Kabupaten Malang, blok-a.com – Sejumlah keluarga korban Tragedi Kanjuruhan mendatangi Stadion Kanjuruhan usai mendapatkan informasi adanya pembongkaran Gate 13.
Kedatangan ke Stadion Kanjuruhan pada Senin (22/7) ini, untuk memastikan bahwa renovasi Stadion Kanjuruhan telah sesuai kesepakatan bersama antara keluarga, dengan Fokopimda Kabupaten Malang Waskita Karya.
Ketua Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK), Devi Athok menerangkan. Kedatangannya ke Stadion Kanjuruhan untuk memastikan bahwa informasi yang didapat benar adanya.
“Ternyata benar, semua (bangunan) pintu 13 dan ruko dibongkar. Ini tidak sama dengan kesepakatan awal waktu kami audiensi bersama Waskita Karya tanggal 28 Mei 2024 dulu,” kata Devi saat dikonfirmasi Blok-a.com, Senin (22/7/2024).
Lebih lanjut, Devi menerangkan bahwa kesepakatan awal hanya dilakukan penguatan struktur empat tiang.
Namun menurutnya, untuk melakukan penguatan tersebut tidak harus melakukan pembongkaran tembok gate yang menjadi saksi bisu tragedi nahas 1 Oktober silam.
“Karena kan kalau masalah museum tidak dirubah-rubah. Nanti dibikinkan kaca pelindung di depannya bukan dibongkar,” katanya.
Sejumlah bangunan yang tersisa, kata Devi, hanya tangga di dalam gate 13, beberapa besi penyangga, serta bangunan toilet.
“Kami juga temukan sepatu-sepatu (yang dikenakan korban saat tragedi kala itu) masih ada,” tambahnya.
Ia berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang bersama Waskita Karya selaku penggarap proyek dapat memberikan penjelasan terhadap perkara ini.
“Kami minta penjelasan dari Waskita Karya, renacanya kami Rabu atau Kamis depan akan bertemu untuk menyelesaikan persoalan ini,” terangnya.
Penjelasan Waskita Karya
Terpisah, Kepala Engineer Waskita Karya, Dhimas Septian Permana menerangkan, bahwa alasan pembongkaran dikarenakan memang harus dilakukan. Sebab, menurutnya memang perlu dilakukan pembongkaran tembok jika diperlukan penguatan.
“Pertama dari segi metode dan perencanaannya, itu kan di bawah dinding ada pondasi dan di sekelilingnya dinding di kanan kirinya ada kolom, di atas ada balok. Yang di mana masing komponen yang saya sebutkan tadi ada perkuatan,” jelas Dhimas.
“Di mana perkuatan itu ada pembesaran, kita melakukan pembesaran itu otomatis elemen dinding itu dihilangkan dulu. Kalau tidak dihilangkan, istilahnya kalau dipaksa untuk tidak dihilangkan maka malah beresiko dan tetep ambruk,” sambungnya.
Sejumlah bangunan yang dipertahankan, yakni tangga dan toilet. Sedangkan untuk pintu dan rolling door yang telah dibongkar akan dipasang kembali usai dilakukan penguatan.
“Pintu kita pindahkan dulu, kita amankan dulu karena di sekeliling pintu ditopang kolom, dipindahkan bukan merusak pintu. Jadi pintunya tetap aman wujudnya, setelah diperkuatkan kita kembalikan semula sesuai permintaan keluarga,” tutupnya. (ptu/gni)









