Blok-a.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) akan menggelar unjuk rasa bertajuk “Indonesia Cemas Jilid II” pada awal September 2025. Aksi ini merupakan lanjutan dari demonstrasi serupa yang digelar pada 28 Juli 2025 di kawasan Monas, Jakarta Pusat.
Koordinator Forum Perempuan BEM SI wilayah Jabodetabek-Banten, Fatin Humairo, mengonfirmasi rencana tersebut, yang awalnya disebutkan akan digelar Jumat, (29/8/2025).
“Diundur ke awal September. Terkait tanggal spesifiknya sendiri akan dimusyawarahkan lagi dan ditetapkan kemudian,” ujarnya, dikutip dari Kompas, Kamis (28/8/2025).
Keputusan menggelar aksi susulan ini diambil setelah pemerintah dinilai tidak memberikan respons yang memuaskan terhadap 11 poin tuntutan mahasiswa yang diserahkan pada demo sebelumnya.
Fatin Humairo menyatakan bahwa satu bulan setelah demo 28 Juli, pemerintah belum menunjukkan tindak lanjut yang konkret.
“Di aksi tersebut, Wamensesneg turun dan menemui massa aksi. Tapi kemudian pihak pemerintah ternyata tidak menindaklanjuti secara serius tuntutan dari kami hingga sekarang,” ungkap Fatin.
Demonstrasi “Indonesia Cemas” yang digelar pada 28 Juli 2025 menjadi aksi mahasiswa terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah berkumpul di kawasan Silang Selatan Monas dan membacakan 11 poin tuntutan.
Tuntutan mahasiswa mencakup berbagai isu strategis, antara lain penolakan revisi sejarah, transparansi perjanjian ekonomi, kritik terhadap sektor pertambangan, hingga desakan pembatalan RUU Polri dan percepatan RUU Perampasan Aset, sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat.
Mahasiswa juga menolak RUU KUHAP yang dinilai melemahkan hak asasi manusia, menyoroti isu dwifungsi TNI, hingga mengkritik kedekatan pemerintah dengan kalangan oligarki.
Aksi yang berlangsung hingga malam hari tersebut diakhiri dengan kehadiran Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro yang datang mewakili Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo.
“Tidak benar Presiden mengabaikan aspirasi mahasiswa. Semua akan ditampung, dikaji, dan diambil tindakan jika sesuai dengan kepentingan bersama,” kata Juri kepada massa demonstran, sebagaimana dilansir detik.com.
Sebagai bentuk komitmen, Juri kemudian menandatangani bundel dokumen tuntutan di hadapan massa. Namun, hingga saat ini, pemerintah belum memberikan jawaban detail mengenai tindak lanjut 11 tuntutan mahasiswa. Kementerian Sekretariat Negara hanya menyatakan bahwa aspirasi sudah diteruskan kepada Presiden tanpa penjelasan lebih lanjut.

Rencana Demo Susulan
Demo susulan awalnya dijadwalkan pada 29 Agustus 2025, melanjutkan aksi massa pada hari sebelumnya yang berakhir ricuh hingga memakan korban jiwa. Namun, rencana ini kemudian diundur ke awal September. Menurut laporan Tempo, BEM SI ingin aksi lebih fokus dan tidak ditunggangi kepentingan politik tertentu.
Rencana demo susulan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama setelah aksi Juli lalu diwarnai insiden yang menelan korban jiwa. Seorang pengemudi ojek online tewas tertabrak kendaraan taktis Brimob saat bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan pecah di Jakarta.
“Kalau demonya damai tidak apa-apa, tapi kalau sampai rusuh lagi seperti bulan lalu, ya kami takut,” kata Siti Rahma, warga Gambir.
Pedagang kecil juga mengkhawatirkan dampak ekonomi dari demo besar-besaran. Agus, penjual nasi uduk di kawasan Harmoni, mengaku usahanya selalu sepi ketika ada demonstrasi besar. “Kalau bisa jangan sampai rusuh, soalnya kami yang kecil-kecil ini ikut rugi,” keluhnya.
Data dari Asosiasi Pedagang Kaki Lima Jakarta menunjukkan omzet pedagang kecil bisa turun hingga 40 persen saat jalan-jalan utama ditutup akibat demonstrasi.
Di media sosial, tagar #IndonesiaCemasJilidII sempat masuk trending topic. Warganet aktif membicarakan 11 tuntutan mahasiswa yang dianggap menyentuh langsung kepentingan masyarakat luas.
BEM SI kini memperluas jaringan untuk aksi September mendatang. Sejumlah kampus dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sumatra siap bergabung dalam gelombang demonstrasi tersebut.
Jika rencana ini terealisasi, aksi September diperkirakan akan lebih besar dibandingkan gelombang demo 28 Juli yang telah melibatkan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah.
Sementara itu, aparat keamanan dilaporkan telah mulai bersiap menghadapi kemungkinan gelombang massa yang lebih besar pada awal September mendatang. (mg1/gni)
Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)










Balas
Lihat komentar