Gresik, blok-a.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecanduan gawai di kalangan anak-anak, Eddy Susanto, seorang pria paruh baya di Gresik memilih jalan berbeda. Pria kelahiran Surabaya, 13 Mei 1963, ini mengabdikan masa pensiunnya untuk memperbaiki kualitas pendidikan anak-anak di Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Usai pensiun dari dunia perbankan, Eddy tidak berdiam diri. Ia justru memulai langkah baru dengan membuka bimbingan belajar matematika gratis bagi siswa SD dan SMP.
“Awalnya saya prihatin. Banyak anak-anak SD dan SMP nongkrong di warung kopi, pegang HP, main game online sampai lupa waktu,” ungkap Eddy saat ditemui di rumahnya yang kini difungsikan sebagai tempat les.
Berbekal ilmu yang ia pelajari dari program pascasarjana di UPN Veteran Jatim serta pengalaman mengajar sejak 2013, Eddy membentuk kelas les gratis bersama Pemdes Yosowilangon, Manyar, Gresik.
Ia mengajarkan Matematika Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan), metode hitung cepat yang ia pelajari langsung selama empat semester di BSD, Jakarta, di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya.
“Kalau anak-anak itu dilatih otaknya lewat matematika, perlahan mereka bisa lepas dari candu main HP. Saya sudah buktikan sendiri,” ujarnya.
Eddy menegaskan bahwa matematika adalah fondasi dari pelajaran lainnya, bukan hanya sekadar hitung-menghitung.
“Matematika itu dasar dari sains, ekonomi, bahkan logika dalam bahasa. Kalau anak sudah kuat di matematika, pelajaran lain akan lebih mudah dipahami. Mereka jadi terbiasa berpikir sistematis dan tidak mudah menyerah dalam menyelesaikan soal atau masalah,” jelas Eddy.
Metode yang diterapkan Eddy terbukti berhasil. Tak sedikit anak didiknya yang mencetak prestasi. Dua di antaranya, siswa SD didikannya bernama Barokha (Oka) dan Regina (Rere), berhasil lolos Olimpiade Matematika tingkat provinsi. Bahkan, Rere menembus tingkat nasional.
“Anak-anak ini sebelumnya biasa saja, tapi potensinya luar biasa. Yang penting, mereka dikasih pendekatan yang pas dan tidak ditekan,” kata Eddy.
Eddy menambahkan, sistem Gasing yang ia terapkan membuat matematika tidak lagi terkesan menyeramkan.
“Saya fokus tatap muka, karena langsung kelihatan anak-anak ngerti atau tidak. Saya juga bahas soal pelajaran sekolah dan olimpiade,” tambahnya.
Meski sudah menginjak usia 61 tahun, semangat Eddy tak luntur. Ia tetap aktif mengajar dan yakin bahwa setiap anak adalah aset bangsa.
“Tidak ada anak yang bodoh di negeri ini. Yang ada, mereka belum ketemu guru dan sistem belajar yang tepat,” terangnya.
Namun bukan tanpa tantangan. Salah satu hal tersulit bagi Eddy adalah saat harus menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
“Saya belum punya kapasitas untuk itu. Tapi saya tetap berusaha semampunya,” katanya.
Soal biaya dan fasilitas, Eddy tak mengeluh. Ia justru mendapat banyak dukungan dari para orang tua murid. Bahkan, jumlah peserta lesnya kini melebihi kuota yang tersedia di Kelurahan Yosowilangun.
Melihat tingginya antusiasme, Eddy kini tengah merancang program home schooling berbasis paket A, B, dan C dengan biaya terjangkau di tempat tinggalnya di Jalan Bondowoso, GKB, Yosowilangon, Manyar, Gresik.
“Pendidikan itu mahal, tapi jangan sampai anak-anak dari keluarga tak mampu jadi korban. Saya ingin hadirkan solusi,” ujar Eddy penuh tekad.
Selain mengajar les gratis, ia juga masih aktif sebagai dosen di UPN Veteran Jatim. Ia merupakan ayah dari empat anak yang semuanya telah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Kini, melalui rumah belajarnya, Eddy menjadi guru, motivator, sekaligus teladan di lingkungan sekitarnya. Sosok yang percaya bahwa masa depan bisa diselamatkan dengan niat tulus dan aksi nyata.
“Anak-anak itu penerus kita. Mereka harus cerdas, dan bisa berhitung. Kalau sekarang kita diam, siapa yang akan membimbing mereka?” pungkasnya.(ivn/lio)









