MALANG – Kesibukan kadang jadi kendala tersendiri merawat anak yang masih bayi. Tidak jarang di kota besar, si ibu maupun ayah sama-sama bekerja. Akhirnya, waktu anak pun banyak bersama kakek-nenek yang mengasuhnya.
Melihat kasus tersebut, terkadang sang nenek tidak memahami pentingnya ASI eksklusif. “Biasanya kalau kedua-duanya sama-sama kerja, akhirnya si bayi ini dititipkan ke neneknya. Nenek ini yang belum banyak faham pentingnya ASI, makanya kita ingin kita edukasi terkait pentingnya ASI eksklusif,” tukas Mahmud Afandi, Nutrisionist Puskesmas Arjowinangun, Sabtu (5/9).
Menyusul hal itu, Puskesmas Arjowinangun pun mempunyai program bernam Kewut Arema atau Kelompok Warga Usia Tua Aktif Responsif Mendukung ASI.
Lewat Kewut Arema, tak hanya ibu muda saja yang diberi edukasi. “Nenek-nenek ini juga kita berikan sosialisasi terkait ASI eksklusif. Kita undang para lansia, kita undang mereka ke Puskesmas untuk sosialisasi,” tambahnya.
Nenek-nenek ini punya peran yang sangat penting. Pasalnya, kenyataan di lapangan yang menunggui bayi banyak sosok nenek ini.
“Jadi itu masalah kompleks, makanya semua sektor, semua lini, coba kita garap semua. Tidak hanya ibu muda saja atau suami yang kita edukasi, harus semua kita berikan penyuluhan, semua yang bersinggungan dengan bayi,” tandasnya.
Dengan adanya edukasi ke semua sektor, diharapkan kasus stunting bisa ditekan. Khususnya di lingkup kerja Puskesmas Arjowinangun.




