Dua Keluarga Pengemis di Kota Surabaya Dipulangkan Satpol PP

Pasukan Pasopati Satpol PP Kota Surabaya saat bersih bersih bangunan kumuh dan pengemis di Kota Surabaya (sumber foto: Humas Pemkot Surabaya for blok-a.com)
Pasukan Pasopati Satpol PP Kota Surabaya saat bersih bersih bangunan kumuh dan pengemis di Kota Surabaya (sumber foto: Humas Pemkot Surabaya for blok-a.com)

Surabaya, blok-a.com- Pengemis yang mangkal di traffic light (TL) seputaran Jalan Pucang Surabaya, akhirnya diangkut Satpol PP Kota Surabaya.

Mereka teridentifikasi dua keluarga, terdiri dari orang tua dan anak-anaknya. Penertiban sendiri dilakukan sejak Kamis (6/7/2023) pada selang waktu yang berbeda, yakni pukul 15.00 WIB dan pukul 23.15 WIB.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto mengatakan, Satpol PP Surabaya rutin menertibkan para Penyandang Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di Kota Pahlawan, untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat. 

“Setiap hari Satgas pedestrian ada Tim TL untuk melakukan operasi penertiban terkait dengan pengamen, pemulung, maupun pedagang asongan,” kata Eddy, Jumat (7/7/2023).

Saat itu dia menerima laporan warga terkait keberadaan dua keluarga pengemis berikut gerobak dan becak berisi hasil pungut sampah di seputaran traffic light Jalan Pucang Surabaya.

Dari situlau Satpol PP Surabaya bergerak melakukan pemantauan selama 1×24 jam.

“Kita dapat info ada dua gerobak yang setiap hari muncul di situ. Akhirnya ditemukan gerobak dan becak, yang satu keluarga pengemis itu ditertibkan jam 15.00 WIB. Serta, keluarga pengemis lainnya kita tertibkan jam 23.15 WIB,” ungkapnya.

Dari hasil penertiban tersebut, kedua keluarga tersebut merupakan warga non (luar) Surabaya. Dengan rincian, satu keluarga yang terdiri dari orang tua dan 3 orang anak ditertibkan pada pukul 15.00 WIB. Sedangkan keluarga kedua, terdiri dari orang tua dan 4 orang anak yang ditertibkan pada pukul 23.15 WIB. 

“Mereka kita kirim ke Liponsos di Dinsos Provinsi Jawa Timur untuk proses pemulangan mereka ke daerah asal. Satu keluarga luar Surabaya sudah dipulangkan, sedangkan satu keluarga lainnya masih kita beri pendampingan,” tukasnya. 

Untuk gerobak dan becak telah diamankan di kantor Satpol PP Surabaya. Gerobak milik keluarga pengemis itu dipakai ranjang tidur anak-anaknya, selain itu untuk memulung. Sedangkan becak, digunakan pengemis lainnya untuk memulung.

“Bisa diambil kembali asal tidak dipakai mengemis lagi,”  tegasnya.

Untuk itu, 100 personel Pasukan Sobo Ratan atau pasukan sepeda di pedestrian, 10 personel memakai sepeda motor di traffic light tiap hari diturunkan.

Satpol PP Surabaya juga telah memetakan 17 titik rawan dengan menerjunkan Tim Badranaya yang bertugas di setiap wilayah Surabaya, selain itu juga dibantu dengan kecamatan

“Titik rawan ada di kawasan traffic light Jembatan Mayangkara, Jalan Pucang, Jalan Dupak, Jalan Jagir, Jalan Tuwowo, dan Jalan manyar, itu yang sering muncul PPKS,” terangnya.

Masyarakat juga diimbau memanfaatkan Command Center 112, apabila menemukan PPKS di kawasan Kota Pahlawan. Seperti, pengemis, pengamen, maupun orang-orang memakai gerobak untuk memulung atau tunawisma. 

Dalam Perda nomor 2 tahun 2014 yang diperbaharui Perda nomor 2 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum, bahwa setiap orang dilarang beraktivitas sebagai pengamen, pedagang asongan, dan/atau pengelapan mobil di jalanan, persimpangan, jalan tol dan/atau kawasan tertentu yang ditetapkan lebih lanjut oleh kepala daerah.

“Siapa yang memberi akan akan dikenai sanksi. Laporkan ke 112 untuk kita lakukan tindakan. Selanjutnya, kalau penduduk luar Surabaya akan dipulangkan. Jika warga Surabaya harus kita outreach dulu, kenapa jadi tunawisma,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-P2KB) Surabaya, Ida Widayati, mengatakan DP3A-P2KB langsung bergerak cepat mengirim konselor UPTD PPA untuk melakukan pendampingan.

“Ternyata mereka bukan penduduk Surabaya. Maka kami beri pendampingan ke orang tuanya mengenai pola asuh anak. Maka kami sampaikan bahwa mempekerjakan anak sebagai pengemis itu ada hukumannya,” kata Ida.

Oleh sebab itu, DP3A-P2KB segera berkoordinasi dengan Dinsos Provinsi Jawa Timur untuk pemulangan dua keluarga pengemis ini. Satu keluarga pengemis sudah dipulangkan, satunya masih di Liponsos. 

“Mereka ini tidak memiliki dokumen apapun, maka tadi dilakukan proses biometrik di Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil) Surabaya,” pungkasnya.

(kim)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?