Banyuwangi, Blok-a.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi menorehkan prestasi gemilang. Tiga warga binaannya berhasil menyelesaikan penulisan Al-Quran raksasa berukuran 1 meter x 1 meter yang kini menjadi sarana utama tadarus bersama selama bulan suci Ramadan.
Karya monumental ini merupakan buah dari program pembinaan berbasis pondok pesantren di Lapas Banyuwangi, khususnya di bidang seni kaligrafi.
Ketiga warga binaan yang terlibat dalam penulisan Al-Quran raksasa tersebut awalnya tidak memiliki dasar ilmu menulis Al-Quran maupun kaligrafi. Kemampuan tersebut mereka dapatkan melalui bimbingan intensif hasil kerja sama Lapas dengan perajin kaligrafi profesional.
Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, mengungkapkan bahwa proses penulisan dimulai sejak Ramadan 1445 H (Maret 2025) dan diselesaikan dengan penuh ketelitian. Pengerjaan Al-Quran raksasa ini memakan waktu kurang lebih 10 bulan.
“Al-Quran ini adalah bukti keberhasilan pembinaan berbasis pondok pesantren kami. Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu melahirkan mahakarya yang luar biasa ini,” ujarnya, Kamis (5/3/2026), seperti dilansir dari keterangan tertulis Humas Lapas Banyuwangi.
Wayan menambahkan, aspek akurasi ayat menjadi prioritas mutlak. Sebelum digunakan secara resmi, naskah Al-Quran tersebut telah melalui proses tashih (pemeriksaan) mendalam oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Quran.
“Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada bagian-bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk kedua kalinya guna memastikan kualitas fisik dan kerapiannya. Kami berharap karya ini membawa manfaat, berkah, serta memotivasi warga binaan lain untuk terus berkarya,” imbuhnya.
Sementara itu, Moch. Chanafi, salah satu dari tiga penulis utama Al-Quran tersebut, merasakan kebanggaan mendalam. Baginya, perjalanan selama 10 bulan menulis Kalamullah ini menjadi sarana refleksi dan pendewasaan spiritual yang sangat berharga.
“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Quran raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali. Selama menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti. Saya menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang saya goreskan,” ungkapnya.
Kini, Al-Quran raksasa tersebut menjadi pusat kegiatan religius di Lapas Banyuwangi. Keberadaannya bukan sekadar simbol kreativitas, melainkan representasi semangat hijrah dan transformasi positif para warga binaan dalam menjemput masa depan yang lebih baik. (kur/ova)









Balas