Kota Malang, blok-a.com – Sebanyak delapan cabang olahraga (cabor) bela diri di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang menjalin kerja sama dengan RS Hermina Tangkubanprahu, Jumat (8/8/2025). Kerja sama ini difokuskan pada pelaksanaan Klinik Olahraga, khususnya untuk penanganan cedera atlet secara cepat dan tepat agar dapat segera kembali bertanding.
Wakil Ketua KONI Kota Malang, Wasto, mengapresiasi kerja sama yang terjalin ini. Ia menambahkan penanganan medis yang tepat sangat penting dalam mendukung pemulihan atlet yang mengalami cedera.
“Dengan penanganan yang tepat, maka pemulihan cedera juga cepat. Oleh karenanya kami bersyukur terjalin kerjasama ini, karena atlet ini adalah aset atau bagian dalam membentuk anak-anak berprestasi,” jelasnya.
Melalui kerja sama ini, atlet yang mengalami cedera akan dirujuk ke RS Hermina. Seluruh biaya perawatan akan ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Sehingga, pemulihan atlet bisa terus terpantau dan mampu pulih seperti kondisi sebelum mengalami cidera atau trauma.
“Semisal ada atlet yang cedera, maka pihak cabor membuat rujukan ke RS Hermina Tangkubanprahu. Nantinya, atlet akan segera ditangani sampai pulih dan ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Dan kami juga mendorong cabor-cabor lainnya, bisa melakukan hal serupa dengan RS Hermina,” tambah Wasto.
Direktur RS Hermina Tangkubanprahu, Agnes Widayu Estiningsih, mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk dukungan dalam mewujudkan Kota Malang sebagai kota sport tourism. Ia menambahkan cabor bela diri lebih rentan mengalami cedera saat latihan maupun bertanding.
“Kenapa cabor bela diri terlebih dahulu, karena atlet pada cabor ini memiliki risiko tinggi dengan rata-rata mengalami cedera patah tulang. Dan penanganannya ini dilakukan khusus serta berbeda dengan klinis umum, karena yang dihadapi adalah atlet,” beber Agnes.
Agnes menjelaskan, RS Hermina Tangkubanprahu melalui tim Sport and Wellness Clinic akan menangani cedera atlet secara profesional hingga dinyatakan pulih dan siap bertanding kembali. Tidak hanya secara fisik, Agnes menuturkan pemulihan juga akan meliputi peningkatan mental bagi para atlet yang pernah mengalami cedera.
“Tim ini terdiri dari beberapa dokter spesialis, mulai dokter spesialis ortopedi, dokter fisik dan rehabilitasi medik olahraga, dokter anestesi, fisioterapis hingga psikolog olahraga. Karena saat atlet mengalami cedera, maka ada pikiran ketakutan tidak bisa bermain lagi dan tidak bisa berprestasi, dan itu tugasnya psikolog olahraga untuk memberikan motivasi kepada atlet,” pungkasnya. (yog/bob)









