Kabupaten Malang, blok-a.com – Karena terkendala biaya sekolah, Titik Suhartini (45), warga Pulau Gadung, Jakarta Timur, rela menjadi buruh lipat borongan di salah satu perusahaan percetakan, sejak umurnya masih 11 tahun lalu.
Saat menjelang musim Pemilihan Umum (Pemilu) seperti saat ini, wanita yang memiliki tubuh kurus ini menjadi buruh pelipat surat suara di gudang logistik KPU Kabupaten Malang. Sistemnya bukan kontrak, namun borongan.
Dia pun rela pergi dari ibu kota Jakarta untuk mengais rejeki di Malang.
Ditempatkan di KPU Kabupaten Malang ini menjadi kali keduanya menurut Titik. Sebab, pada Pemilu 2019 lalu, ia juga ditempatkan di KPU Kabupaten Malang untuk menjadi buruh borongan melipat surat suara.
“Tahun terakhir 2019 lalu, saya juga dikirim di Kabupaten Malang untuk melipat surat suara bersama rekan-rekan lainnya,” ujarnya kepada Blok-a.com belum lama ini, di Gudang Logistik Pemilu, yang bertempat di Bulog Pakisaji.
Di tahun ini, ia bersama setidaknya 20 rekan kerjanya yang di kirim ke wilayah Kabupaten Malang. Bukan hal yang baru menurutnya, sebab setiap bulannya ia biasa dikirim untuk menjadi buruh borongan pelipat kertas di berbagai daerah.
“Keseharian saya juga kerja borongan di percetakan, jadi pindah pindah saya kerjanya. Kalau sudah selesai di tempat a pindah ke tempat b begitu terus,” bebernya.
Pengalamannya menjadi buruh borongan telah ia geluti sejak puluhan tahun lamanya. Tak ayal, jika jari jemarinya sudah lihai dalam persoalan lipat melipat kertas. Bahkan, dalam beberapa jam saja, ia bisa menyelesaikan ribuan lembar kertas untuk dilipat rapi.
“Satu hari kemarin, saya bisa melipat 10 kardus. Perkardus isinya 500 lembar, itu bukan satu hari penuh ya, hanya setengah hari dari siang hingga sore,” terangnya.
Meskipun ongkos yang diterima tak seberapa, ia masih setia menggeluti pekerjaannya tersebut. Kadang kala, jari jemarinya juga tergores karena lembaran kertas yang sedikit tajam. Terlihat hansaplast membungkus jari telunjuk kanan dan kirinya, kala itu.
“Tahun lalu, 2019 ongkosnya 150 perak untuk satu lembarnya. Tapi tahun lalu saya bisa melipat lebih dari 10 kardus, tahun kemarin satu kardusnya dua ribu lembar. Tapi sekarang tidak sampai ya, karena kertasnya tahun ini agak tebal,” katanya.
Selama menjadi buruh pelipat surat suara Pemilu 2024, ia sementara waktu tinggal di Gudang Bulog Malang dengan kondisi seadanya.
Sementara, untuk makan minum dan tidurnya, semua terjamin oleh KPU Kabupaten Malang. Sehingga, ongkos kerjanya bersih tidak berkurang untuk kebutuhan hidup selama berada di Kabupaten Malang.
“Alhamdulillah semua terjamin dari sini, tidurnya ya di sini pakai tikar. Makan dan minumnya juga dari sini (KPU), jadi ongkos kerjanya bersih,” tuturnya.
Meskipun demikian, ia belum bisa memastikan akan kerja berapa lama. Sebab, jika sistem borongan maka tidak dapat diketahui berapa lama masa kerjanya. Jadi, jika pekerjaannya selesai maka akan selesai pula masa kerjanya.
“Tidak tau sampai kapan, ya pasti kalau sudah selesai semua pelipatan baru kita terima gaji dan dipulangkan,” pungkasnya. (ptu/bob)









