Kota Malang, blok-A.com – Fenomena Polisi Cepek atau Pak Ogah, sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Di sudut pertigaan, tikungan, ataupun perempatan jalan, Polisi Cepek selalu ada dalam mengatur jalan bak superhero. Di Jalan Watugong, Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, rupanya diatur oleh polisi cepek yang baik hati.
Sekitar pukul 13.00, Jumat (12/08/2022) Jalanan di Jalan Watugong nampak padat. Di pertigaan itu terdapat kepadatan kendaraan baik roda empat dan roda dua. Kebanyakan merupakan mahasiswa yang lalu lalang dan juga pekerja. Dari pantauan blok-A.com, setiap jalan terjadi kepadatan hingga mengular lima meter di setiap jalurnya.
Suyitno (39) adalah seorang pengatur jalan yang secara sukarela dibayar berapapun oleh pengguna jalan. Ia mengatakan bahwa 1 tahunan menjalankan profesinya. Dia pun yang mengatur kendaraan mana yang akan jalan terlebih dulu. Dia akan berdiri di tengah pertigaan dan mengayunkan tangannya bak seorang konduktor sebuah orkestra. Dengan pengaturannya ini lah kendaraan mampu teratur untuk belok ke ke kanan ataupun ke kiri.
“Sekitar 1 tahunan, jadi sukarela ya. Ada yang ngasih alhamdulillah, kalau engga ada ya nggak papa,” ucap Suyitno pada Jum’at (12/08/2022).
Dari rumahnya di daerah Sukun, Suyitno berangkat menggunakan motor Mio-nya selama 20 menit, untuk menafkahi anak dan istrinya dari pagi hingga petang. Alhamdulillah, Suyitno bisa mengumpulkan ratusan ribu perharinya dengan mengatur lalu lintas kendaraan itu.
“Saya berangkat dari jam 09.00 mas, sampai jam 17.00. Satu itu cari pahala, kedua cari uang. Sehari bisa kekumpul Rp.110rb – 150rb, untuk biaya makan dan rokok,” ucap Suyitno.
Suyitno menjelaskan bahwa sebelum mengisi jalan tersebut, ia meminta izin kepada RT dan RW di Jalan Watugong dan rundingan dengan tukang parkir. Ia juga menjelaskan kesulitannya dalam mengatur jalan. Dia mengaku harus meminta izin terlebih dulu kepada stakeholder setempat.
“Saya minta izin terlebih dulu ke RT RW setempat. Kan meskipun hanya begini saja kerjaan saya, kalau gak izin kan ya gak enak. Untungnya diizini dan memang membantu.
Dia pun mengaku tidaklah mudah mengatur kendaraan di pertigaan Watugong itu. Kendaraannya cukup padat. Sebab, pertigaan itu dekat dengan Universitas Brawijaya yang mana mahasiswanya kerap kali menggunakan persimpangan itu untuk ke wilayah lain untuk cari makan atau indekosnya. Belum lagi pekerja yang berangkat atau pulang dari kantornya yang berada di daerah Dinoyo atau Soekarno-Hatta Kota Malang.
“Kesulitannya kalo macet panjang mas, biasanya jam 16.30. Tapi untungnya saya berdua mas, sama teman saya Oky,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu pengguna jalan, Bimantara (25) mengaku terbantu dengan adanya Suyitno sebagai pengatur lalu lintas di pertigaan itu. Salah satu pekerja di kantor yang berada dekat pertigaan Watugong itu mengaku memang kalau ketika ke kantornya hal yang dia benci adalah kemacetan.
Kadang dia bisa bertahan hingga tiga menit di tengah padatnya kendaraan yang mengantri untuk lewat di pertigaan itu. Namun jika ada Suyitno atau Polisi Cepek lainnya, kemacetan bisa berkurang.
“Ya gak bayangin kalau gak ada Polisi Cepek. Bisa ada yang selip-selipan terus marah-marahan di jalan. Tapi karena ada Polisi Cepek ini ada yang ngatur dan meskipun nunggu tapi teratur,” tutupnya. (mg2/bob)










Balas
Lihat komentar