KOTA BATU – Selain melihat beragam jenis alat musik, pengunjung Museum Musik Dunia di JTP 3 juga dapat belajar genre musik keroncong asli Indonesia.
Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara.
Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta membuat musik ini sepi pendengar.
Bentuk awal musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka namun dengan ritme yang agak lamban), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai.
Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara dalam keroncong, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.
Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah Gesang. Di Museum Musik Dunia, ada satu spot khusus yang isinya adalah tribut untuk Gesang.
Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana.
Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah lagu Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itu, Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia.
Gesang menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang di Jakarta (Tugu, Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat; sedangkan setelah pusat perkembangannya pindah ke Solo (MASA KERONCONG ABADI: 1920-1960), iramanya menjadi lebih lambat.
Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer dan musik rock yang berkembang sejak 1950.
Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia hingga Asia Tenggara hingga sekarang.










Balas
Lihat komentar