Indonesia Hasilkan 68,5 Juta Ton Sampah Plastik, Khofifah Ajak Masyarakat Bergerak

Dok. Gubernur Khofifah saat meninjau tempat pembuangan akhir, untuk pengolahan sampah plastik daur ulang.
Dok. Gubernur Khofifah saat meninjau tempat pembuangan akhir, untuk pengolahan sampah plastik daur ulang.

Surabaya, blok-a.com – Sampah plastik merupakan salah satu penyebab pencemaran lingkungan terbesar di dunia.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (sipsn.menlhk.go.id), di 2022 Indonesia menghasilkan 68,5 juta ton sampah dan 18,5% di antaranya berupa sampah plastik.

Bahaya pembuangan sampah plastik ke laut senduri telah diproyeksikan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) bahwa pada 2040 akan ada 29 juta ton plastik masuk ke ekosistem perairan.

Bahkan, dalam pertemuan United Nations Environment Assembly (UNEA-5.2) pada 2 Maret 2022 di Nairobi, Kenya, sebanyak 175 perwakilan dari negara-negara di dunia menyatakan dukungan dan kesepakatan internasional untuk mengakhiri polusi plastik.

Sampah plastik sudah menjadi isu global. Pada dasarnya kesadaran pengurangan penggunaan plastik ini sudah terasa di berbagai elemen masyarakat.

Untuk itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat untuk bergerak bersama melakukan aksi nyata mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (Reduce, Reuse, Recycle) plastik untuk kehidupan sehari-hari.

Hal ini sesuai dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023 yang diperingati setiap tanggal 5 Juni yakni Solusi untuk polusi plastik (Solutions to Plastic Pollution).

Tema ini memberikan penegasan bahwa polusi plastik menjadi ancaman nyata yang berdampak pada setiap komunitas di seluruh dunia.

Untuk penanganan sampah plastik ini harus dilakukan dalam satu siklus penuh, mulai dari sumber sampai pada tahap akhir. Yakni mulai dari penggunaan produk dari bahan yang bisa didaur ulang dan digunakan kembali sampai dengan mencegah pembuangannya terutama ke laut.

“Resolusi Plastik ini langkah besar dalam upaya dunia memerangi polusi plastik, mengingat plastik ikut berperan dalam tiga jenis krisis yaitu perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, serta polusi,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Khofifah, diperlukan berbagai upaya mengurangi sampah plastik ini bisa dilakukan melalui kegiatan sehari-hari.

Seperti membawa kantong atau tas belanja sendiri, membawa tempat makan atau botol minuman sendiri ketika membeli makanan dan minuman, tidak menggunakan sedotan plastik, dan melakukan pemilahan sampah rumah tangga.

Aksi pengurangan sampah plastik ini menurutnya harus dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga. Caranya memilah sampah dari organik dan plastik yang bisa diolah seperti botol-botol, dan sampah yang tidak bisa diolah.

“Pemilahan sampah salah satunya dengan mengelola sampah secara mandiri melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle),” katanya.

“Program Bank Sampah di Jatim sudah jalan dan warga menyetorkan berbagai jenis sampah seperti botol plastik, botol kaca, atau kardus ke bank sampah. Nanti hasilnya bisa ditukar dalam bentuk uang tunai,” katanya.

Ke depan, Khofifah optimis pengurangan penggunaan sampah plastik sekali pakai akan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.(kim/lio)