Mengenang Gombloh dan Perjalanan Hidupnya di Museum Musik Dunia JTP 3 

Gombloh
Patung Lilin Gombloh di Museum Musik Dunia. Foto: Aga

KOTA BATU – Ada banyak musisi legendaris Indonesia yang patung lilin dan tributnya dipajang di Museum Musik Dunia Jatim Park (JTP) 3, salah satunya adalah penyanyi dan seniman terkenal Gombloh.

Mungkin nama Gombloh sedikit asing di teling masyarakat Indonesia kini. Namun, kontribusinya dalam dunia musik Indonesia dan kariernya sebagai seniman sangat melegenda di kalangan penggemarnya.

Gombloh, pria kelahiran Jombang, 12 Juli 1948 ini adalah seorang penyanyi asal Indonesia. Ia memiliki nama asli Soedjarwoto. Kedua orangtuanya meninggalkan rumahnya di daerah Genteng, Surabaya akibat agresi militer Belanda II, kemudian menetap di kota Jombang.

Gombloh lahir dalam pengungsian mereka di daerah Tawangsari, Jombang. Di kemudian hari, Ia menambahkan sendiri nama ‘Soemarsono’ di belakang namanya.

Jadilah ia bernama lengkap ‘Soedjarwoto Soemarsono’. Di samping itu, semenjak kecil Ia juga mendapat julukan ‘Gombloh’. Julukan yang sebenarnya bermakna ‘Nggomblohi’ atau ‘pura-pura bodoh’, namun membawa hoki dalam kariernya.

Gombloh adalah anak keempat dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Patukha. Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikan dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik.

Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS. Ia sering bolos dari kampus teknik yang terkenal dengan disiplin terketat di Indonesia itu.

Walau akhirnya keluar dan tidak memiliki gelar akademik dari ITS, Gombloh dipandang sebagai sosok yang memberi jiwa kemanusiaan, kebangsaan, dan kemanusiaan oleh para mahasiswa alumnus ITS Surabaya hingga kini.

Band pertama Gombloh bernama ‘The Dangerous’ dibuat saat masih SMP dan membawakan lagu-lagu The Beatles. Di kemudian hari, Gombloh juga membentuk band ‘The Sheeryl’ setelah kepulangannya dari Bali. Kariernya terus meroket setelah ia sukses membentuk band ‘Lemon Tree’s anno ’69’.

Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit pada paru-parunya. Kebiasaan merokoknya sulit dihilangkan dan ia dikabarkan sering begadang.

Menurut salah seorang temannya, beberapa waktu sebelum meninggal, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin.

Pada 1996, sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu.

Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com