Mojokerto, blok-a.com – Politeknik Internasional Tamansiswa (Politama) Mojokerto memperkuat kerja sama kelembagaan dengan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di sela kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politama Mojokerto, Senin (28/9/2026).
Kegiatan berlangsung di Kampus Politama Mojokerto, Jalan Taman Siswa No. 30, Mergelo, Purwotengah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.
Rektor UST Yogyakarta, Prof. H. Pardimin Hadiatmojo, mengatakan kerja sama antara kedua perguruan tinggi sebenarnya telah berjalan secara riil. Namun, penandatanganan MoU diperlukan untuk memperkuat dasar hukum dan legalitas kerja sama tersebut.
“Ini hanya memformalkan. Karena antara Politama dan UST itu sebenarnya sudah sama-sama Tamansiswa. Kemudian secara riil juga sudah ada kerja sama antardosen dan lain sebagainya,” ujar Prof. Pardimin.
Menurutnya, bentuk kerja sama yang telah dilakukan salah satunya berkaitan dengan kegiatan akademik. Dalam proses asesmen Beban Kerja Dosen (BKD), misalnya, UST telah melibatkan dosennya sebagai asesor.
“Misalnya tentang BKD, kemarin asesornya juga mengambil dari dosen UST. Jadi sebenarnya kerja sama sudah dilakukan. Tapi untuk memformalkan perlu adanya MoU,” jelasnya.
Prof. Pardimin menambahkan, keberadaan MoU juga menjadi penting dalam konteks akreditasi perguruan tinggi. Sebab, kerja sama yang telah dilaksanakan perlu memiliki landasan hukum yang jelas dan terdokumentasi.
“Karena ini nanti juga diperlukan terkait misalnya akreditasi. Itu ditanyakan dasar hukumnya, ada MoU-nya sudah ada apa belum. Meskipun sudah ada banyak yang dilakukan, katakanlah bukan hanya dosen tapi juga mahasiswa, tetapi kalau MoU-nya belum diteken, nanti terkait dasar hukumnya juga,” katanya.
Bidang Kerjasama UST-Politama
Ia menjelaskan, kerja sama UST dan Politama akan mencakup berbagai bidang dalam Tridarma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Ini memperkuat legal formalnya. Kerja sama ini nanti bentuknya pendidikan, penelitian, pengabdian. Di perguruan tinggi dikenal dengan Tridarma Perguruan Tinggi,” terang Prof. Pardimin.
Dalam bidang pendidikan, kerja sama dapat mencakup kesempatan mahasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di UST yang telah memiliki program pascasarjana. Selain itu, kerja sama juga dapat berupa pembimbingan kenaikan jabatan akademik bagi dosen.
“Kalau bentuknya banyak banget. Misalnya kalau pendidikan, itu misalnya kalau ingin melanjutkan studi, di UST kan sudah ada pascasarjana. Terus pembimbingan kenaikan jabatan akademik, kemudian menjadi asesor BKD. Selama ini sudah dilakukan,” paparnya.
Sementara di bidang penelitian, kedua perguruan tinggi dapat mengembangkan riset bersama. Menurut Prof. Pardimin, kolaborasi penelitian antarkampus menjadi bagian penting dalam pengembangan akademik.
“Kemudian tentang penelitian, kerja sama riset antara dua perguruan tinggi ini sangat penting. Itu tentang penelitian,” ujarnya.
Kerja sama juga akan diperluas pada bidang pengabdian kepada masyarakat, termasuk peluang pertukaran mahasiswa dan berbagai bentuk kegiatan akademik lainnya.
“Yang ketiga ini lebih luas, pengabdian masyarakat. Pertukaran mahasiswa bisa, macam-macam,” imbuhnya.
Sementara itu, Rektor Politama Mojokerto Prof. Dr. Martani Huseini mengatakan keberadaan Politama tidak terlepas dari gagasan untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi Indonesia.
Menurutnya, momentum bonus demografi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama menjelang visi Indonesia Emas 2045.
“Intinya, bahwa bonus demografi yang akan berakhir tahun 2030, Indonesia Emas 2045 ini Tamansiswa harus ikut berkontribusi,” kata Martani.
Ia menjelaskan, Tamansiswa selama ini telah memiliki lembaga pendidikan tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Karena itu, dibutuhkan kesinambungan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar lulusan SMK memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi dan pendidikan mereka.
“Salah satunya kan kita sudah punya pendidikan SMK, terusannya ke atas itu belum banyak yang memikirkan. Almarhum Pak Darwanto itu sebagai pimpinan menyepakati harus didirikan politeknik yang jurusannya ada tiga itu. Nah, itu idealismenya seperti itu,” jelasnya.
Pengembangan Politama Mojokerto
Menurut Martani, Politama telah berjalan lebih dari empat tahun dan telah menghasilkan lulusan. Ke depan, institusi tersebut ingin terus dikembangkan agar memiliki cakupan pendidikan yang lebih luas.
“Ini sudah berlangsung dan menghasilkan sarjana, berarti sudah empat tahun lebih,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengembangan Politama juga diarahkan agar institusi tersebut tidak hanya bergerak pada pendidikan vokasi, tetapi dapat berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi dengan pilihan pendidikan yang lebih beragam.
“Untuk membesarkan agar supaya ini menjadi institusi yang bukan hanya vokasi saja, ini beliau Pak Rektor dari Yogyakarta tadi kita bincang-bincang di depan tadi, kita juga membangun universitas supaya variannya lebih banyak karena kebutuhan ke depannya,” kata Martani.
Martani menuturkan, pendirian Politama juga dilatarbelakangi potensi sumber daya manusia lulusan SMK di Jawa Timur serta kebutuhan tenaga terampil di kawasan Mojokerto yang memiliki banyak sektor industri.
“Kita memiliki SDM SMK yang banyak sekali, 2.500 SMK, SMA di wilayah Jawa Timur. Mojokerto ini banyak industri. Jadi untuk mendorong supaya warga yang tadi bonus demografi tadi bisa kita tingkatkan lagi, maka kita bangun namanya Politama,” ungkapnya.
Kerja sama dengan UST Yogyakarta, lanjut Martani, juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan institusi. UST dipandang memiliki hubungan historis dan kelembagaan yang kuat dengan Tamansiswa.
“Kita karena punya saudara di Yogyakarta, namanya UST, itu mbahnya kita. Beliau maha guru kita. Pak rektornya dihadirkan di sini supaya tahu bahwa ke depan nanti Tamansiswa ikut berpartisipasi dalam memanfaatkan bonus demografi,” tuturnya.
Saat ini, Politama memiliki tiga program studi. Kehadiran Prof. Martani Huseini sebagai rektor juga diharapkan dapat memperkuat proses pengembangan akademik dan kelembagaan Politama.
“Saya sendiri warga negara dari Jakarta, dari kampus UI. Saya Tamansiswa juga,” katanya.
Selain memperkuat kerja sama dengan UST, Politama juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan pendidikan dan kegiatan kemahasiswaan.
Martani menyebut salah satu bentuk kerja sama tersebut juga akan melibatkan unsur penyelenggara pemilu di Kota Mojokerto.
“Ini ketua Panwaslu Kota, insyaallah hari ini kerja sama dengan Politama,” pungkasnya.(Sya)









Balas