Kelurahan Tangguh Jadi Ujung Tombak Mitigasi Bencana di Kota Malang

Penanganan banjir di Kota Malang, Jumat (6/12/2024).(dok. BPBD Kota Malang)
Penanganan banjir di Kota Malang, Jumat (6/12/2024).(dok. BPBD Kota Malang)

Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Kota Malang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat peran masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Salah satunya dengan mengoptimalkan keberadaan Desa Tanggal Bencana (Destana) atau yang biasa disebut Kelurahan Tangguh sebagai ujung tombak mitigasi bencana di tingkat wilayah.

Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, menjelaskan bahwa Kelurahan Tangguh bukan hanya wadah relawan, melainkan strategi penting untuk memastikan setiap komunitas mampu mengenali dan menangani potensi bencana di wilayahnya masing-masing.

“Kelurahan Tangguh ini kami jadikan strategi agar di setiap wilayah bisa melakukan identifikasi potensi bencana. Peta rawan bencana dikenali, kemudian ada edukasi kebencanaan secara reguler. Dengan begitu, masyarakat lebih siap dalam mitigasi, penanganan, hingga pasca bencana,” ujar Prayitno.

Hingga kini, kata Prayitno dari 57 kelurahan di Kota Malang, sebanyak 54 Kelurahan Tangguh telah terbentuk dengan jumlah relawan aktif antara 10 hingga 30 orang per kelurahan. Secara total, terdapat sekitar 570 relawan yang sudah mendapat edukasi, pelatihan, dan simulasi penanganan bencana.

“Jika diasumsikan setiap kelurahan ada sepuluh anggota, makanlah secara akumulatif jumlah seluruh anggota Kelurahan Tangguh mencapai sekitar 500-an orang,” terangnya.

Menurut Prayitno, keberadaan Kelurahan Tangguh sangat membantu BPBD, mengingat keterbatasan jumlah personel maupun peralatan yang dimiliki pemerintah. Relawan yang terlatih bisa segera melaporkan kejadian, melakukan langkah awal penanganan, hingga memberi masukan terkait pembangunan di wilayah masing-masing.

“Kalau biasanya kerja bakti hanya untuk membersihkan jalan, dengan adanya Kelurahan Tangguh, kegiatan gotong royong bisa diarahkan ke mitigasi bencana. Misalnya membersihkan saluran air yang tersumbat sampah agar tidak menimbulkan banjir. Bahkan mereka juga bisa memberi masukan terkait pembangunan plengsengan agar sesuai dengan prinsip mitigasi,” jelasnya.

Prayitno menambahkan, relawan Kelurahan Tangguh bekerja murni atas dasar kepedulian tanpa menuntut imbalan. Oleh karena itu, ia sangat mengapresiasi tinggi seluruh masyarakat Kota Malang yang tergabung dalam Kelurahan Tangguh ini.

“Namanya juga relawan, definisinya adalah seseorang atau komunitas yang mendefinisikan dirinya tanpa menuntut upah,” tutupnya.

Dengan keberadaan Kelurahan Tangguh, Pemkot Malang berharap mitigasi bencana bisa dilakukan lebih cepat dan tepat, sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh warga kota. (yog)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com