Di Depan Wisudawan UNU Blitar, Khofifah Sampaikan Strategi Hindari Efek Perang Rusia – Ukraina

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, di depan 225 wisudawan UNU Blitar, dalam orasi Ilmiah, Sabtu (28/1/2023), di Hall Hotel Puri Perdana , Blitar.(Pemprov Jatim)
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, di depan 225 wisudawan UNU Blitar, dalam orasi Ilmiah, Sabtu (28/1/2023), di Hall Hotel Puri Perdana , Blitar.(Pemprov Jatim)

Blitar, blok-a.com – Perang Ukraina versus Rusia berdampak kepada ekonomi global. Termasuk negara di Asia Timur dan Asia Tenggara juga terdampak.

Namun Indonesia memiliki cara tersendiri untuk menghindari efek atau dampak dari perang besar Ukraina vs Rusia tersebut.

Tokoh Indonesia yang melontarkan strategi menghindari efek perang itu adalah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Dalam suatu kesempatan orasi ilmiah di depan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar Khofifah, memberi banyak trik, dan strategi selepas diwisuda.

Sabtu (28/1/2023), Gubernur Khofifah berpesan agar lulusan sarjana UNU Blitar harus memiliki kompetensi complex problem solving. Kemampuan itu merupakan kualitas yang harus dimiliki pemimpin sejati.

Kedua, harus semangat melakukan sesuatu yang menurut orang lain impossible atau tidak mungkin.

Jadi dengan memiliki kapasitas enabler leadership maka menjadikan sesuatu jadi possible.

Di mana dia hadir akan juga selalu menjadi problem solver , terus mengasah inovasi, kreativitas dan kolaborasi untuk kita mencari solusi dari berbagai tantangan.

Di depan 225 wisudawan wisudawati yang berasal dari fakultas ilmu eksakta, fakultas ilmu sosial dan pendidikan, dan fakultas agama Islam UNU Blitar, Khofifah mengatakan, seseorang harus menjadi enabler leader atau pemimpin yang pemungkin.

Pemimpin jenis ini menjadikan sesuatu ini tidak ada yang mustahil dalam menyelesaikan masalah.

Nah, kata Khofifah, untuk menguasai peradaban dunia, pentingnya listening society, schooling society, reading society, dan writing society.

Sehingga tercipta masyarakat teredukasi yang dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman.

Trik Hindari Konflik Rusia-Ukraina

Salah satu yang digunakan Khofifah dalam membangun bangsa dan menjaga persatuan, maka toleransi dan moderasi harus dikedepankan. Karena banyak situasi kritis terjadi akibat perpecahan.

Menurut Khofifah, salah satu ilmu yang dia dapat sehingga tidak terpengaruh dampak perang antara Ukraina versus Rusia adalah konsep sederhana.

Menurut Khofifah saat berdialog dengan seorang Grand Syech Al-Azhar, dari situlah Khofifah menarik garis agar umat manusia tetap bersatu. Jangan bercerai, tetaplah bersatu.

Khofifah menegaskan bahwa pesan klasik ini tidak dinilai sederhana. “Karena bisa kita lihat bagaimana ekonomi dunia ternyata terpengaruh karena efek perang Rusia-Ukraina,” terangnya.

Maka dari itu, Khofifah mengatakan, kekuatan Indonesia ada pada moderasi dan toleransi antar sesama. Meski Indonesia memiliki 714 suku bangsa, persatuan dan perdamaian tetap dapat terjaga.

“Alhamdulillah, saya pikir sekarang society ini sudah menemukan tempat yang semakin kuat. Karena kita tidak bisa mencapai peradaban dunia tanpa memperkuat listening, schooling, reading, dan terakhir writing,” jelasnya

Menurutnya, hari ini Indonesia sudah masuk pada industri 4.0. Maka sebetulnya kompetensi pertama yang harus dimiliki adalah complex problem solving.

“Ini penting untuk menjawab perubahan yang sering muncul dengan ketidakpastian. Seperti pandemi Covid-19 pemanasan global,” ujarnya di Hall Hotel Puri Perdana, Kota Blitar, Sabtu (28/1/2023).

Khofifah meminta agar ketika menjadi pemimpin jadilah yang enabler leadership. Di sini bisa mencari kemungkinan dan solusi dari berbagai perubahan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.

Sementara itu, Rektor UNU Blitar Profesor Mohammad Mukri menegaskan, kehadiran gubernur di tengah prosesi wisuda dapat menjadi akar serabut bagi wisudawan dan wisudawati untuk membangun spirit kemajuan.

Tidak ada pilihan selain menjadi orang-orang cerdas. Ke depan harus bisa bersaing dengan kota lain bahkan negara lain.

“Kalau tidak membaca dan belajar, kita menjadi bukan siapa-siapa. Jadi sekali lagi, kita tidak punya pilihan selain menjadi masyarakat yang intelektual,” ujarnya.(kim/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?