Trotoar Jalan Surabaya Kota Malang, Ladang Rezeki Bagi Pedagang Kaki Lima

PKL Berjejer di Jalan Surabaya Dalam Kota Malang (blok-a.com Internship/Amel)
PKL Berjejer di Jalan Surabaya Dalam Kota Malang (blok-a.com Internship/Amel)

Kota Malang, Blok-a.comTrotoar Jalan Surabaya Dalam, tepatnya di depan gerbang salah satu universitas negeri di Kota Malang, menjadi salah satu tempat strategis untuk berjualan bagi pedagang kaki lima. 

Pantauan blok-a.com, siang hingga malam hari sepanjang trotoar Jalan Surabaya dipenuhi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mencari nafkah. 

Mulanya, trotoar Jalan Surabaya Dalam digunakan  para PKL untuk berjualan dalam pasar takjil Ramadan sejak 2-3 tahun yang lalu. 

Sedari siang, mereka sudah siap dengan dagangannya di bahu Jalan Surabaya Dalam tersebut. 

Salah satu penjual telur gulung yang berasal dari pinggiran Kota Malang, Haris, membagikan kisahnya dengan blok-a.com

Haris mengaku sudah berjualan di tempat tersebut selama satu tahun. 

Targetnya adalah para mahasiswa serta anak kos yang berada di sekitar wilayah Jalan Surabaya. Telur gulung yang ia jual dengan harga Rp1.000 selalu laris manis dibeli mahasiswa dan pengguna jalan. 

“Awal mulanya soalnya kalau kayak kampus, sekolah kan anak-anak suka jajan, jadi strategis tempatnya lah gitu, jadi saya jualan disini cari yang strategis gitu cari yang suka jajan, rame,” terang Haris. 

Namun, di sisi lain Haris pun sering kucing-kucingan dengan Satpol PP setempat. Ia kerap kali mendapat surat peringatan agar tidak berjualan di tempat itu lagi. 

Meski sudah terpasang papan larangan berjualan di Jalan Surabaya, Haris mengaku telah diberi izin berjualan oleh camat setempat. Dengan catatan tetap menjaga kebersihan. 

“Saya pernah digusur Satpol PP, sama orang kampung, sama bapak camatnya. Cuma saya izin izinnya sama bapak camat gitu, kalau disini memang nggak boleh, disana harus nggak boleh semua, bener kan? jadi saya komplain, kenapa yang disana boleh disini nggak boleh gitu, akhirnya kan dikasih solusi gapapa jualan disini tapi sampean sampah-sampahnya harus dibuang gitu,” jelas Haris. 

Hingga kini, Haris masih kesulitan mencari lokasi berjualan yang strategis, selain di Jalan Surabaya Dalam. Ia pun merasa keberatan jika harus membayar biaya sewa. Lantaran hasil dagangannya pun tak seberapa.  

“Kayaknya susah ya kalau mau cari tempat yang anu yang apa ya, yang resmi itu susah mbak. Kalau yang resmi biasanya langsung bayar sewa tempat gitu, sewa tempat baru berat bagi saya,” lanjut Haris. 

Selain Haris, ada pula sepasang suami istri yang menggantungkan nafkahnya dengan berjualan cireng isi di Jalan Surabaya Dalam. 

Mifta Nurahma atau yang kerap disapa dengan Tita berjualan cireng isi mulai pukul 16.30 – 21.00. 

Tita dan suami awalnya tidak menemukan tempat jualan yang cocok, hingga akhirnya  sepakat untuk berjualan di Jalan Surabaya Dalam sejak bulan Oktober tahun lalu. 

“Awal mulanya itu karena apa ya cari cari tempat susah, terus akhirnya ketemu tempat ya disini, cocoknya di sini,” ungkapnya. 

Namun, banyak kesulitan yang harus dihadapi oleh Tita dan pasangannya. Mulai dari penggusuran hingga biaya penitipan gerobak yang mahal. 

Ia mengaku memang sering kali mendapatkan surat peringatan dari Satpol PP setempat. Namun, ia lebih memilih menghiraukannya. 

Tita dan suami yang masih tinggal di kos-kosan terpaksa menitipkan gerobaknya di penitipan yang dikelola warga setempat, agar menghemat tempat dan tidak perlu membawa gerobak jualan pulang. 

Namun, penitipan tersebut tarifnya sangat mahal. Hal itu juga sangat berat baginya, mengingat pembeli cirengnya tak menentu.

“Gerobaknya dititip di penitipan biasa, bayarnya satu bulan Rp150.000. Menurut saya kemahalan tapi banyak yang titip di situ,” tambah Tita. 

Ada pula pasangan muda yang juga mencoba peruntungannya dengan berjualan di Jalan Surabaya Dalam, Koko dan istri. 

Ia mengaku senang karena Jalan Surabaya Dalam memberikan pemasukan yang lebih dari usaha pujasera yang ia tinggalkan. Memulai jualan dari siang, tidak sampai jam 4 biasanya jualannya sudah habis dan ia bisa pulang ke rumah. 

“Awalnya sih apa ya nyari tempatnya susah terus habis itu kan awal-awal ya, awal-awal kan kita pasti belum modal ya. Nah itu saya akhirnya jualan di sini. Tapi setelah itu setelah beberapa bulan saya sempat buka cabang di Suhat. Tapi karena di Suhat itu lokasinya kurang strategis jadi saya nggak usaha lagi. Sebelumnya disana itu Cuma pujasera gitu. Ya buka disana. Tapi karena lokasinya kurang strategis akhirnya saya cocok jualan di sini juga, tapi disana udah nggak nerusin sekarang,” jelas Koko. 

Berbeda dengan penjual lain, Koko mengaku tidak pernah merasakan digusur oleh Satpol PP. Pasalnya, ia terhitung baru berjualan di tempat tersebut. 

“Saya belum pernah sama sekali. Kalau orang-orang yang lama-lama itu udah pernah. Kalau saya belum pernah,” tambah Koko.

Meski begitu, Koko menyadari bahwa berjualan di bahu jalan merupakan suatu pelanggaran. Jika tergusur, Ia berharap nantinya mendapatkan tempat yang sesuai untuk mencari nafkah. 

“Kalau digusur terus dikasih tempat yang enak sih nggak apa-apa atau ada solusinya nggak apa-apa. Kalau sekadar digusur nggak ada solusinya ya pasti orang-orang lebih milih balik sini juga kalau PKL-PKL juga kan gitu,” tutup Koko. (mg4/lio)

Penulis: Amelia Puspa Ningrum (Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?