketika Islam sudah masuk tanah Jawa, maka dilakukan penyesuaian penggunaan busana agar lebih menutupi area dada.
Para perempuan Jawa kemudian melakukan penyesuaian dengan menggunakan semacam outer, yang berupa kain tipis yang menutupi bagian belakang, bahu dan lengan mereka.
Menurut catatan resmi Portugis, kebaya adalah pakaian yang dikenakan wanita Indonesia saat mereka mendarat di Indonesia pada abad ke-15.Namun saat itu baju kebaya hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan.
Seiring berjalannya waktu, kebaya mulai dikenakan oleh wanita selain bangsawan. Mereka mengenakan kebaya yang terbuat dari kain tipis dan diikat di bagian depan dengan peniti.
Style fashion kemudian kebaya berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Salah satunya model kebaya Kartini yang mengambil inspirasi dari pakaian yang sering dikenakan RA Kartini.
Dalam buku digital Evolution Kebaya (2022), disebutkan RA Kartini mengenakan kebaya dengan bordiran bordir di dekat kerah V. Kartini menambahkan bros pada kerah V-nya.
Terdapat juga catatan fotografi RA Kartini yang menunjukkan sosok perempuan pembela kaum perempuan itu kerap mengenakan kebaya sepanjang hidupnya.
Perbedaan kebaya Kartini dengan model kebaya sebelumnya adalah kebaya tidak dikenakan di bagian dada. Model kebaya Kartini menyerupai tunik dengan potongan lebih lebar di badan dan lengan.(mg5)
Penulis: Aulia Putri Indrianti (Mahasiswi magang Universitas Trunojoyo Madura)









