Kalah Saing dengan Pabrikan, Sarung Tenun Tradisional Produksi Malang Kehilangan Pelanggan

Saifudin sedang menenun kain sarung di industri rumahan milik Ridho di Jalan Indrokilo Selatan, Lawang Kabupaten Malang. (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)
Saifudin sedang menenun kain sarung di industri rumahan milik Ridho di Jalan Indrokilo Selatan, Lawang Kabupaten Malang. (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Nasib perajin sarung tenun tradisional di Jalan Indrokilo Selatan, Lawang, Kabupaten Malang tengah terombang-ambing.

Pasalnya, usaha yang ditekuni selama puluhan tahun tersebut kini mulai terancam oleh adanya mesin-mesin canggih pencetak sarung ternama.

Sarung tenun buatan tangan ini tergeser produksi pabrikan yang memasarkan harga jauh lebih terjangkau.

Selain itu, sarung produksi pabrikan menawarkan warna lebih beragam hingga menyedot banyak pelanggan.

Pekerja industri rumahan sarung tenun milik Muhammad Ridho ini pun kelimpungan.

Baca Juga: Kisah Kastubi Meraih Cuan Besar dari Ternak Cacing

Salah satu penenun, Saifudin (67) menceritakan kesehariannya bekerja di perusahaan yang telah berdiri sejak puluhan tahun itu kepada blok-a.com, Selasa (14/3/2023).

Saifudin mengatakan, dalam dua tahun terakhir ini, ia mulai kebingungan dengan keberlangsungan usaha yang selama ini jadi tumpuannya.

Bagaimana tidak, sudah sejak dua tahun lalu, pesanan sarung tradisional di tempatnya bekerja semakin hari kian menurun.

Namun, meskipun begitu, pria yang tak lagi muda ini tak lagi dapat berbuat banyak. Ia hanya mengandalkan panggilan dari mandornya untuk kembali bekerja lagi.

Bahkan, beberapa saat yang lalu, dirinya dan kawan-kawan senasibnya sempat diberhentikan sementara karena tidak lagi ada garapan.

“Kadang benangnya habis, kadang catnya habis, kadang semua lengkap tapi tidak ada pesanan. Jadi ya terpaksa diliburkan. Nanti dipanggil lagi kalau ada pesanan,” ucap pria lansia itu dengan sesekali mengusap keringat di dahinya yang mulai keriput.

Meskipun umur tak lagi muda, namun semangatnya tak pernah padam.

Tak mudah tentunya. Perlu ketelatenan dan ketelitian untuk menyusun setiap helai demi helai benang dari berbagai warna.

Untuk menghasilkan karya sempurna, Saifudin harus mempertahankan benang agar tidak putus. Jika satu benang putus maka pekerjaannya akan lebih rumit lagi karena harus mencari sambungan benang sebelumnya.

Pria yang telah terjun di dunia tenun sejak umur 18 tahun itu kini hanya bisa menyelesaikan dua buah sarung setiap harinya, tentunya dengan kualitas premium.

Meskipun kualitas yang dihasilkan premium, namun upah yang dihasilkan itu tak seberapa.

Dirinya hanya menerima upah Rp45 ribu persarungnya, alias dalam satu hari dirinya hanya mendapat upah Rp 90ribu. Itu pun, jika ada panggilan kerja dari mandor.

“Tetap di syukuri saja, 45 ribu itu satu buah. Tapi kalau gak ada panggilan ya gak kerja,” tuturnya lirih.

Saifudin kini hanya bisa berharap peminat sarung tenun tradisional muncul kembali. Sehingga, ia dan para penenun lain tak lantas kehilangan mata pencaharian mereka begitu saja. (ptu/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?