Kota Malang, blok-a.com – Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu, membuat hidup pelaku UMKM di Kota Malang Rully Hery Siswoyo dan istri Riza Wirianti cukup hancur.
Bisnis yang dibangun sejak 2015 berupa es krim mochi hancur. 80 persen produknya dikembalikan reseller. Freezer dan peralatan lainnya jadi tidak berguna.
Namun dia sempat berusaha, dengan menjual paket isoman dan produk frozen food. Sempat bangkit namun 2021 saat New Normal berlangsung merosot lagi.
“Tapi tidak bertahan lama, penjualan semakin menurun,” kata dia.
Hidupnya sejak itu, mulai redup. Dia dan istri hanya bisa menyukupi untuk sekadar makan saja sehari-hari
Padahal, Rully waktu itu mempunyai tanggungan seperti sejumlah cicilan yang harus dibayar setiap bulannya. Alhasil, dia tidak bisa membayar cicilan mobil.
Keterpurukan pun terjadi. Mobilnya ditarik oleh Debt Collector karena tidak membayar cicilan beberapa bulan.
“Mobil kami yang biasa kami gunakan, sudah ditarik,” kata dia.
Pendatang asal Kota Surabaya itu mengatakan, hidupnya waktu itu seperti dijatuhkan dari langit ke-7.
“Kayak dikeplek-keplek terus dibanting mas,” kata dia ke blok-a.com.
Mulai Bangkit, tapi Tester Produk UMKM-nya Dibuang ke Sampah
2021 Rully mulai mencoba bangkit. Dia dan istri berpikir usaha apalagi yang bisa membuat mereka hidup dan menghidupi kelurganya.
Dia pun tercetus ide untuk membikin produk UMKM berupa jajanan kering atau snack.
“Karena bisa bertahan lama mas saya pikirnya begitu karena kan ini kami jual ke wisata seperti hotel dan oleh-oleh,” kata dia.

Snack-nya pun ada dua. Pertama adalah kue shoes kering. Shoes kering-nya pun tidak hanya sekadar shoes kering. Dia memberikan isian seperti coklat, keju, dan apel.
Kedua ada pizza kering. Snack pizza kering ini merupakan inovasinya agar bagaimana pecinta pizza bisa makan dengan cara baru, yakni seperti makan snack.
“Ide itu tercetus pada 2018. Saat istri saya dulu bikin pizza terus ada sisa. Dan coba saya keringkan dan kami sempurnakan hingga 2021 baru mulai,” kata dia.
Dua produk itulah yang membuat Rully yakin waktu itu akan bangkit. Dia ikuti sejumlah pelatihan dan mengurus perizinan.
Gagal dan gagal lagi dalam penjualan sudah tidak membuatnya gentar.
Bahkan dia mengisahkan kegagalan itu membuatnya malah semangat. Contohnya adalah saat dia di kereta dari Jakarta menuju ke Malang.
Di sana dia membawa tester untuk produk UMKM-nya. Bungkusnya kecil dan dibungkus alumunium foil dan plastik.
Dia bagikan ke penumpang di kereta. Namun hancur hatinya, saat melihat ada orang yang baru dikasih tester produk-nya langsung dibuang ke sampah.
“Saya di situ kayak nelangsa. Padahal itu ya layak mas. Tapi kok dibuang. Saya sempat mau meneteskan air mata. Tapi saya memahami mungkin orang itu curiga karena kan dibagikan di kereta sama orang yang gak dikenal,” jelasnya sambil matanya berkaca-kaca.
Dari kejadian tidak mengenakkan itu, pria yang sudah tinggal di Kota Malang ini berjanji dan yakin bahwa suatu saat produk UMKM-nya bakal laku keras.
Perjalanan Dibantu Program Pemkot Malang
Kebangkitan Rully Heri Siswoyo sendiri cukup tepat dengan program Pemkot Malang yang fokus pada pengembangan UMKM warga-nya.
Pemkot Malang pada tahun 2022 lalu mengalokasikan miliaran rupiah untuk bangkitkan ekonomi Pasca Covid-19 salah satunya untuk UMKM.

Rully pun mengikuti salah satu program Pemkot Malang yang ada di Diskopindag Kota Malang. Dia menjadi salah satu pelaku UMKM yang mengikuti program pendampingan UMKM selama satu tahun.
Dua produk-nya, pizza kering dan soes kering itu disempurnakan di pelatihan dan pendampingan dengan biaya gratis itu.
Tak hanya itu masalah perizinan hingga sejumlah sertifikasi yang dibutuhkan untuk produk UMKM-nya itu dibantu dan beberapa dibiayai Pemkot Malang.
Rully pun menceritakan, salah satu contoh penyempurnaan produk kue soes kering itu ia juga dapat dari program pendampingan UMKM.
Soes-nya waktu itu biasa saja. Banyak yang menjual soes juga dimana-mana. Saingannya juga banyak.
“Terus di situ ada pegawai dari Diskopindag ibu Asih Siswanti yang menyarankan agar soes-nya diberi isian saja di dalamnya. Cara makannya juga lebih mudah. Dari pada isiannya dicocol dan dipisah,” kata dia.
Rully dan istri pun sempat berpikir. Ide itu memang bagus. Itu akan menjadi terobosan dan mempermudah konsumen-nya untuk makan snack.
Namun masalah muncul. Mengisi setiap kue soes itu membutuhkan waktu yang banyak. Sebab dia tidak punya alat dan harus manual.
Lantas, karena kengototannya untuk berhasil dan bangkit, dia lalu nekat. Dia bagi tugas dengan istrinya. Pagi sampi sore istri-nya dengan manual mengisi setiap kue soes kering dengan isian selai coklat hingga keju.
“Sore sampai malam saya. Jadi gantian. Dan itu kami lakukan terus,” kata dia.
Dengan cara itu, dia pun lalu memproduksi 500 pcs kue soes kering-nya. Masalah pun muncul lagi waktu itu.
Desain produk-nya terlalu sederhana. Cuma berupa plastik dan ditempeli stiker.
Hal ini pun dia minta pendapat ke pendamping dari Diskopindag Pemkot Malang. Untungnya waktu itu, Diskopindag mempunyai program dimana setiap UMKM akan mendapat desain gratis dan dicetakkan 500 pcs.
“Itu yang membantu saya mas. Desain-nya itu dibantu mereka dan dapat gratis 500 pcs,” kata dia.
Desain-nya pun cukup membuat orang tergiur. Ada lumeran coklat atau keju di sekitar soes-nya. Hal ini membuat pembeli akan tertarik saat melihat di rak produk yang ada di toko oleh-oleh.
“Desain ini pasti akan langsung membuat orang ingin beli. Karena menarik kan mas. Ada lumerannya dan gak hanya sekadar plastik saja dan bagus gitu loh,” kata dia.
Benar saja, 500 pcs awal itu langsung ludes. Awalnya Rully dan istri Riza mengaku itu terlalu banyak.
Namun karena permintaan semakin banyak, dan mereka mulai memgembangkan bisnis. Ternyata 500 pcs itu sedikit.
“Ya awalnya kami kira banyak. Ternyata itu sedikit dan habisnya alhamdulillah cepat,” kata dia.
Kini di tahun 2023, produk UMKM-nya itu sudah mempunyai 50 re-seller atau mengirim produk-nya ke 50 toko oleh-oleh.
4000 pcs sekarang setiap bulan-nya dikirim ke 50 toko yang tersebar di kota-kota besar di Jawa hingga Bali.
“Sekarang kami kirim ke 50 toko oleh-oleh atau tempat wisata sampai Bali,” ujarnya.
Hidupnya kini pun mulai membaik. Sempat terpuruk sampai mobil-nya ditarik debt collector, kini dia mempunyai lima pegawai.
Rumah-nya yang berada di daerah Sawojajar Kota Malang kini menjadi tempat produksi produk UMKM-nya.
“Alhamdulillah kita sekarang juga mempunyai lima pegawai. Warga sekitar dan tetangga,” kata dia.
Rully dan Riza pun kin menikmati buah hasil pantang menyerah dan terus berinovasi-nya di dunia UMKM. (bob)










Balas
Lihat komentar