Blok-a.com – Pada Selasa malam, 30 September 2025 pukul 23.49 WIB, Kabupaten Sumenep, Madura, diguncang gempa kuat berkekuatan magnitudo 6,5. Getaran terjadi tiba-tiba saat warga sudah banyak yang beristirahat malam. Tidak hanya di Sumenep, guncangan juga terasa di beberapa wilayah di Jawa Timur, bahkan hingga Bali dan Lombok.
BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun getarannya cukup kuat sehingga membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan, dan aktivitas warga sempat lumpuh sesaat setelah gempa terjadi.
Guncangan Tengah Malam Disusul Gempa Susulan
Guncangan pertama terjadi saat sebagian besar warga sudah tertidur. BMKG mencatat pusat gempa berada di laut, 42 km timur laut Sumenep dengan kedalaman 10 km. Getaran yang berlangsung sekitar 5–7 detik itu cukup membuat lampu gantung bergoyang dan dinding rumah berderit.
Kepanikan langsung melanda warga pesisir timur Madura dan pulau-pulau kecil seperti Sapudi, Raas, dan Kangean. Banyak warga yang berhamburan ke lapangan atau jalan raya sambil membawa anak-anak dan barang berharga.
“Guncangannya kuat sekali, saya langsung angkat anak keluar rumah. Semua orang teriak dan berlari ke lapangan,” ujar Nuraini (34), warga Pulau Raas, dikutip dari Radar Banyuwangi.
Tak lama setelah itu, empat kali gempa susulan kembali mengguncang dengan kekuatan lebih kecil. Hingga Rabu dini hari tercatat total 10 kali gempa susulan, yang beberapa di antaranya masih terasa hingga Pamekasan dan Sampang.
Akibat Aktivitas Sesar Aktif Bawah Laut
Menurut BMKG, gempa Sumenep dipicu oleh patahan naik (thrust fault) di dasar laut akibat aktivitas sesar aktif di perairan Sumenep.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa dengan kedalaman dangkal ini menyebabkan getarannya menjalar lebih cepat dan kuat ke permukaan.
“Gempa Sumenep dipicu aktivitas patahan naik di dasar laut. Kedalamannya dangkal sehingga guncangannya terasa kuat hingga permukaan,” ujarnya, melansir Tribunnews, (1/10/2025).
Meski begitu, lokasi episentrum yang jauh dari zona subduksi membuat gempa ini tidak memicu gelombang tsunami.
Warga Panik, Rumah Rusak, Aktivitas Terganggu
Guncangan malam itu membuat ratusan warga terpaksa mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman. Banyak dari mereka yang menginap di balai desa, lapangan, atau tenda darurat karena khawatir gempa susulan.
BPBD Sumenep mencatat puluhan rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Retakan juga ditemukan di beberapa sekolah dan masjid. Beberapa tiang listrik dilaporkan roboh di wilayah pesisir sehingga listrik sempat padam selama beberapa jam.
Selain kerusakan material, sejumlah warga mengalami luka ringan akibat tertimpa reruntuhan dan trauma psikologis, terutama anak-anak yang masih ketakutan untuk kembali ke rumah.
Situasi Berangsur Pulih, Warga Tetap Waspada
Hingga Rabu (1/10), BMKG menyatakan aktivitas gempa susulan mulai mereda dan tidak ada potensi tsunami. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, dan relawan telah menyalurkan bantuan darurat berupa tenda, makanan, serta layanan kesehatan bagi warga terdampak.
Sebagian warga yang sempat mengungsi sudah mulai kembali ke rumah masing-masing, meski beberapa masih memilih bertahan di posko karena rumah mereka rusak. Pemerintah daerah juga tengah melakukan pendataan lanjutan terhadap kerusakan untuk mempercepat bantuan dan perbaikan infrastruktur.
“Kami imbau warga tetap waspada terhadap gempa susulan, meskipun kekuatannya semakin kecil,” kata Daryono.
Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa. Namun, kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. (mg1)
Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswi Magang UTM Bangkalan)










Balas
Lihat komentar