Pernyataan Sutiaji ‘Demo pada Tuhan Jika Belum Puas’ Bikin Aremania Panas

sutiaji balaikota
Aremania berhenti 10 menit di depan Balai Kota Malang. (ist)

Kota Malang, blok-a.com – Aremania sempat berhenti ketika melewati depan Balai Kota Malang pada Kamis (8/12/2022) sekitar pukul 15.30 WIB.

Mereka sekira 10 menit berada disana untuk meminta klarifikasi dari Wali Kota Malang, Sutiaji atas pernyataan yang disampaikannya saat Forum Grup Discussion (FGD) jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada Jumat (2/12/2022) lalu.

Saat itu, Sutiaji sempat berkata untuk berdemo kepada Tuhan jika berbagai aksi yang dilakukan dirasa masih belum memuaskan. Karena, menurut Sutiaji, hanya Tuhan-lah yang maha adil.

“Kalau tidak puas, maka ya kita protes pada Tuhan, kita demo pada Tuhan, karena Tuhan itu maha adil dan maha hebat,” kata Sutiaji, Jumat (2/12/2022) lalu.

Pernyataan Sutiaji itu pun geger di kalangan Aremania.

“Ji metuo ji, maksudmu opo ngomong menuntut keadilan nang Tuhan (Sutiaji keluar, maksudnya apa mengatakan menuntut keadilan ke Tuhan),” kata salah satu Aremania.

Namun, rupanya aksi mereka tidak digubris oleh Sutiaji yang juga tidak kunjung keluar dari Balai Kota Malang. Aremania itu kemudian melanjutkan perjalanannya.

Di sisi lain, ribuan Aremania melakukan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan yang belum tercapai dari Tragedi Kanjuruhan.

Mereka menutup jalan di wilayah pintu masuk Kota Malang, tepatnya di Exit Tol Karanglo, Singosari Kabupaten Malang. Seluruh jalur utama termasuk underpass pun mereka tutup total dengan kendaraan maupun spanduk.

Ribuan Aremania itu menguasai persimpangan Exit Tol Karanglo kurang lebih hampir satu jam. Mulai pukul 12.30 WIB hingga pukul 13.30 WIB.

Salah satu Aremania, yakni Ambon Fanda mengatakan, bahwa Aremania meminta maaf atas aksi yang dilakukan karena menggangu para pengendara yang melintas.

Dia menyampaikan, bahwa Aremania ingin masyarakat bisa lebih membuka kembali hati nurani dan empati atas meninggalnya 135 nyawa dalam Tragedi Kanjuruhan Malang.

“Otomatis kita memang bikin macet. Sedikit mengganggu perekonomian, ya kami mohon maaf. Tapi mohon empati nurani kalian buka kembali, lihatlah apa yang terjadi di Kanjuruhan,” kata Ambon pada Kamis (8/12/2022).

Menurut Ambon, jika Aremania diam saja atas keadilan yang belum didapatkan oleh korban maupun keluarga korban Kanjuruhan, kasus ini akan hilang begitu saja.

Oleh sebab itu, menurutnya, satu-satunya jalan mencari keadilan selain melakukan laporan model B ke pihak berwajib yakni dengan aksi turun jalan menjadi solusi.

“Kalau ini bikin macet, apa kabar mereka yang ditinggal saudaranya meninggal di Kanjuruhan. Bagaimana mereka mau cari keadilan. Negara ini butuh sesuatu yang heboh, baru diperhatikan. Kalau kita diam, negara akan lalai seperti kasus lainnya. Itu lah kenyatannya,” tandasnya.

Sebelumnya, Sutiaji menyampaikan tiga permintaan atas aksi turun jalan ribuan Aremania. Diantaranya, penyampaian aspirasi mingguan Aremania diminta untuk tidak mengganggu stabilitas Kota Malang.

Kemudian, meski tujuan berdemo merupakan hal yang baik untuk menuntut keadilan, tetapi Sutiaji khawatir ada banyak orang tak menghendaki aksi tersebut untuk menutup jalur kendaraan di sejumlah titik.

Sutiaji juga berharap, jangan sampai citra Arema yang kondusif dan damai akan rusak karena ditumpangi oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab.

“Jadi kalau bisa doa dimana-mana, tapi jangan di tengah jalan juga. Malang Kucecwara bergelora,” katanya. (mg1/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com