Kota Malang, blok-a.com – Limbah kulit buah delima yang selama ini kerap dianggap tak bernilai, justru berhasil dimanfaatkan menjadi bahan penelitian inovatif oleh Sofia Jannatul Ma’rifah. Mahasiswi Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (Unisma) itu sukses meraih predikat lulusan terbaik ketiga pada Wisuda ke-79 berkat risetnya tersebut.
Sofia menyelesaikan studi dalam waktu 7,17 semester dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Mahasiswi asal Kabupaten Malang itu mengangkat skripsi berjudul Inovasi Antibakteri Nanopartikel Besi Ekstrak Kulit Buah Delima secara In Vitro.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut berawal dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Bersama timnya, Sofia meneliti kandungan kulit buah delima dan menemukan bahwa limbah tersebut memiliki kemampuan sebagai antibakteri.
“Sebenarnya penelitian ini berawal dari PKM. Awalnya kami hanya meneliti kandungan kulit buah delima dan ternyata terbukti bisa menjadi antibakteri,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Penelitian itu kemudian ia kembangkan lebih jauh untuk skripsinya. Sofia memanfaatkan ekstrak kulit buah delima sebagai bioreduktor guna mengubah partikel besi berukuran besar menjadi nanopartikel yang dinilai lebih efektif membunuh bakteri.
“Semakin kecil partikelnya, semakin mudah melisis bakteri sehingga efektivitasnya sebagai antibakteri juga meningkat,” jelasnya.
Menurut Sofia, penggunaan ekstrak kulit buah delima sebagai bioreduktor dipilih karena lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia yang lazim digunakan dalam proses reduksi nanopartikel.
“Kalau memakai bahan kimia tentu berpotensi mencemari lingkungan. Karena itu kami menggunakan bioreduktor alami dari ekstrak kulit buah delima,” katanya.
Penelitian tersebut dilakukan di laboratorium selama sekitar satu bulan, mulai Juli hingga Agustus 2024. Hasil risetnya kemudian berhasil dipublikasikan di jurnal ilmiah terindeks Sinta 2, sehingga membuatnya memperoleh fasilitas bebas skripsi melalui program ekuivalensi di fakultas.
Tak berhenti di situ, Sofia berencana mengembangkan penelitian tersebut untuk bidang lain. Dari hasil diskusinya bersama rekan di bidang kelautan, ekstrak kulit buah delima dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai penangkal radikal bebas hingga mendukung penelitian terkait mikroplastik.
Meski demikian, proses penelitian tidak berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah memperoleh limbah kulit buah delima sebagai bahan baku penelitian.
“Di Malang cukup sulit mencari limbah kulit buah delima. Akhirnya saya membeli buahnya langsung, bukan limbahnya. Padahal seharusnya yang digunakan limbah,” ungkapnya.
Selama menjadi mahasiswa, Sofia juga aktif di berbagai organisasi. Ia tercatat sebagai anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz (JQH), Himpunan Mahasiswa Program Studi Biologi, sekaligus mondok di Pesantren Kampus Ainul Yaqin Unisma.
Menurutnya, kunci menjalani berbagai aktivitas tersebut adalah disiplin mengatur waktu.
“Karena kegiatan di pondok, kuliah, organisasi, sampai penelitian sama-sama padat, jadi memang harus pintar membagi waktu,” ujarnya.
Di balik seluruh pencapaiannya, Sofia mengaku memiliki motivasi sederhana, yakni membahagiakan kedua orang tuanya.
“Saya ingin membuat orang tua bangga. Mereka sudah berjuang membiayai pendidikan saya, jadi saya ingin menunjukkan kalau perjuangan mereka tidak sia-sia,” tuturnya.
Usai menyelesaikan studi sarjana, Sofia berencana melanjutkan pendidikan magister melalui jalur beasiswa. Bahkan, ia menargetkan bisa melanjutkan studi ke luar negeri atas dukungan dari keluarganya. (ber)










Balas
Lihat komentar