Selain Joko Kendil, Beberapa Orang Ini Juga Jadi Musafir

Mbah Joko Kendil, sosok musafir yang mendadak viral di TikTok karena mengaku telah mengelilingi Pulau Jawa selama 21 tahun terhitung sejak tahun 2001 hingga sekarang, dan berniat berhenti berkelana pada tahun 2025 mendatang.

Musafir ini berpenampilan nyentrik, dengan pakaian serba hitam dan caping ala petani, serta mamakai kalung tasbih. Meskipun berpenampilan sedikit aneh, Mbah Joko Kendil tetap disegani banyak masyarakat.

Bahkan Mbah Joko Kendil kerap diberi uang ataupun bekal makanan untuk perjalanannya. Bukannya dinikmati sendiri, pemberian rezeki itu justru malah disalurkan kepada seseorang yang lebih membutuhkan.

Menariknya, meskipun terlihat telah berjalan kaki beribu-ribu kilometer, Mbah Joko Kendil tak sedikitpun merasa lelah. Hal tersebut dikarenakan ia mengaku menunggangi seekor macan putih selama perjalanannya.

Hingga saat ini, video Mbah Joko Kendil masih beredar diberbagai platform khususnya TikTok. Banyak warganet yang menganggap bahwa Mbah Joko Kendil memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga dapat bertahan sampai saat ini.

Mungkin sebagian masyarakat belum mengetahui apa arti musafir yang sebenarnya. Musafir adalah orang yang melakukan suatu perjalanan ziarah dengan menempuh jarak yang cukup jauh. Hal ini dilakukan biasanya dengan mengunjungi suatu tempat yang mempunyai makna keagamaan.

Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa musafir yang juga melakukan perjalanan bertahun-tahun sama seperti yang dilakukan Mbah Joko Kendil. Siapa sajakah orang tersebut? Berikut deretan orang musafir yang telah dirangkum blok-A.com.

Mbah Amat (Jombang)

Mbah Amat merupakan musafir yang memulai perjalanannya sejak dirinya masih dibangku Sekolah Dasar (SD). Wilayah-wilayah yang telah dilaluinya diantaranya adalah Banten, Ujung Kulon, Pulau Madura, dan masih banyak lagi.

Selama perjalanan, Mbah Amat hanya membawa beberapa baju untuk ganti. Ia juga tidak memikirkan soal makanan ataupun tempat tidur. Mbah Amat mengaku kerap tidur di kuburan atau makam.

Berbagai macam tempat petilasan juga sudah ia singgahi mulai dari Keraton Jawa, Alas Purwo, Goa Jepang, dan lain-lain.

Berbagai amalan-amalan telah dilakukan Mbah Amat untuk mencapai ridha Allah Swt. Bahkan pada tahun 1985, Mbah Amat memiliki sebuah tanah berhektar-hektar yang diwakafkan untuk pembangunan masjid.

Tujuan Mbah Amat dalam melakukan musafir ini bukanlah untuk mendapatkan kesaktian semata, namun dirinya hanya ingin bisa menjawab semua pertanyaan yang kelak akan dipertanyakan saat ia dipanggil oleh Maha Kuasa.

Abas (Semarang)

Abas merupakan seorang pria berusia 58 tahun asal Semarang yang memutuskan untuk menjadi musafir sejak tahun 2000 lalu. Keputusan tersebut diambil Abas setelah rumah tangganya mengalami keretakan akibat lemahnya ekonomi serta orang ketiga.

Terhitung hingga saat ini, Abas telah berkelana diberbagai daerah selama kurang lebih 22 tahun. Daerah pertama yang menjadi tujuan Abas kala itu adalah Sragen Jawa Tengah. Setelah itu Abas melakukan perjalanan menjelajahi Pulau Madura selama 10 tahun.

Abas memilih masjid sebagai tempat peristirahatan sekaligus beribadah. Ia tak pernah khawatir akan kelaparan, karena dirinya juga kerap diberi makan oleh orang-orang dermawan dijalan.

Perjalanan itu dilakukan Abas dengan tujuan untuk mencari jati diri. Bahkan ia kerap dianggap gila karena selalu berjalan tanpa tujuan. Namun semua tanggapan itu tak didengarkan oleh Abas, karena menurutnya hal tersebut merupakan konsekuensi atas keputusannya menjadi musafir.

Seto (Lampung)

Orang selanjutnya yang memutuskan untuk musafir adalah Pak Seto. Pak Seto merupakan seorang pria asal Lampung yang telah berkelana diberbagai daerah di Indonesia selama 15 tahun. Dalam perjalanannya Pak Seto hanya membawa tas ransel dan berpakaian sederhana dengan memakai topi.

Selama perjalanannya, Pak Seto kerap mengunjungi makam-makam para habib. Pak Seto mengaku sebagai santri di Pondok Pesantren yang terletak di Banten. Perjalanan sebagai musafir menurutnya sebagai perintah.

Tujuannya menjadi musafir dengan tirakat berjalan kaki keliling Nusantara ternyata sangat mulia. Bukan karena ingin jalan-jalan biasa. Pak Seto punya cita-cita mendirikan pondok pesantren. (hen/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com