Kota Malang, blok-A.com – Komoditas tebu terus mengalami penurunan akibat minimnya lahan di Jawa Timur. Pada kesempatan kali ini DPR RI Komis IV melakukan kunker untuk pengentasan permasalahan tersebut, Kamis (15/09/2022).
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erma Rini melakukan kunker serta berdiskusi bersama dengan kelompok petani tebu di Jawa Timur yang diwaliki oleh ketua Pusat Koperasi Petani Tebu Nusantara (PKPTN) Muhammad Khamim.
Khamim mengatakan menurunnya produktifitas tebu ini disebabkan dari minimnya lahan tebu di Jawa Timur, hal ini berbanding terbalik dengan banyaknya pabrik baru serta dihapusnya peraturan pemerintah. Peraturan tersebut terkait peraturan pendirian pabrik yang sebelumnya di wajibkan mempunyai lahan seluas 20% pertahunnya.
Tidak hanya itu, ketua PKPTN ini juga meminta pemerintah agar hadir di tengah tengah petani tebu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kita minta bibit yang betul betul cocok dengan keadaan tanah kita, kan tanah kita kan macem macem. Sedangkan kita sebagai petani kecil tidak mempunyai alat alat untuk melihat bibit mana yang cocok untuk lahan kami,” jelas Khamim.
Sedangkan, saat disunggung terkait subsidi pupuk yang telah dihapuskan oleh Pemerintah Khamim selaku kelompok tani hanya bisa pasrah.
“Kalau soal pupuk kami fleksibel, kalau mau dicabut cabutlah, biar tidak ada prasangka yang jelek jelek kasian petani,” tambahnya.
Akan tetapi Khamim berharap pasca panen pemerintah dapat hadir ditengah tengah petani untuk mendiskusikan terkait subsidi seperti apa yang layak untuk petani.
“Saya harap setelah panen pemerintah dapat hadir untuk menanyakan langsung kepada petani, mau subsidi berapa atau mau disamakan dengan Thaliland,” paparnya.
Sebagai informasi tambahan, di Thaliand subsidi untuk petani tidak kurang dari 30%.
Terpisah, Wakil Ketua DPR RI, Anggia Erma Rini menyinggung terkait peraturan yang telah di hapuskan pemerintah, menurutnya hal tersebut merupakan hal yang aneh.
“Terus terang kebijakan ini aneh, karena banyak pabrik tebu yang bermunculan namun sebenarnya bahan baku sangat kurang,” jelasnya.
Pasokan tebu di Jawa Timur disebut Anggia sebagai tebu wisata, pasalnya pasokan tebu dari Malang dibawa ke Madiun lalu dari Madiun dibawa ke Blitar setelahnya dari Blitar di kirim ke Malang lagi. Anggia menyebutkan, hal tersebut juga berdampak terjadinya laka lalu lintas di wilayah perlintasan tebu wisata.
“Mereka punya pabrik tapi tidak punya lahan binaan sendiri, jadi tebu dari Malang di kirim ke Madiun, dari Madiun dikirim ke Blitar lalu dari Blitar di kirim ke Malang lagi,” paparnya.
Diakhir Anggia mengatakan akan menjalin mitra kerja dengan para petani untuk memenuhi produktifitas tebu, selain itu Anggia juga akan menyerap aspirasi dari para petani untuk di jadikan landasan dan di rapatkan di pusat.
“Kita komisi IV punya komitmen yang kuat terhadap petani tebu, jadi kita sangat betul betul kerja sama dengan petani tebu di Malang,” pungkasnya Anggia.
Sedangkan Direktur Bulog Kebun Agung mengatakan, sentra produksi gula terdapat di kebun tebu bukan pada pabriknya. Menurutnya yang terpenting adalah perluasan lahan bukan menambahkan pabrik baru tanpa lahan.
“Dengan demikian ia menegaskan cara satu satunya memperluas lahan bukan dengan pendirian pabrik baru tanpa lahan, karena ini untuk menambah kekurangan produksi sebanyak 1,3 Juta Ton,” paparnya. (mg2/bob)










Balas