Malang, blok-a.com – Universitas Islam Malang (UNISMA) menggelar kuliah tamu dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 dengan menghadirkan Dr. (HC). KH. Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Situbondo, Jumat (30/10/2026).
Mengangkat tema “Islam, Negara dan Syariat Agama”, kegiatan ini diikuti mahasiswa Pascasarjana UNISMA, sivitas akademika, serta masyarakat umum. KH Afifuddin Muhajir yang merupakan alumni Pascasarjana UNISMA hadir untuk berbagi pemikiran mengenai Islam, sejarah perjuangan santri, dan kehidupan bernegara.
Dalam pemaparannya, KH Afifuddin menyoroti sejarah Hari Santri yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari perjuangan para kiai melalui fatwa jihad Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
“Para hadirin sekalian, acara kali ini dikaitkan dengan peringatan Hari Santri. Peringatan Hari Santri sesungguhnya adalah peringatan fatwa kiai. Tidak akan ada hari santri seandainya tidak ada fatwa kiai. Yang dimaksud fatwa kiai adalah fatwanya Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari,” ujarnya.
Ia mengaitkan fatwa tersebut dengan lahirnya Resolusi Jihad yang menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya menjelang peristiwa 10 November 1945.
“Maka hari santri esensinya adalah pengakuan negara terhadap fakta sejarah yang selama ini ditutup-tutupi menyangkut peran besar yang dimainkan oleh para santri dan para kiai dalam mendapatkan kemerdekaan negara Republik Indonesia ini,” jelasnya.
Selain membahas sejarah perjuangan santri, KH Afifuddin juga menguraikan hubungan Islam, syariat, dan negara. Ia menjelaskan bahwa agama dan syariat memiliki pengertian berbeda, dengan prinsip agama mencakup keimanan serta nilai-nilai akhlak seperti kejujuran dan keadilan.
“Agama itu satu sedangkan syariat itu lebih dari satu. Agama itu satu, syariat lebih dari satu,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Keagamaan UNISMA, Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd., yang mewakili Rektor, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan komitmen kampus dalam meneguhkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran beragama, bermasyarakat, dan bernegara di kalangan mahasiswa. Termasuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah persaingan global.
KH Afifuddin Muhajir dikenal sebagai pakar fikih dan usul fikih. Ia juga dikenal melalui sejumlah gagasan, di antaranya Islam Nusantara, Manhaj Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah an-Nahdiyah, serta pemikiran mengenai hubungan Islam dan Pancasila.(zul)









