KOTA BATU – Berbagai macam produk musik dari penjuru negeri rasanya lengkap ada di Museum Musik Dunia, Jatim Park 3. Ribuan piringan hitam dari lagu-lagu lawas disini juga masih tersimpan dan berfungsi dengan baik.
“Masih berfungsi semua, masih bisa dimainkan semua,” tutur Dio, Kapten Museum Musik Dunia.
Piringan hitam atau yang lebih dikenal dengan Vinyl Record sendiri merupakan media untuk merekam dan memutar musik. Penggunaannya sempat ramai di era 1800-an sampai 1980-an sampai radio digunakan untuk komersil.
Piringan hitam sendiri merupakan medium pemutar suara pertama di dunia. Tokoh yang berperan dalam penemuan piringan hitam ini adalah Thomas Alfa Edison dan Emile Berliner.
Piringan hitam sendiri memerlukan alat putar khusus, yang disebut dengan Turntable. Untuk dapat memutar piringan hitam, diperlukan pemahaman khusus pada turntable seperti penempatan jarum, setting tonearm, kabel, dan sebagainya.
Di Museum Musik Dunia, spot piringan hitam bisa ditemukan di dua tempat, yakni di lantai 2 dan di lantai 3. Di lantai 2, pengunjung akan merasakan suasana duduk di bar sambil diputarkan piringan hitam dari musisi-musisi lawas seperti Frank Sinatra, Louise Armstrong, dan masih banyak lagi.
“Kualitas suara yang dihasilkan dari putaran piringan hitam ini paling tinggi dibanding medium lainnya,” tutur Dio.
Suasana klasik makin terasa dengan ornamen-ornamen ala 1960-an yang diatur di zona tribut ini. Vinyl record yang ada disini juga sudah terhitung canggih dengan listrik.
Sedangkan di lantai 3, pengunjung dapat melihat Vinyl yang lebih lawas lagi dari jaman Thomas Alfa Edison. Pengoperasiannya hanya menggunakan mekanik mesin tanpa listrik sama sekali.
Penasaran dengan bagaimana pengalaman mendengarkan musik memalui piringan hitam? Yuk, ke Museum Musik Dunia aja!










Balas