Konservasi Mangrove di CMC Tiga Warna Sasar 10,5 Hektare per Tahun

Konservasi mangrove di CMC Tiga Warna sasar 10,5 hektare per tahun (foto: istimewa)
Konservasi mangrove di CMC Tiga Warna sasar 10,5 hektare per tahun (foto: istimewa)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Program konservasi mangrove di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Kabupaten Malang, menargetkan pengembangan kawasan hingga 10,5 hektare per tahun. Upaya ini diarahkan untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat melalui ekowisata dan budidaya perikanan.

Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, mengatakan konservasi mangrove perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan penanaman simbolis. Dalam kegiatan tersebut, penanaman dilakukan secara simbolis sebanyak 10 pohon, sementara target pengembangan kawasan mencapai 10,5 hektare per tahun.

Andreas mengungkapkan, upaya pelestarian mangrove dapat diintegrasikan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan ekowisata yang dipadukan dengan budidaya perikanan menggunakan sistem silvofishery, yakni metode yang menggabungkan budidaya perikanan dengan pelestarian ekosistem mangrove.

“Pertama, meningkatkan nilai ekonomi melalui integrasi pemanfaatan ekonomi dengan meningkatkan ekowisata yang diintegrasikan dengan budidaya nelayan. Budidayanya menggunakan teknologi yang disebut silvofishery,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi. Warga yang melakukan penanaman dan perawatan mangrove perlu mendapat manfaat ekonomi agar kegiatan pelestarian dapat berjalan dalam jangka panjang.

Andreas juga mendorong agar pengelolaan konservasi tidak hanya memberikan manfaat kepada korporasi, tetapi turut membuka peluang bagi komunitas yang terlibat langsung dalam menjaga kawasan mangrove.

“Tidak hanya perdagangan itu bisa dilakukan oleh korporasi, tetapi juga oleh komunitas. Intinya, mereka yang melakukan konservasi dan perawatan itu bisa mendapatkan manfaat ekonominya,” tambahnya.

Selain menjaga ekosistem pesisir, program tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan konservasi berbasis komunitas yang bisa diterapkan di wilayah lain. Pengembangan serupa berpotensi diperluas ke sejumlah kawasan mangrove, mulai dari Surabaya dan Gresik hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Dalam jangka panjang, Andreas berharap program konservasi berbasis komunitas dapat memenuhi persyaratan untuk terdaftar dalam bursa karbon. Namun, realisasinya masih bergantung pada proses sertifikasi dan ketentuan internasional yang berlaku.

”Pelestarian lingkungan perlu menjadi komitmen bersama berbagai pihak demi menjaga bumi bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (yog)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.