Viral Video Sopir Palak Turis Asing di Bali, Ternyata Hanya Gara-gara Hal Ini

Tangkapan layar video aksi pemalakan sopir di Bali.
Tangkapan layar video aksi pemalakan sopir di Bali.

Banyuwangi, blok-a.com – Viral video aksi pemerasan yang diduga dilakukan oleh seorang sopir taksi konvensional di Bali. Dalam video terlihat pelaku memaksa meminta uang ke penumpang turis asing yang hendak melanjutkan perjalanan.

Terdengar pelaku meminta uang senilai Rp150 ribu. Namun turis dan guidenya yang tengah berada dalam taksi online tersebut menolak.

“Cash Hundred, cash hundred,” tawar wanita dalam video.

“Kalau Rp 150 okelah,” jawab oknum oknum sopir tersebut.

Bahkan saat sang guide menanyakan nama pelaku, ia menjawab “Itu tidak penting”.

“Itu masalah anda, karena anda sudah tidak respect sama kami, kalau gitu kita ke kantor Desa aja, kita selesaikan disana,” gertak sopir tersebut.

Setelah perdebatan panjang, korban pun menyerah dan terpaksa memberikan Rp100 ribu agar bisa melanjutkan perjalanannya.

Pelaku Ditangkap

Kasus viral ini sudah ditangani oleh Polres Badung, Bali.

Diketahui, pria dalam video tersebut adalah sopir taksi konvensional bernama Kadek Eka Putra (40).

Sementara turis yang dipalak merupakan WNA asal Singapura bernama Calysta T Ng (27) di Desa Canggu, Bali.

Saat ini kadek telah diamankan pihak kepolisian.

Kapolres Badung AKBP Teguh Priyo Wasono mengatakan, sebenarnya konflik ini tidak antara sopir taksi online dengan konvensional. Melainkan antara sopir taksi konvensional dengan turis tersebut.

Kasus ini bermula saat pegawai vila memberitahukan ada tamu yang hendak check-out dari penginapan ke Pos Transportasi Padang Linjong, Desa Canggu, pada Selasa (20/6/2023) pukul 09.50 WITA.

Pelaku lalu berkendara dengan mobil ke area vila dan menawarkan jasa transportasi kepada korban di depan sebuah restoran yang terletak di samping vila pada pukul 10.00 WITA.

Pelaku mematok biaya perjalanan dari penginapan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai senilai Rp 270 ribu. Korban menolak dan memilih menggunakan transportasi online.

“Karena awalnya sudah ditawarkan oleh pelaku untuk menaiki mobil dia dengan penawaran harga ongkos Rp 270 ribu namun ada tawar menawar akhirnya korban mencari driver taksi online sehingga dapat taksi online dan dia naik ke mobil itu. Jadi awal konfliknya adalah tetap dengan korban,” ungkapnya, Rabu (21/6/2023).

Cekcok pun terjadi karena pelaku merasa tidak dihargai. Pelaku akhirnya meminta uang Rp150 ribu agar taksi online bisa melanjutkan perjalanan. Pelaku sempat mengancam membawa korban ke kantor desa adat jika menolak.

Desa Adat Bantah Terlibat

Polisi pun telah mengonfirmasi kasus ini ke desa adat setempat. Hasilnya, tidak ada larangan taksi online beroperasi di wilayah Canggu.

Pihak desa menyebut aturan yang mengharukan pengguna taksi online harus membayar ke taksi konvensional adalah mengada-ngada.

“Di video viral yang bersangkutan menyampaikan bahwa kalau tidak mau menyerahkan uang maka diajak ke kantor desa adat itu adalah alasan dia yang selama ini terjadi tidak seperti itu,” ujar Teguh.

Teguh menegaskan, taksi konvensional memang kerap melakukan kerja sama dengan pihak hotel dan vila. Sehingga tidak kaitannya dengan desa.

“Jadi untuk desa tidak ada istilah melegalkan cuma ada kerja sama antara pihak vila dan hotel. Manakala ada tamu bisa disampaikan kepada driver lokal untuk bisa dibantu diangkut atau dibawa ke tujuannya,” bebernya.

Teguh mengatakan, perbuatan Kadek melanggar Pasal 368 KUHP dan/atau Pasal 335 dengan ancaman penjara maksimal sembilan tahun.

“Jadi kami sudah melakukan proses penyidikan, terhadap pelaku kami sangkakan Pasal 368 dan Pasal 335,” kata Teguh,

Dikecam Warganet

Aksi pemerasan tersebut mendapat beragam komentar dari warganet. Banyak yang merasa aksi ini mencoreng citra baik Bali.

“Wah parah ini jaman gini kok ada,” tulis warganet di sosial media.

“Oknum perusak citra Bali sebagai tempat wisata dunia saja,” lanjut warganet lain.(kur/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?