Gresik, blok-a.com – Hujan deras yang mengguyur kawasan Surabaya, dan Gresik selama 6 jam, Selasa, 21 Februari 2023, pukul 18.30-23.40 WIB membuat air sungai Mojosarirejo meluber.
Air lantas merendam kawasan di 4 desa yakni Desa Sumput, Desa Mojosarirejo, Desa Karanggandong dan Desa Driyorejo, Kecamatan Driyorejo, Gresik.
Di lokasi terdampak yakji Perumahan De Naila Village Blok G dan Blok E air masih mengalir deras dari titik lokasi jebolnya tanggul.
Di sini total warga terdampak yaitu sebanyak 66 KK.
Seluruh warga yang terdampak lantas ditempatkan di Club House Perumahan De Naila Village.
Namun, beberapa warga juga masih ada yang bertahan di rumah masing-masing.
Camat Driyorejo Narto menyampaikan bahwa banjir di wilayah Perumahan De Naila Village merupakan kiriman dari 3 titik.
“Di sini titiknya rendah, maka aliran air mengalirnya ke sini. Sebetulnya ada solusi bikin sungai aliran Avur dan Kalitengah,” ucapnya.
Namun dari survei Dinas PU SDA, tidak memungkinkan karena kedua sungai itu elevasinya lebih tinggi dari sungai Surabaya.
Narto, mengaku telah mengusulkan untuk dibuat sudetan di wilayah Desa Cangkir.
“Hanya 2 kilometer, namun biayanya terlalu tinggi. Untuk Kali Avur butuh normalisasi sekitar 7 Kilometer dan melibatkan semua perusahaan yang di Driyorejo, senilai 950-an juta dan ini sudah bagus,” katanya.
Dia juga mengusulkan jembatan penghubung yang melintasi aliran Kali Avur ditinggikan agar alirannya normal. Kalaupun ada genangan, akan hanya lewat saja.
Di lokasi pengungsian tampak seorang warga tengah sibuk membagikan selimut.
Tita (32) adalah relawan dari komplek blok M yang sigap menyuarakan agar para korban segera dievakuasi ke Club House.
Ia mendapat berita masih ada kebocoran tanggul di blok G, Selasa (21/2) sore.
Dia segera mengajak warga untuk evakuasi sambil menunggu bantuan datang. Untungnya, para warga dengan tangkas bahu membahu.
“Saya pulang kerja dapat info di belakang Blok G jebol. Kami ajak semua warga pindah ke Club House,” jelasnya.
Melihat itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa gerak cepat meninjau lokasi terdampak banjir akibat tanggul Mojosarirejo yang jebol pada Rabu (22/2/2023) dini hari.
Kata dia banjir ini terkait sistem irigasi regional. Dia lantas khusus meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan BBWS Bengawan Solo.
“Harus dicek ulang dari kapasitas tanggulnya, kualitas dan kekokohan tanggulnya, daya tampung air hujan,” ungkapnya.
Dalam posisi seperti ini, Khofifah, kata dia jadi momentum tepat menyatukan asesmen dari BBWS Brantas dan BBWS Bengawan Solo, Pemkab Gresik dan Pemprov Jatim.
Di sini sistem yang sudah dibangun oleh Pemkab Gresik harus disinkronkan bersama-sama karena terkait penataan wilayah sungai ini ada kewenangan yang berbeda.
Melihat intensitas hujan yang cukup tinggi hampir di seluruh Indonesia termasuk Jawa Timur, kembali Khofifah mengimbau pihak terkait untuk melakukan pengecekan ulang terhadap kapasitas tanggul yang ada di masing-masing titik.(kim/lio)










Balas
Lihat komentar