Strategi Gus Fawait Gandeng Jaringan Guru Ngaji Jember untuk Sosialisasi Berobat Gratis

Bupati Jember Gus Fawait dalam agenda Bunga Desaku di Pemandian Patemon, Tanggul, Selasa (28/7/2026) (foto: istimewa)
Bupati Jember Gus Fawait dalam agenda Bunga Desaku di Pemandian Patemon, Tanggul, Selasa (28/7/2026) (foto: istimewa)

‎Jember, Blok-a.com – Pemerintah Kabupaten Jember menerapkan strategi komunikasi publik unik dan berbasis kultural guna mengatasi kendala macetnya penyebaran informasi program pembangunan di tingkat bawah.

Memanfaatkan momentum kegiatan Bunga Desaku di Pemandian Patemon, Tanggul, Selasa (28/7/2026), Bupati Jember Gus Fawait mengonsolidasikan jaringan guru ngaji dan pimpinan kelompok pengajian perempuan (muslimat/fatayat). Mereka akan berperan sebagai agen humas resmi pemerintah untuk menyosialisasikan jaminan berobat gratis berbasis Universal Health Coverage (UHC).

‎Langkah pelibatan tokoh agama akar rumput ini diambil setelah Pemkab melakukan evaluasi metode komunikasi. Pemkab menemukan bahwa media digital seperti situs web dan media sosial milik instansi pemerintah, kurang efektif menembus masyarakat perdesaan, khususnya kalangan lansia dan warga kurang mampu.

Sebaliknya, institusi informal seperti majelis taklim, pengajian selapanan, dan madrasah diniyah memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi (high-trust community). Pesan yang disampaikan oleh seorang guru ngaji dinilai jauh lebih didengar dan dipatuhi oleh jemaah daripada spanduk formal birokrasi.

‎”Kami titip pesan kepada ibu-ibu dan para guru ngaji, tolong sampaikan informasi program berobat gratis ini kepada jemaah dan wali santri, agar tidak ada lagi warga Jember yang ragu berobat ketika sakit,” pungkas Gus Fawait di tengah dialog interaktif bersama para tokoh keagamaan.

‎Melalui strategi door-to-door kultural ini, guru ngaji dibekali pemahaman materi dasar mengenai UHC. Saat aktivitas belajar-mengajar mengaji atau arisan pengajian mingguan berlangsung, para pendidik agama dapat menyelipkan informasi kemudahan berobat ke puskesmas, cukup dengan membawa KTP Jember.

Jika guru ngaji menemukan ada wali santri atau tetangga sekitar yang sedang menderita sakit namun takut ke dokter karena miskin. Mereka bisa langsung mengarahkan dan mendampingi warga tersebut ke faskes terdekat tanpa keraguan finansial.

‎Sinergi ini dinilai sebagai bentuk hubungan timbal balik yang harmonis antara negara dan elemen pembentuk karakter bangsa. Di satu sisi, Pemkab Jember berkomitmen menjamin kesejahteraan harian para guru ngaji melalui kepastian pencairan insentif APBD pada September 2026.

Di sisi lain, korps guru ngaji memberikan kontribusi balik dengan ikut serta menyukseskan program pemerataan kesehatan inklusif. Pendekatan ini diyakini akan mempercepat tercapainya target Jember bebas dari warga telantar sakit, sekaligus memperkuat ketahanan sosial berbasis nilai gotong royong keagamaan. (fah)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com