Mojokerto, blok-a.com – Sejumlah calon jemaah umrah dari berbagai daerah mendatangi kantor cabang PT Annisa Ahmada Travelindo di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Sentanan, Kota Mojokerto, Sabtu (19/9/2026).
Kedatangan mereka dilakukan setelah Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyatakan PT Annisa Ahmada Travelindo resmi dibekukan.
Para calon jemaah datang untuk meminta kejelasan terkait keberangkatan sekaligus menuntut pengembalian dana atau refund atas biaya umrah yang telah mereka bayarkan kepada pihak travel.
Namun, saat para calon jemaah tiba, kantor cabang PT Annisa Ahmada Travelindo dalam kondisi tutup. Mereka kemudian menunggu di depan ruko sambil berharap ada pihak manajemen yang datang memberikan penjelasan.
Para calon jemaah yang datang tidak hanya berasal dari Mojokerto dan sekitarnya, tetapi juga dari sejumlah daerah lain. Di antaranya Jombang, Situbondo, Yogyakarta, Lombok, Nusa Tenggara Barat, hingga daerah lainnya.
Sebagian calon jemaah mengaku telah membayar biaya perjalanan umrah secara lunas. Nominal yang mereka bayarkan juga bervariasi, tergantung paket dan jumlah jemaah yang didaftarkan.
Berbagai Keluhan Calon Jemaah
Salah satu calon jemaah asal Situbondo, Ayu, mengaku datang bersama kakaknya ke kantor cabang Mojokerto sejak Jumat (18/9/2026). Keduanya datang untuk mengambil paspor sekaligus meminta kejelasan mengenai pengembalian dana.
Ayu mengatakan, dirinya bersama sang kakak telah membayar biaya umrah secara lunas kepada pihak travel.
“Sudah bayar lunas sebesar Rp25.900.000, kakak saya juga sama. Jadi totalnya Rp51.800.000,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan calon jemaah asal Trowulan, Mojokerto, yang meminta identitasnya tidak disebutkan. Ia mengaku telah melunasi biaya perjalanan umrah sebesar Rp39,5 juta sejak Juli 2026.
Sementara itu, persoalan berbeda disampaikan salah seorang jemaah asal Sooko, Mojokerto. Ia datang ke kantor travel bukan hanya untuk menanyakan keberangkatan, tetapi juga meminta penggantian biaya tiket pesawat yang harus mereka beli sendiri saat berada di Arab Saudi.
Ia bersama 15 orang jemaah sebelumnya telah diberangkatkan ke Arab Saudi pada 6 September 2026. Namun, menurut keterangannya, mereka tidak mendapatkan tiket kepulangan dari Arab Saudi menuju Indonesia. Akibatnya, para jemaah harus membeli tiket kepulangan menggunakan uang pribadi.
“Jadi waktu itu kami beli tiket untuk pulang dengan harga Rp10.200.000 untuk satu tiket. Kita ada 15 orang, itu sudah berapa nilainya. Makanya kita minta pihak travel agar mengganti uang tiket tersebut,” terangnya.
Jemaah Asal Yogyakarta Tuntut Kepastian Dana
Salah seorang calon jemaah asal Yogyakarta, Suratman, juga datang langsung ke Mojokerto untuk mencari kepastian mengenai nasib uang yang telah dibayarkannya kepada PT Annisa Ahmada Travelindo.
Suratman mengatakan, dirinya mendaftarkan empat orang dalam keluarganya untuk mengikuti perjalanan umrah. Keempatnya adalah dirinya, ibu, ayah, dan adiknya.
Ia mengaku membayar sekitar Rp23 juta untuk setiap jemaah. Dengan demikian, total dana yang telah dibayarkan untuk empat orang mencapai sekitar Rp92 juta.
“Yang pertama, paling tidak kita mendapatkan kejelasan. Karena dari PT Annisa sendiri sudah menunjuk yang namanya PH, tapi PH-nya sendiri masih belum jelas. Kita mau refund dikasih lembar form juga tidak jelas, formnya seperti apa. Jadi semuanya simpang siur,” kata Suratman.
Menurutnya, kedatangannya ke Mojokerto untuk memastikan secara langsung kondisi di lapangan sekaligus memperoleh informasi mengenai mekanisme pengembalian dana.
Ia berharap apabila memang terdapat formulir yang harus diisi calon jemaah untuk mengajukan refund, dokumen tersebut diberikan secara jelas dan dilengkapi bukti penerimaan.
“Kalau ada form yang harus diisi, formnya harus lengkap, detail, kemudian memang ada bukti penerimaan kalau kita ini refund,” ujarnya.
Selain persoalan refund, Suratman juga meminta kepastian apabila masih ada kemungkinan jemaah diberangkatkan. Sebab, menurut dia, sebelumnya masih ada komunikasi dari pihak admin yang menyampaikan optimisme mengenai keberangkatan.
“Kalau memang kita mau diberangkatkan, mau seperti apa mekanismenya, sementara yang ini izinnya sudah dibekukan,” katanya.
Suratman mengaku mengetahui PT Annisa Ahmada Travelindo melalui media sosial TikTok. Ia kemudian melakukan pendaftaran dan pembayaran secara bertahap.
Pendaftaran dilakukan pada Maret 2026, kemudian pembayaran dilanjutkan hingga pelunasan pada Mei 2026. Untuk empat orang, total dana yang dibayarkan sekitar Rp92 juta.
Awalnya, kata Suratman, keberangkatan keluarganya dijadwalkan pada 28 September 2026. Jadwal tersebut kemudian berubah menjadi 30 September. Namun, setelah itu muncul informasi mengenai pra-manasik yang dimajukan menjadi 20 September.
Sementara dirinya yang dijadwalkan berangkat pada tanggal tersebut mengaku belum mendapatkan manasik hingga mendekati hari keberangkatan.
Pihak Travel Memberi Harapan
Menurut Suratman, sehari sebelum adanya pengumuman dari pihak PH mengenai tidak adanya keberangkatan pada 20 September, dirinya masih menerima pesan dari admin travel berupa informasi perlengkapan yang harus dibawa.
Ia juga sebelumnya menerima surat pernyataan mengenai rencana keberangkatan pada 20 September. Surat tersebut bahkan digunakan sebagai dokumen pendukung untuk mengurus izin bagi adiknya yang berada di Bali.
“Sehari sebelum pengumuman dari PH bahwa tidak ada keberangkatan tanggal 20 September, admin masih mengirimkan saya perlengkapan untuk yang akan dibawa. Sebelumnya juga mengirimkan surat pernyataan yang menyatakan bahwa kita akan berangkat tanggal 20,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Suratman semakin membutuhkan kejelasan dari pihak travel mengenai kepastian keberangkatan maupun pengembalian dana.
Suratman mengaku sengaja datang langsung ke Mojokerto karena PT Annisa Ahmada Travelindo tidak memiliki kantor cabang di Yogyakarta. Ia mengetahui travel tersebut melalui TikTok dan kemudian melakukan pembayaran langsung.
“Saya kenal PT Annisa ini dari TikTok. Waktu itu saya transfer uang karena meyakinkan. Saya juga tahu salah satu agennya, salah satu perusahaan yang konsultannya ada di Nganjuk. Tapi saya waktu itu tidak masuk melalui agen itu, saya masuknya langsung ke sini,” katanya.
Suratman menyebut dirinya sebenarnya berasal dari Sulawesi Selatan, tetapi saat ini bekerja dan menetap di Yogyakarta.
Ia kemudian mengetahui sejumlah calon jemaah dari berbagai daerah berencana mendatangi kantor cabang Mojokerto. Karena itu, ia memilih datang langsung agar dapat mengetahui kondisi dan perkembangan persoalan tersebut secara langsung.
“Saya lihat teman-teman juga banyak yang mau datang, ya sudah kita gabung. Paling tidak kalau saya di rumah terlalu di desak sama keluarga perkembangannya bagaimana. Kalau saya ke sini saya bisa menggambarkan real time keadaan lapangan,” ujarnya.
Ia berharap ada pihak manajemen PT Annisa Ahmada Travelindo yang menemui para jemaah dan memberikan penjelasan secara langsung, terutama mengenai mekanisme refund.
“Harapannya hari ini kita bisa bertemu paling tidak manajemen yang bisa menjelaskan. Kalau PH-nya mau mendampingi, silakan mendampingi. Tetapi ada manajemen yang bisa memberikan kita penjelasan,” katanya.
Suratman mengaku persoalan tersebut juga berdampak pada keluarganya. Ia menyebut ibunya sampai menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari karena memikirkan rencana keberangkatan umrah yang tidak kunjung mendapat kepastian.
“Saya datang ke sini paling tidak saya dapat penjelasan atau secercah harapan itu, mau kembali uangnya seperti apa,” ujarnya.
Hingga para calon jemaah mendatangi kantor cabang PT Annisa Ahmada Travelindo di Mojokerto, mereka masih menunggu kejelasan dari pihak manajemen terkait nasib dana yang telah dibayarkan maupun mekanisme refund bagi jemaah yang keberangkatannya belum terlaksana.(Sya)










Balas