blok-a.com – Pemerintah Jepang akan meyetarakan status Covid-19 dengan flu musiman biasa mulai 8 Mei 2023 nanti.
Langkah itu diambil Pemerintah Jepang untuk membuka jalan guna menormalisasi penuh kegiatan sosial dan ekonomi.
Di Jepang, Covid-19 saat ini ditetapkan sebagai kategori khusus yang setara atau lebih ketat dari kelas 2. Yang mencakup penyakit menular seperti tuberkulosis dan sindrom pernapasan akut yang parah, atau SARS, berdasarkan undang-undang negara itu.
Di bawah aturan pembatasan saat ini, semua orang yang datang ke Jepang harus menunjukkan sertifikasi telah menerima setidaknya tiga dosis vaksinasi Covid-19 atau hasil negatif tes virus corona, yang diambil dalam waktu 72 jam setelah keberangkatan.
Baca Juga: Kasus Covid-19 di Jatim Naik Lagi, Prokes Jangan Ditinggalkan!
Pakar penyakit menular di panel ahli Kementerian Kesehatan Jepang melaporkan bahwa sekitar 8.400 institusi medis, yang terdiri dari 90 persen rumah sakit nasional dan klinik, siap menerima hingga 58.000 pasien Covid-19.
Sekitar 44.000 institusi kesehatan dapat menerima pasien rawat jalan, naik dari kapasitas 42.000 pasien saat ini.
Pemerintah mengatakan akan mengklasifikasikan ulang COVID-19 ke penyakit kelas 5, seperti flu musiman, mulai 8 Mei.
Dengan begitu, tanggungan pemerintah untuk biaya medis terkait virus corona untuk rawat jalan dan rawat inap juga akan berakhir, kecuali untuk perawatan mahal.
“Langkah khusus telah diambil pemerintah dalam menanggapi virus corona baru yang akan berakhir pada 7 Mei,” kata Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang Katsunobu Kato dalam konferensi pers, dilansir via Antara, Kamis (27/4/2023).
Namun, beberapa pakar penyakit menular mewanti-wanti tentang kembalinya norma pra-pandemi.
Mereka menekankan perlunya orang tua dan orang lain yang rentan terhadap virus corona untuk terus memakai masker.
“Masih ada risiko tinggi jika orang-orang mulai keluar seperti yang mereka lakukan sebelum pandemi virus corona,” kata Tetsuya Matsumoto, seorang profesor penyakit menular di International University of Health and Welfare.
Pada awal April, sekelompok ahli di panel penasehat kementerian kesehatan juga memperingatkan bahwa Jepang dapat menghadapi “gelombang kesembilan” pandemi virus corona yang bahkan lebih parah dari yang sebelumnya.
Sementara menteri kesehatan mencatat peningkatan kasus baru COVID subvarian XBB.1.5.
Selama lonjakan infeksi terakhir, atau gelombang kedelapan yang terjadi sejak akhir November hingga akhir Januari, lebih dari 7,5 juta kasus COVID-19 dilaporkan, menurut kementerian kesehatan.(lio)










Balas
Lihat komentar